Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Berubah


__ADS_3

Selamat membaca!


Perjalanan menuju ke rumah Mas Denis dari Cafe hanya memakan waktu sekitar 40 menit. Itu pun karena jalanan memang sedang tidak dalam kondisi macet. Begitu mobil tepat berhenti di teras rumah, aku pun keluar dan mulai mengedarkan pandangan ke seluruh taman yang memang tersedia di depan rumah.


Dulu aku memang sering duduk di ayunan yang ada di sudut taman untuk menghirup udara pagi atau memandangi sinar jingga di langit menjelang senja. Momen itu berputar secara tiba-tiba dalam pikiranku. Momen saat aku begitu kagum dengan rumah ini ketika pertama kali Mas Denis membawaku sebagai istri dan ratu di istana yang memang dia bangun untuk tempat tinggal bersama wanita pilihannya.


"Lissa, kamu kenapa melamun?"


Teguran dari Mas Denis seketika menyadarkanku dari lamunan. "Enggak apa-apa, Mas." Aku pun mulai menghampiri Mas Denis yang tengah menunggu di depan pintu rumah.


Saat pintu terbuka, aku dapat melihat Inah membuka pintu dan menyambut kedatanganku dengan ramah. "Mbak Mira, akhirnya Mbak pulang. Kasihan Keisha dari tadi nangis terus, Mbak. Dia sekarang baru saja tidur setelah menangis sejak pagi tadi."

__ADS_1


"Inah, dia bukan Mira, tapi Lissa." Mas Denis pun memberi tahu Inah yang seketika langsung terkejut. Dia pasti tak pernah menyangka jika aku akan datang kembali ke rumah ini. Bahkan kedua matanya kini tampak memindai penampilanku dari kepala hingga ujung kaki.


"Ya ampun, Ibu. Maafin Inah ya karena enggak ngenalin Ibu." Inah begitu canggung terhadapku, terlebih saat dia salah mengenaliku.


"Iya, Mbak, enggak apa-apa. Mbak apa kabar?"


Inah tersentak kaget. Wajahnya semakin terkejut saat mendengar ucapanku. Sepertinya Inah tidak mengira jika aku akan menjawab perkataannya dengan lebih sopan dan sangat berbeda dari saat dulu ketika aku lebih sering hanya memanggil namanya saja.


"Ayo silakan masuk, Lissa!"


Aku pun mengikuti Mas Denis yang mulai melangkah menuju anak tangga sambil terus melihat seisi rumah yang menurutku sudah banyak berubah. Sepertinya Almira banyak mengganti furniture dan memindahkan tata letak di ruang tamu ini hingga apa yang aku lihat saat ini begitu berbeda dari sebelum aku pergi. Tanpa bertanya pada Mas Denis, aku sudah dapat menebak jika tujuannya pasti adalah kamar putrinya yang berada di lantai atas rumah ini. Namun, sebelum melihat Keisya, aku memutuskan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di dapur.

__ADS_1


"Mbak, permisi ya saya mau cuci tangan dulu." Aku masih menunggu jawaban dari Inah yang tiba-tiba melongo setelah mendengar ucapanku. Sementara Mas Denis tampak menungguku tanpa beranjak dari posisinya.


"Silakan, Bu! Lagian dulu Ibu kan pernah tinggal di sini. Jadi, pasti hafal di mana letak dapurnya." Inah mulai menatapku dengan heran. Kedua matanya masih terus melihatku, mengikuti ke mana langkahku pergi.


"Ya, itu kan dulu, Mbak. Waktu saya tinggal di sini. Sekarang ini kan saya datang sebagai tamu dan Mbak yang tinggal di sini adalah tuan rumah juga. Jadi, saya harus minta izin sama Mbak sebelum melakukan apa pun di rumah ini." Aku tersenyum ramah menjawab keraguan dari Inah. Mungkin dia mengingat bagaimana perlakuanku kepadanya dulu yang sering bersikap semaunya.


Diiringi tatapan heran dari Inah, aku berjalan menuju dapur dan mencuci tangan di wastafel. Aku pikir untuk memegang bayi berusia 2 tahun seperti Keisha, kedua tanganku harus sudah steril dan bersih.


"Makasih ya, Mbak." Setelah memastikan kebersihan tanganku, aku kembali berjalan menyusul langkah Mas Denis yang baru saja kembali menaiki anak tangga.


Sampai akhirnya, suara tangisan dari Keisha membuat Mas Denis langsung berlari menuju kamar putrinya. Sama seperti aku, pasti Mas Denis merasa cemas dan penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan Keisha sampai suara tangisannya terdengar begitu keras dan terisak secara tiba-tiba.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2