Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Menahan Malu


__ADS_3

Selamat membaca!


Suasana romantis yang diciptakan oleh Delano tiba-tiba hilang seketika. Kedatangan wanita muda yang tidak aku kenal itu benar-benar merusak momen yang hampir saja membuatku menangis haru karena akhirnya Delano melamarku.


"Siapa dia, No?" Aku pun memilih untuk langsung bertanya, bahkan aku sudah beranjak dari tempat dudukku karena merasa tidak tenang saat ini.


"Bagaimana mungkin kamu melamarnya sementara dia tidak mengenalku?" Wanita itu malah mengajukan pertanyaan pada Delano sambil merangkulnya dan mereka tampak begitu akrab di mataku.


"Sebenarnya siapa wanita ini? Kenapa tiba-tiba datang dan merusak makan malamku?" Walaupun merasa kesal, aku hanya bisa mengatakannya dalam hati. Bahkan kini rasa cemburu perlahan mulai mengusikku.


"Kamu kok bisa ada di sini sih?" Delano bertanya dengan suara yang ketus sambil melepaskan tangan wanita itu yang melingkar pada pundaknya.


"Memangnya tempat ini hanya bisa didatangimu. Aku juga bebas dong datang ke sini."

__ADS_1


"Kamu datang sendiri?" Delano kembali bertanya. Mengabaikanku yang masih menunggu jawabannya.


"Aku datang bersama pacarkulah, masa iya aku datang sendirian ke tempat seperti ini."


Mendengar jawaban dari wanita itu, rasa cemburu yang sempat merasuk ke dalam pikiranku tiba-tiba hilang seketika. Aku tak lagi berpikir macam-macam dan karena sudah merasa lebih tenang, aku pun memutuskan untuk duduk kembali sampai Delano memperkenalkan wanita itu padaku. Jujur saja, aku masih sulit menebak sebenarnya apa hubungan mereka, tetapi dari jawaban yang dikatakan wanita itu, aku bisa pastikan jika dia dan Delano tidak ada hubungan istimewa.


"Lissa, maaf ya. Perkenalkan ini adikku, namanya Maura." Delano akhirnya memperkenalkan wanita itu padaku. Membuatku jadi merasa malu karena aku sempat merasa cemburu dengan kedekatan mereka.


"Ya Tuhan, ternyata dia adiknya Delano. Aku memang pernah mendengar cerita dari Delano kalau dia punya seorang adik yang usianya hanya berbeda dua tahun darinya, tapi aku tidak menyangka jika aku bisa bertemu dengannya di sini," batinku yang masih menampilkan raut penuh keterkejutan dan itu tampak jelas di wajahku.


"Salam kenal juga, aku Lissa." Aku menjabat tangan Maura. Membalas senyumannya yang perlahan mulai mengurai jabatan tangan kami.


"Boleh aku bertanya satu hal?"

__ADS_1


"Memangnya kamu mau tanya apa? Tanyakan saja!"


"Tadi kamu belum sempat menjawab lamarannya, kan?" Dia bertanya sambil menaikkan kedua alisnya. Melirik sejenak ke arah Delano, lalu kembali menatapku.


"Belum sih, memangnya kenapa?" Aku balik bertanya karena jujur saja aku benar-benar penasaran dengan maksud pertanyaannya.


"Ya kalau bisa sih pikir-pikir dulu ya! Nanti kamu pasti nyesel lho, kakakku itu selain malas mandi kalau lagi libur kerja, dia juga ... kasih tahu enggak ya?" Dia melirik Delano, menyadarkanku bahwa saat ini Maura sedang meledeknya dan itu berhasil membuat Delano merasa kesal. Tentu saja aku tahu bahwa itu hanyalah sebuah gurauan semata. Gurauan yang seketika membuatku jadi tahu bahwa aku dan Delano memiliki kebiasaan yang sama.


"Dasar adik durhaka. Bukan dukung Kakaknya malah jelek-jelekin," protes Delano sambil menunjuk Maura dengan sorot mata yang tajam.


"Aku enggak jelek-jelekin kok, Kak." Maura menghindari tangan Delano yang hendak menangkapnya. Kedekatan di antara keduanya benar-benar membuatku jadi merasa iri dan langsung teringat akan Almira. Seandainya dulu aku dan Almira bisa sedekat mereka, pasti tidak akan ada kenangan buruk yang tertinggal dalam pikiranku setelah kepergian adik kembarku itu.


"Maafin Kakak ya, Mira. Saat kamu masih hidup, Kakak enggak pernah jadi Kakak yang baik untuk kamu," batinku mulai merasa sedih saat mengingat kesalahan demi kesalahan yang telah aku lakukan pada Almira dulu.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2