
Selamat membaca!
Tak berapa kemudian, sosok wanita yang telah melahirkan aku pun keluar dan seulas senyuman bahagia terulas jelas menghiasi wajahnya yang sudah tak lagi muda dan penuh lipatan keriput. "Lissa, Mira? Ibu kira siapa yang datang. Soalnya dari dapur Ibu seperti dengar ada dua suara mobil berhenti di depan rumah."
Ibu pun langsung menghampiriku dan juga Almira. Dia terlihat antusias menyambut kepulangan kami berdua.
"Mira, kamu sudah sembuh, Nak? Untung saja Lisa mengabari Ibu kalau kamu sakit dan dirawat di rumah sakit. Pantesan Ibu tunggu kamu enggak pulang-pulang. Makanya jangan telat makan biar asam lambungmu enggak kumat." Dengan wajah cemas, ibuku menggandeng tangan Almira dan membimbingnya masuk ke rumah sambil bicara penuh rasa khawatir.
Aku mencibir iri melihat perhatian ibu pada Almira. Selalu saja aku di nomor duakan. Segala perhatian dan rasa khawatirnya hanya untuk Almira, anak kesayangan ibu itulah julukan yang tersemat untuk adik kembarku itu. Ya, meskipun aku adalah tulang punggung keluarga, di mata ibu Almira tetap yang utama. Mendadak hatiku kian bersedih karena merasa tak diperhatikan oleh ibu kandungku sendiri. Beruntung aku mendapat curahan perhatian dan cinta yang penuh dari Mas Denis. Pria yang selalu akan menjadi milikku dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun merampas kebahagiaanku.
Begitu masuk ke dalam rumah, aku duduk di kursi tua yang ada di ruang tamu. Sementara Almira langsung disuruh ibu berbaring di sofa panjang satu-satunya yang ada di ruangan ini.
__ADS_1
"Kelihatannya kamu masih lemas, istirahatlah dulu, Mira. Sudah minum obat belum? Eh, kamu enggak dibawakan obat dari rumah sakit." Ibu memeriksa paper bag yang Almira bawa pulang yang isinya memang hanya baju kotornya saja.
"Ini obatnya ada sama aku, Bu." Aku langsung menyodorkan pada ibu kantong plastik berisi obat yang ditanyakannya.
Ibu pun segera menerima kantong obat itu dan meletakkannya di atas meja. "Nanti setelah makan siang, diminum obatnya ya!" titah ibuku sembari tersenyum pada Almira dan dijawab dengan anggukan kepala oleh anak kesayangannya itu.
Ibu pun menoleh padaku, "Tadi itu bagaimana ceritanya sampai kalian naik dua taksi yang berbeda? Bukannya kamu menjemput adikmu, Lisa?" Ibu bertanya sembari menatapku penuh tanda tanya.
"Tadi itu taksi online yang aku pesan datangnya terlambat. Sementara Mira masih enggak kuat lama-lama menunggu. Jadi, aku minta dia pulang duluan naik taksi yang baru menurunkan penumpang tepat di depan lobi rumah sakit. Makanya, terpaksa kita pulang terpisah karena aku enggak tega cancel orderan taksi yang aku pesan gara-gara sopirnya bilang kalau pesanannya dibatalkan, nanti akunnya malah susah dapat orderan." Aku menjelaskan dengan santai kepada ibu, walau jawaban itu baru saja aku karang secara mendadak.
Sementara aku ngobrol dengan ibu, aku melihat Almira memejamkan mata, entah dia memang benar ingin tidur atau hanya pura-pura tidur karena masih ada aku di rumah.
__ADS_1
Setelah dua jam bersantai di rumah ibu, aku pun memutuskan untuk berpamitan pada ibu untuk pulang begitu taksi yang aku pesan datang dan saat itu, aku melihat Almira sudah tertidur dengan lelap di kamarnya.
Sebelum pulang ke rumah aku memilih untuk singgah sejenak di sebuah cafe. Aku butuh me time untuk menormalkan suasana hatiku yang buruk hari ini. Aku tidak mau saat Mas Denis pulang nanti kondisiku masih kacau. Bisa-bisa dia malah curiga nantinya.
Saat memasuki cafe, aku pun memilih duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan. Aku duduk menghadap dinding kaca yang bisa memantulkan bayangan orang yang berada di belakangku. Setelah memesan minuman dan sepotong cheese cake pada seorang pelayan yang menghampiri, aku memainkan ponselku sambil membaca berita online.
Bersamaan dengan datangnya pesananku, tanpa sengaja aku melihat bayangan seseorang di belakangku. Sepertinya aku kenal dengan orang itu. Aku pun terus memperhatikannya, seorang pria yang mengenakan kemeja hitam dari balik kacamata dan masker yang belum aku lepas.
"Siapa ya? Sepertinya wajahnya tidak asing." Aku berusaha mengingat-ingat siapa pria itu. Akhirnya setelah pikiranku sempat buntu, memoriku berhasil menemukan file tentang sosok pria itu dalam ingatanku. Ya, dia adalah asisten Mas Denis yang pernah dikenalkannya padaku. "Mau apa ya dia ke sini di jam kerja?" Pria itu pun tampak sedang menerima telepon dari seseorang dan membuatku semakin penasaran. Namun sayangnya, jarak kami cukup jauh hingga aku tak bisa menguping apa yang sedang dibicarakannya melalui sambungan telepon.
Tak ingin menduga-duga, aku terus mengamati gerak-gerik asisten Mas Denis dari dinding kaca yang ada di depanku. Saat ini, aku benar-benar penasaran atas apa yang dia bicarakan. Sampai akhirnya, aku dibuat tercengang saat seseorang dari masa laluku datang menghampirinya. Dengan cepat aku mengambil buku menu untuk menutupi wajahku. Meskipun kacamata dan masker masih aku kenakan, tetap saja aku tidak mau mengambil risiko hingga bisa dikenali oleh orang itu.
__ADS_1
"Untuk apa dia menemui asisten Mas Denis? Apa mereka memang saling mengenal dan ada urusan bisnis di sini?" batinku penasaran karena orang dari masa laluku itu adalah pria yang pernah menjadikan aku simpanannya dalam waktu yang cukup lama. Namanya Fadhly, seorang pengusaha yang sudah beristri.
Bersambung ✍️