Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Di Luar Dugaan


__ADS_3

Selamat membaca!


Sudah hampir 5 menit, aku masih menatap wajah Almira tanpa berkedip. Namun, aku tetap tidak menemukan kepura-puraan yang tadi sempat aku curigai. "Sepertinya aku memang salah lihat." Setelah memastikan keadaan Almira, kini aku pun kembali berdiri. Melangkah ke meja rias untuk menata rambut agar penampilanku saat ini bisa sama persis dengan Almira.


"Apa kira-kira aku siap dengan kenyataan yang nanti akan terungkap?" Aku bertanya pada diriku sendiri. Bertanya akan kesiapan hati jika memang semua kecurigaanku terbukti benar.


Di saat aku belum selesai meyakinkan diriku, suara mobil Mas Denis terdengar memasuki gerbang rumah. Aku pun langsung keluar dari kamar tanpa melihat ke arah Almira yang tadi sudah kupastikan jika dia memang sedang tertidur.

__ADS_1


"Tumben Mas Denis sudah pulang jam segini. Apa memang hari ini dia tidak terlalu sibuk di kantor?" tanyaku sambil mempercepat langkah kakiku menuju ke lantai bawah untuk menyambut kepulangan Mas Denis. Bodohnya, aku sampai lupa menyadari bahwa saat ini aku tengah bertukar peran dengan adik kembarku.


Setelah tiba tepat di hadapan Mas Denis, aku mematung diam saat suamiku memanggil nama Almira. Tentu saja aku kaget. Bagaimana tidak, hampir saja aku memanggil Mas Denis sebagai diriku, padahal saat ini aku tengah bertukar peran menjadi Almira.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Mira? Kenapa Lissa sampai memiliki rencanakan seperti itu? Kira-kira apalagi yang ingin dia lakukan ya?"


Pertanyaan Mas Denis seketika membuatku jadi penasaran tentang apa yang dimaksudnya. Sejenak aku pun berpikir, mengingat saat di mana aku sempat melihat Almira seperti pura-pura menunjukkan padaku jika dia terkena efek dari obat tidur yang sudah aku campurkan ke dalam jus alpukatnya.

__ADS_1


Di tengah lamunanku yang belum usai, Mas Denis kembali memanggil nama Almira hingga aku langsung menoleh, lalu melihatnya dengan raut wajahku yang masih dipenuhi tanda tanya.


"Mira, kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Mas Denis begitu perhatian hingga membuatku mulai merasa kesal. Bagiku, perhatian ini seolah-olah semakin membenarkan kecurigaanku bahwa antara Mas Denis dan Almira memiliki hubungan istimewa di belakangku.


"Aku enggak apa-apa, Mas. Sini aku bawain tas kerjanya!" Aku coba membalas perhatian Mas Denis. Memancing sikapnya agar lebih menunjukkan kedekatan antara dirinya dan Almira agar aku bisa mengetahuinya. Namun, bukan malah memberikan tas kerja yang ada di tangannya, Mas Denis malah bertanya hingga membuatku gugup karena dia mulai mencurigai penyamaranku.


"Kamu kok aneh ya! Aku tuh enggak mau sampai membuat Lissa jadi salah paham dengan kedekatan kita. Bukannya dari awal tujuan kita adalah untuk menyadarkan Lissa agar dia mau mengakui kesalahannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu enggak lupa kan dengan semua itu? Apalagi kamu sendiri yang memintaku untuk memberi kesempatan pada Lissa, padahal sebelumnya aku sudah benar-benar marah, bahkan aku ingin langsung menceraikannya."

__ADS_1


Perkataan Mas Denis sungguh mengejutkan. Aku masih sulit mempercayai apa yang baru saja aku dengar dari mulut suamiku jika ternyata Almira malah memiliki niat yang baik padaku. Dia bahkan sampai meminta suamiku untuk memaafkan dan memberikan aku kesempatan. Pantas saja sikap Mas Denis semalam benar-benar berbeda jika aku bandingkan dengan yang pagi tadi. Apa selama ini aku sudah salah karena terlalu berpikiran buruk tentang Almira? Ternyata dia tidak seperti apa yang aku pikirkan? Tapi, apa maksud perkataannya? Mulai dari sengaja membakar rumah ibuku sampai memberikan obat pencahar hingga aku sakit perut, sebenarnya apa tujuan semua itu?


Bersambung ✍️


__ADS_2