Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Semakin Yakin


__ADS_3

Selamat membaca!


Setelah bertemu secara tidak sengaja di apotek, aku pun mengajak Fadhly untuk bicara sebentar di sebuah cafe yang kebetulan berada tepat di sebelahnya. Walaupun sebenarnya ragu, tetapi aku rasa ini penting untuk bertanya pada Fadhly tentang pertemuannya dengan asisten Mas Denis.


"Fadh, maaf ya tadi aku kurang hati-hati sampai bisa nabrak kamu." Aku mengatakannya setelah kami menempati salah satu meja yang berada di sudut ruangan. Kami pun duduk saling bersebrangan.


Kulihat dia mulai tersenyum. Masih menatapku sama seperti dulu. Tatapan tanpa berkedip itu membuatku merasa jadi tidak nyaman.


"Tolong jangan melihat aku seperti itu!" pintaku sambil menutupi wajah dengan kedua tangan.


"Eh iya, maaf ya. Perasaan aku sudah biasa saja, tapi entah kenapa saat melihat kamu, aku tuh selalu terpesona."


Aku tidak seperti kebanyakan wanita yang bisa langsung berbunga-bunga saat ada pria memujiku, kecuali pria itu adalah Mas Denis, suamiku sendiri.


"Oh ya, kamu apa kabar?" tanyanya coba mencairkan suasana setelah aku menunjukkan gestur tidak nyaman karena pujiannya.


"Ya beginilah, aku sehat. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu lagi sakit sampai beli obat-obatan itu ke apotek?" jawabku yang diakhiri sebuah pertanyaan dan tak lagi menutupi wajahku.


"Ini hanya vitamin saja, Lissa. Aku sehat kok. Ngomong-ngomong bagaimana pernikahan kamu dengan Denis, apa kamu bahagia?"

__ADS_1


Tiba-tiba Fadhly menanyakan itu hingga membuatku sangat terkejut. Dia seakan-akan tahu jika rumah tanggaku dengan Mas Denis saat ini tidak berjalan baik. Namun, sulit rasanya membaca apa maksud dari pertanyaannya itu. "Tentu saja aku bahagia. Memangnya kenapa?"


"Kamu jangan bohong, Lissa!" Dengan sedikit menekan ucapannya, Fadhly sepertinya yakin jika apa yang dipikirkan benar.


"Aku tidak bohong. Tapi, kalau aku pikir-pikir, kamu sepertinya mengetahui sesuatu yang tidak aku tahu." Aku melipat kedua tangan di depan dada. Menatapnya penuh selidik. Berharap Fadhly mengatakan maksud dari pertanyaannya itu.


"Soalnya beberapa hari lalu aku bertemu dengan asisten suamimu di sebuah cafe. Di sana aku memberikan apa yang suamimu inginkan."


Jawaban Fadhly benar-benar membuatku terkejut. Seketika pikiranku langsung tertarik ke belakang. Mengingat perubahan sikap dari Mas Denis sejak kemarin malam. "Kenapa kamu memberi tahu suamiku?" Suaraku kini tak lagi terdengar bersahabat. Jujur aku sangat marah. Aku merasa Fadhly tidak bisa menjaga rahasia yang sudah kami sepakati bersama. Sebuah kesepakatan di mana kami harus saling melupakan satu sama lain dan menganggap hubungan itu tidak pernah terjadi.


"Maafkan aku, Lissa. Aku tidak punya pilihan lain. Proyek kerja sama dengan perusahaan suamimu sangatlah penting untuk perusahaanku. Jadi, aku tidak bisa menolak permintaannya. Ditambah lagi ...."


"Aku masih mencintaimu, Lissa. Aku ingin kita kembali seperti dulu setelah rumah tanggamu dengan Denis berakhir."


Kali ini aku benar-benar tak dapat menahan amarahku, bahkan aku sampai menggebrak meja dengan sangat keras hingga beberapa orang yang ada di cafe itu jadi melihat ke arahku.


"Jaga ucapanmu, Fadh! Kamu itu harus sadar kalau aku sudah punya suami dan begitu juga kamu. Aku tidak akan mungkin kembali sama kamu dan menyakiti istri kamu lagi seperti dulu. Asal kamu tahu, aku dari dulu aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Aku terpaksa hanya demi uang agar aku bisa menghidupi keluargaku." Merasa pertemuanku dengan Fadhly hanya merusak mood-ku hari ini, aku pun berdiri dan hendak meninggalkannya. Namun, dia menahan tanganku. Memintaku untuk kembali duduk setelah meminta maaf berulang kali.


"Maafin aku, Lissa. Tolong duduklah! Aku janji, aku tidak akan membuatmu kesal lagi. Malah aku akan memberi tahu kamu sesuatu dan ini tentang suamimu."

__ADS_1


Perkataan itu berhasil membuat niatku untuk pergi seketika hilang. Terlebih dia mengatakan jika ada hal lain yang ingin disampaikannya dan mungkin saja itu adalah jawaban dari apa yang sedang aku cari saat ini.


"Baiklah, aku akan duduk lagi! Tapi, ingat! Aku tidak suka jika kamu membahas tentang hubungan kita lagi karena aku sudah punya suami saat ini."


"Iya aku minta maaf. Aku cuma ingin kamu tahu jika Adel bukan lagi istriku. Kami sudah bercerai beberapa bulan lalu karena ternyata dia menjalin hubungan dengan laki-laki lain di belakangku."


Aku coba menanggapi dengan biasa saja, walau sebenarnya aku benar-benar terkejut atas perceraian Fadhly dengan istrinya. "Aku ikut sedih mendengar tentang pernikahanmu. Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Adel ya. Tapi, kamu pernah berpikir enggak sih? Mungkin saja apa yang kamu alami adalah hukuman atas pengkhianatan yang kamu lakukan denganku."


"Tidak masalah, Lissa. Aku sama sekali tidak menyesal pernah melakukan kesalahan itu sama kamu. Jadi, kamu tidak perlu menaruh simpati padaku. Sekarang yang harusnya kamu pikirkan adalah rumah tanggamu sendiri."


"Maksudnya?" tanyaku dengan wajah yang sudah dipenuhi tanda tanya.


"Pokoknya kamu hati-hati saja karena Denis tidak sama seperti dulu setelah tahu masa lalumu. Tetapi kamu tidak perlu khawatir, walau Denis nantinya akan menceraikanmu, aku akan dengan senang hati menerimamu, Lissa."


Akhirnya, aku benar-benar tidak tahan hingga mendaratkan sebuah tamparan keras di sebelah pipinya. Tamparan yang lagi-lagi menjadi perhatian dari pengunjung dan pelayan di cafe itu.


"Sepertinya aku salah mengajakmu bicara di sini." Aku pun beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi kepada Fadhly yang masih memegangi sebelah pipinya.


Dengan rasa kesal, aku berjalan keluar dari cafe. Memikirkan semua perkataan Fadhly hingga aku semakin yakin jika antara Mas Denis dan Almira memang ada sesuatu. "Bagaimanapun juga malam ini aku harus tahu apa yang mereka sembunyikan?" Tanpa menoleh lagi ke belakang, aku bergegas masuk ke taksi yang memang masih menungguku sejak tadi.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2