
Selamat membaca!
Pagi ini tampak berbeda dari pagi-pagi lain sejak aku berada di tahanan selama 4 tahun lamanya. Ya, tepat hari ini aku akan menghirup udara bebas dan memulai hidupku yang baru. Tentu saja aku sudah banyak berubah, tak lagi mendendam dan telah benar-benar rela dengan kebahagiaan Almira dan Mas Denis.
Sebelum keluar dari penjara, aku tetap mengikuti apel pagi yang biasa aku lakukan di hari Senin. Saat ini, aku sudah tak lagi mengenakan pakaian tahanan seperti biasanya. Aku mengenakan pakaian yang diberikan oleh Delano dan semua narapidana terdengar memuji kecantikanku.
Setelah upacara selesai, Bu Widya sebagai kepala lapas menyampaikan kata perpisahan untuk melepasku dan dua orang narapidana lainnya yang juga hari ini mencapai akhir masa tahanan. Pelepasan ini layaknya sebuah inaugurasi. Seolah kami di wisuda, lulus, dan menjadi mantan narapidana. Aku pun tersenyum miris mengingat masa lalu yang membuatku harus berada di tempat ini. Namun di sini jugalah, aku menyadari bahwa seorang wanita juga harus memiliki harga diri dan mandiri secara finansial dengan memiliki keahlian yang bisa diandalkan untuk menopang hidupnya. Bukan dengan mengandalkan kemolekan tubuh dan kecantikan wajah saja seperti yang aku lakukan sebelumnya. Selama ini aku sering salah memilih jalan hidupku dan itu akan jadi sebuah pelajaran agar aku tak lagi terjerat dalam kesalahan yang sama.
Setelah sempat berkutat dengan kenangan buruk di masa lalu, aku pun mulai menyalami satu persatu teman-teman di sel tahanan ini. Aku berpamitan kepada mereka dengan penuh haru.
"Jaga diri kamu di luar sana ya, Lissa!" Reni memelukku erat. Dia jadi orang paling terakhir yang aku salami. Sahabat terbaik selain Hana yang membuatku merasa begitu sedih karena harus berpisah dengannya.
"Iya, Ren. Aku janji akan sering mengunjungimu ke sini. Pokoknya hubungan persahabatan kita tidak akan putus sekalipun aku keluar dari penjara." Perkataan itu entah kenapa membuat tangisan Reni semakin terisak. Namun, aku harus menguatkannya, walau sebenarnya aku sendiri juga merasakan kesedihan yang sama sepertinya.
__ADS_1
"Ren, jangan sedih ya! Kamu pasti bisa menjalani sisa masa hukumanmu. Lagi pula satu tahun lagi kamu kan bebas. Jadi, nanti setelah kamu bebas, kita akan kembali bersama-sama lagi. Ada kamu, aku, dan juga Hana." Aku mengurai pelukannya. Mengusap air mata di kedua pipi Reni secara bergantian hingga seulas senyuman mulai terlihat di wajahnya yang sendu.
Setelah upacara pagi, aku pun dipanggil secara khusus ke ruangan Bu Widya. Di dalam ruangan itu dia sudah menungguku bersama seseorang yang tidak aku kenali.
"Duduklah, Lissa! Perkenalkan ini wartawan yang akan mewawancarai kamu sebagai pimpinan rumah produksi LFC. Sebagaimana kita tahu barang-barang kerajinan tangan yang dihasilkan dari ruang produksi LFC sampai merambah ke mancanegara. Saya juga sudah memberi tahukan kepada wartawan ini bahwa rumah produksi itu beroperasi di bawah pengawasan dan kepemimpinanmu. Jadi, silakan kalian berdua duduk di sofa dengan rileks untuk berbincang-bincang sebentar sebelum kamu keluar dari lapas ini." Bu Widya memberi tahuku dan tentu saja aku tidak menyangka jika semua barang hasil kerajinan itu ternyata diminati sampai ke mancanegara.
Tak ada obrolan berat, wartawan itu hanya mewawancaraiku seputar ide rumah produksi dan bagaimana rumah produksi itu dijalankan dari dalam sel tahanan. Aku pun lebih banyak menyampaikan tentang kegiatan di rumah produksi dan barang-barang kerajinan yang kami hasilkan. Namun, saat dia menanyakan asal usulku, aku lebih memilih untuk tidak menjawabnya. Aku hanya mengatakan bahwa aku hanyalah seorang mantan narapidana yang berusaha memperbaiki diri dengan berbekal keterampilan yang diajarkan selama menjalani masa tahanan. Untuk saat ini, aku tidak ingin orang luar sampai tahu tentang masa laluku yang berhubungan dengan Mas Denis dan Almira. Biarlah aku dikenal hanya sebagai seorang mantan narapidana yang bergelut dalam bidang crafting dan memimpin sebuah rumah produksi yang dijalankan oleh para narapidana wanita hingga menghasilkan barang-barang bernilai estetika.
"Jaga diri kamu di luar sana ya, Lissa! Ingat! Jangan sampai kamu terlibat lagi dalam masalah hukum ya! Kamu harus jadi lebih baik dan manfaatkan potensi yang ada dalam diri kamu untuk bisa maju dalam hidup."
Setelah mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Bu Widya, aku pun pamit, walau dengan sisa air mata yang masih tertinggal di kedua pipiku. Di depan ruangan, ternyata sudah ada seorang petugas yang akan mengantarku keluar dari lapas tahanan ini melalui pintu utama. Aku mulai melangkah dengan perlahan. Menatap ke depan dengan penuh keyakinan tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Bukan karena merasa benci dengan tempat ini, tetapi aku harus yakin untuk terus melangkah maju dalam hidupku.
Ketika petugas itu membuka pintu gerbang utama, tak lupa dia juga menyalamiku dan mengucapkan selamat atas kebebasanku. Setelah pintu gerbang ditutup, aku menatap jalan yang ada di depanku sambil merentangkan tangan selebar-lebarnya ke atas untuk menghirup udara bebas yang selama 4 tahun ini tidak bisa aku nikmati.
__ADS_1
"Akhir aku sudah bebas. Terima kasih, Tuhan! Terima kasih atas kesempatan ini. Kedepannya aku janji akan jadi orang yang lebih baik."
Di saat aku baru selesai bersyukur dalam hati, tiba-tiba suara yang tak asing di telingaku terdengar memanggil. Suara itu begitu akrab dan tentu saja langsung mengingatkan pada seseorang yang aku kenal.
"Kenapa dia ada di sini?" Aku mulai berbalik. Melihat ke arah sumber suara yang seketika membuat kedua mataku terbuka lebar. Tentu saja aku tidak menyangka jika dia datang ke sini. Di hari, di mana aku dibebaskan. Apa sebenarnya maksud kedatangannya? Setidaknya pertanyaan itulah yang langsung memenuhi isi pikiranku.
Bersambung ✍️
...Halo, Bestie. Author mau promosi nih, novel Author yang sudah tamat, Suamiku Calon Mertuaku. Pastinya seru deh kalau kalian ikutin! Ditunggu komentarnya ya di sana. Terima kasih semua....
...Novel ini menceritakan tentang pernikahan seorang wanita yang harus gagal karena ditinggal oleh calon suaminya dan akhirnya calon mertuanya yang menggantikan posisi sang anak. Penuh dengan plot twist yang pastinya menarik....
__ADS_1