
Selamat membaca!
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Delano, aku terus berpikir akan maksud perkataan terakhir yang diucapkan Mas Denis. Dia menitipkan Keisha untuk sementara waktu pada ibuku. Bahkan ternyata di depan rumah, dia pun membawa seorang baby sitter untuk tinggal di rumah ibuku. Untung saja saat Mas Denis membangun ulang rumah ibu setelah terbakar, dia sengaja menyiapkan satu kamar di lantai bawah jika suatu saat ada asisten rumah tangga yang akan dipekerjakan untuk menemani ibuku.
"Kamu kenapa, Lissa?" Delano bertanya saat melihat aku hanya termangu menatap ke luar jendela mobil.
Aku pun menoleh. Melihat Delano yang juga sejenak melihatku sambil membagi pandangannya ke arah depan. "Aku enggak apa-apa, No."
"Kalau enggak ada apa-apa, kok kamu malah melamun sih. Pasti ada hubungannya sama Denis ya? Memangnya ada apa lagi dia sampai datang menemuimu?"
Delano menanyakan hal itu padaku karena memang saat Mas Denis pergi bertepatan dengan kedatangannya ke rumah ibuku. Mereka pun sempat berpapasan, walau keduanya tidak saling menegur. Bahkan aku juga sempat melihat ada gestur tubuh dari Mas Denis yang seperti menunjukkan ketidaksukaannya setelah melihat Delano datang menjemputku. Terlebih dia pasti tahu kalau aku dan Delano akan pergi makan malam hanya dari melihat apa yang kami kenakan malam ini.
"Aku sebenarnya kasihan, No. Dia kelihatan menyesal sekali karena dia merasa jadi penyebab meninggalnya Mira."
"Tapi bukannya itu benar?"
"Bukan, No." Aku tidak sependapat dengan perkataan Delano saat ini. Aku tahu dia sangat membenci Mas Denis setelah mengetahui perlakuannya padaku, tetapi entah kenapa aku tidak setuju jika Delano terlalu menyalahkan Mas Denis karena menurutku ini memang sudah takdir yang tidak bisa dihindari dan bukan kesalahannya.
"Kenapa kamu masih membelanya setelah apa yang telah dia lakukan padamu? Bahkan kamu sampai bisa bertukar peran dengan Mira juga karena keinginan dia yang tidak masuk akal, kan? Dia hanya menginginkan wanita yang masih perawan untuk menjadi istrinya, terus memangnya kenapa wanita yang sudah tidak lagi perawan? Apa wanita itu tidak pantas dia cintai? Apa wanita itu terlalu rendah di matanya?" Ada beberapa kata yang Delano ucapkan dengan penuh penekanan, terutama saat dia menanyakan prinsip Mas Denis yang tidak masuk akal baginya. Alih-alih memikirkan tanggapan Delano tentang Mas Denis, aku lebih tertarik ingin tahu bagaimana pandangan Delano mengenai hal itu. Apa dia memang berbeda dari Mas Denis?
__ADS_1
"Aku enggak membela Mas Denis, No. Tapi setelah mendengar perkataanmu, aku jadi malah penasaran, kalau kamu sendiri bagaimana? Apa keperawanan itu memang sangat berarti untuk kamu?" Aku menatap penasaran dengan kedua alis yang sempat terangkat selesai menanyakannya. Pertanyaan yang membuat Delano tampak gugup. Namun, aku sulit membaca dari raut wajahnya tentang apa yang sebenarnya dia pikirkan saat ini.
"Sudah ah enggak perlu bahas itu lagi! Ngomong-ngomong dress yang kamu kenakan malam ini bagus. Kamu terlihat sangat cantik." Dia memujiku, seperti coba mengalihkan pembicaraan kami dan itu sama sekali tidak membuat niatku untuk ingin tahu jadi hilang.
"No, jangan mengalihkan pembicaraan deh! Jawab dulu pertanyaan aku!" Aku pun melipat kedua tangan di depan dadaku sambil menarik sebelah sudut bibirku dan menatapnya dengan memicingkan kedua mata.
"Baiklah. Lagi pula aku tidak ada pilihan selain menjawabnya, kan?"
"Iya dong. Aku kan mau tahu apa pendapat kamu juga. Apa kamu memang berbeda dari Mas Denis atau nyatanya kamu juga sama aja sama dia?"
"Tapi sebelumnya maaf ya, Lissa. Sebenarnya aku ...."
Mendengar perkataanku, Delano terlihat menarik napas panjangnya. Lalu, mengembuskannya dengan sangat perlahan. Dahinya bahkan sudah tampak berkeringat, walau di dalam mobil baru miliknya sebenarnya terasa dingin bagiku.
"Dulu aku sebenarnya juga berpikiran sama seperti Denis. Keperawanan itu sangat penting untukku. Bahkan aku juga pernah punya keinginan menikah dengan wanita yang masih perawan dan aku adalah satu-satunya laki-laki yang pernah menjamah tubuh--"
"Sudah, No! Benar kata kamu, lebih baik bahas yang lain aja." Aku langsung menyandarkan tubuhku lebih dalam pada kursi jok mobil. Mengalihkan pandangan mataku tak lagi menatap Delano dan memilih untuk melihat ke luar jendela.
Bodohnya aku memaksa Delano jujur di depanku, padahal bisa saja dia memiliki prinsip yang sama dengan Mas Denis dan itu malah akan melukai perasaanku. "Ya Tuhan, aku semakin merasa tidak pantas untuk Delano. Dia lulusan sarjana, aku hanyalah mantan narapidana. Dia menginginkan wanita yang masih perawan, sementara aku tidak seperti yang dia inginkan," batinku sambil menahan air mata yang sudah membuat kedua mataku terasa berkabut. Tentu saja aku tidak ingin menangis di depan Delano, apalagi tadi akulah yang memaksanya untuk berkata jujur.
__ADS_1
"Kenapa kamu memotong pembicaraanku, Lissa? Aku kan belum selesai."
"Enggak apa-apa, No. Aku sudah tahu dan mendengar dengan sangat jelas tadi," jawabku tanpa mengalihkan pandangan mata dengan masih melihat kilau lampu kota Jakarta yang terbilang indah. Namun, keindahan itu tak cukup membuat kedua sudut bibirku tersenyum karena hatiku seperti tertusuk pedang yang begitu tajam.
"Tapi itu dulu, Lissa, sebelum aku mengerti bahwa semua itu tidaklah penting asalkan aku bisa bersama dengan wanita yang aku cintai. Tak peduli apa pun masa lalunya, tak peduli apa statusnya, selama aku mencintainya, aku akan menerima kekurangannya."
Luka yang hampir menganga di hatiku seketika sembuh begitu saja saat mendengar barisan kata demi kata yang Delano ucapkan. Aku pun tak dapat lagi menahan air mata untuk tidak menetes dan membiarkannya lolos begitu saja hingga kedua pipiku mulai dihujani dengan bulir bening itu. "Apa itu benar, No?" tanyaku coba memastikan apa yang baru saja aku dengar.
"Benar, Lissa. Itulah yang ingin aku katakan sebelum kamu memotongnya."
"Terima kasih ya, No. Terima kasih karena kamu sudah mau menerima aku yang enggak sempurna ini."
"Tidak perlu berterima kasih karena ketika aku mencintaimu, aku pun harus siap untuk menerima semua kekuranganmu." Delano mengatakan itu dengan tersenyum. Membuat hatiku semakin berbunga-bunga. Terlebih saat dia mengusap air mata di kedua pipiku dengan sebelah tangannya.
"Aku bersyukur, Tuhan. Di balik semua ujian dan hal buruk yang terjadi dalam hidupku di masa lalu, kamu memberikan seorang laki-laki seperti Delano," gumamku merasa begitu terharu mendengar perkataannya.
Bersambung ✍️
...Selamat sore, Bestie. Maaf ya kemarin sempat enggak update karena Author sempat drop karena memang masih sakit. Ayo baca, One Night Destiny karena cerita itu sudah berlanjut juga. Ditunggu komentarnya di sana ya....
__ADS_1