
Selamat membaca!
Perlahan aku mulai membuka mata. Merasakan sakit di sekujur tubuh hingga bagian kepala yang juga masih terasa berdenyut hebat. Sampai aku mulai tersadar bahwa saat ini aku sudah tak lagi di rumah. "Ternyata aku di rumah sakit," ucapku dengan suara yang terdengar lemah saat merasakan selang infus di pergelangan tangan dan juga perban yang membalut dahiku.
Sambil mulai melihat sekeliling, aku coba mempertegas sorot mataku yang sampai saat ini masih terlihat samar sejak aku membuka mata.
"Apa Mas Denis tidak menemaniku di sini? Padahal aku kan sedang sakit." Aku begitu sedih. Memikirkan keberadaan Mas Denis yang ternyata tidak ada saat aku tengah mengalami hal seburuk ini. Di mana dia? Apa dia tidak khawatir padaku?
Di tengah rasa kecewa yang kian menguasai diriku, tiba-tiba seseorang datang. Membuka pintu ruangan, lalu melangkah masuk dan menatapku dengan sangat tajam. "Mira."
__ADS_1
"Ternyata kamu sudah sadar, Kak." Dia mengatakan itu sambil mendekat ke arahku. Kedua mataku pun terus melihatnya hingga menemukan sesuatu yang lain dari penampilan Almira saat ini. Ya, dia mengenakan pakaianku dan itu membuatku jadi ingat bahwa sebelumnya aku memang sudah sengaja bertukar peran lagi dengannya. "Jadi, pantas saja Mas Denis tidak menemaniku di sini karena aku bukanlah Alissa, melainkan Mira," batinku yang sempat melupakan hal itu dan kembali teringat saat adik kembarku benar-benar terlihat seperti diriku.
Mengetahui kenyataan ini aku benar-benar merasa kesal. Namun, nyatanya aku tidak bisa melakukan apa-apa karena kondisiku masih sangat lemah hingga membuatku hanya bisa tetap ada di posisiku. Terbaring dan hanya menajamkan sorot mataku sebagai tanda bahwa aku marah padanya. "Mira, apa-apaan ini?" tanyaku dengan suara yang coba aku tekankan.
"Apa kamu lupa, Kak? Kamu sudah menukar diri kita. Jadi, sekarang aku akan menjadi kamu dan kamu akan tetap menjadi aku."
Perkataan itu seketika membuat darahku langsung berdesir hebat. Amarah kini semakin memburu dalam diriku. Bagaimana bisa Almira ingin merampas posisiku sebagai istri Mas Denis. Namun, bukan sebagai dirinya, tetapi dia malah menjadi aku.
Dia hanya diam sambil terus menatapku. Sorot matanya semakin tajam hingga aku dapat melihat ada kebencian dari kedua manik matanya. "Karena aku ingin membuatmu menderita, Kak. Aku ingin kamu merasakan sakit yang pernah aku rasakan saat aku kehilangan janinku. Sekarang dengan menjadi aku, kamu akan melihat sendiri bagaimana aku menggantikan posisimu untuk menjadi istri dari seorang Denis Wiratama. Lagi pula hanya jalan ini yang bisa aku lakukan karena suamimu itu laki-laki setia yang sulit sekali aku goda."
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan mengatakan pada Mas Denis tentang kebohongan ini."
Ancamanku ditanggapi dengan sangat santai oleh Almira. Dia bahkan hanya terkekeh seolah tidak takut jika aku akan membongkar permainan yang dilakukannya pada Mas Denis.
"Silakan saja kalau kamu malah ingin membuat suamimu jadi semakin membencimu."
"Apa maksudmu, Mira?" tanyaku merasa bingung dengan kedua alis yang saling bertaut dalam.
"Kalau kamu mengatakan semua itu, aku juga akan membongkar bahwa kamu telah membunuh anaknya yang ada dalam kandunganku hanya demi menutupi rahasiamu. Apa kamu siap dengan semua itu? Mungkin Mas Denis tidak akan tahan lagi untuk tidak menceraikanmu!"
__ADS_1
Situasi ini membuat pikiranku seketika jadi tertarik ke belakang, rasanya ini seperti dejavu saat dulu aku mengancam Almira di rumah sakit. Namun, sekarang posisinya berubah. Apa ini yang dinamakan karma? Apa aku benar-benar sedang berada pada fase di mana aku sedang menghadapi karma atas apa yang aku lakukan? Ya Tuhan, aku tidak benar-benar berpikir bahwa semuanya akan jadi serumit ini. Aku bukan hanya memupuk kehancuranku sendiri, tetapi juga merubah sosok adik kembarku menjadi seorang pendendam.
Bersambung ✍️