
Selamat membaca!
Setelah tiba di ruang tamu, rasa canggung semakin membuatku enggan untuk duduk di sofa. Namun, aku merasa tidak punya pilihan lain. Jadi, aku harus menepikan sejenak rasa traumaku dan tetap menemuinya, walau mungkin ada ketakutan yang masih sulit aku hilangkan.
"Mas, ada apa ingin bertemu denganku?" Aku mulai membuka percakapan lebih dulu setelah Mas Denis masih diam sambil menatapku tanpa mengatakan apa-apa.
Saat ini, aku dapat melihat raut wajahnya yang berbeda. Selain kantong mata yang menghitam, wajah Mas Denis tak lagi secerah seperti terakhir kali aku lihat. Membuat aku jadi berpikir jika apa yang dikatakan ibu memang benar.
"Bu, bolehkah aku bicara empat sama Lissa saja di sini?" Mas Denis mengatakan dengan sorot mata penuh harap. Aku jadi semakin penasaran tentang apa yang ingin dikatakannya sampai ibuku tidak boleh mendengar.
"Tapi memangnya kenapa kalau ada ibu di sini? Ibu di sini aja ya temenin aku!" Aku langsung menjawab permintaan itu sambil menatap tajam wajah Mas Denis sebelum aku beralih melihat ibuku.
__ADS_1
"Sudah enggak apa-apa, Lissa. Ibu sekalian bawa Keisya aja ke kamar agar kalian lebih leluasa bicara berdua, tapi ingat, Denis! Ibu enggak mau kejadian di rumah sakit sampai terulang lagi." Sebelum pergi sambil membawa Keisya yang sudah digendong ibu sejak datang ke ruang tamu bersamaku, ibu memberi ultimatum terlebih dulu kepada Mas Denis dan itu benar-benar membuatku lega. Setidaknya tanpa aku harus mengatakannya, dia bisa tahu bahwa aku trauma dengan kejadian saat di rumah sakit waktu itu.
"Aku tidak punya banyak waktu, Mas. Sebentar lagi aku akan pergi dengan Delano."
Sengaja aku mengatakan itu agar Mas Denis segera mengutarakan apa yang ingin dikatakannya sebelum Delano datang. Aku sebenarnya tidak ingin jika dia sampai tahu bahwa Mas Denis datang menemuiku saat ini.
"Aku minta maaf ya, Lissa. Aku sempat memaksa kamu untuk kembali dengan menjadikan permintaan dari Mira sebagai alasan. Sekarang aku sadar, Lissa. Seharusnya aku tidak mengejar masa lalu, seharusnya aku belajar mencintai Mira seperti apa yang kamu katakan waktu itu. Aku sangat menyesal. Sekarang aku tidak lagi punya waktu untuk memperbaikinya karena Mira sudah tiada."
"Aku senang akhirnya kamu bisa mengerti semua itu, Mas, tapi siapa bilang kamu tidak bisa memperbaikinya? Kamu masih punya Keisha, dia adalah titipin dari Mira yang harus kamu jaga. Sayangi dia, Mas! Kamu harus bisa menjadi ayah yang baik untuk Keisha." Aku coba menenangkan Mas Denis yang saat ini mulai terdengar menangis.
"Aku tidak bisa, Lissa."
__ADS_1
"Kenapa, Mas? Siapa bilang kamu tidak bisa?" Aku spontan melontarkan pertanyaan itu saat Mas Denis begitu pesimis menjawab perkataanku.
"Karena jika melihat Keisya aku benar-benar merasa bersalah karena telah membuatnya jadi kehilangan ibunya. Melihat Keisha aku pun jadi teringat dengan semua kesalahan yang pernah aku lakukan pada Mira. Aku benar-benar menyesal karena telah menyia-nyiakannya. Seharusnya dia tidak perlu mengalami sakit yang berbahaya seandainya aku bisa membuatnya bahagia. Tapi apa yang aku lakukan, aku hanya membuatnya tertekan. Dia terlalu lama menyimpan kesedihannya sendiri dan memikirkan semua perlakuan dariku yang tak pernah bisa mencintainya sebagai seorang istri."
"Ini bukan hanya salah kamu, Mas. Aku juga bersalah karena telah memaksa Mira menggantikan aku di malam pertama kita. Jadi, sekarang yang bisa kita lakukan adalah menjaga apa yang Mira titipkan sama kita. Menurutku hanya itu satu-satunya cara untuk menebus semua kesalahan kita." Aku coba meringankan beban Mas Denis. Setidaknya dengan mengatakan itu dia tidak sepenuhnya merasa semua yang terjadi adalah kesalahannya.
"Itu juga bermula dari kesalahanku, Lissa. Seandainya aku tidak terlalu memikirkan keperawanan sebagai syarat untuk menjadi istriku, aku yakin kamu pasti tidak akan sampai berpikir sampai sejauh itu. Aku yang terlalu naif, lagi pula kenapa memangnya dengan wanita yang sudah tidak lagi perawan. Harusnya aku tidak mempersulit kamu dengan keinginanku itu. Padahal keperawanan hanya akan terasa manis di awal pernikahan dan begitu menjalani rumah tangga kita pasti akan melupakan semua itu dengan segala permasalahan yang terjadi."
"Tetap saja semua itu salah aku, Mas. Kalau saja aku berani jujur sama kamu waktu itu, pasti semua tidak akan jadi seperti ini. Dan, mungkin saja Mira tidak akan terkena penyakit berbahaya yang sampai merenggut nyawanya itu." Aku pun mengembuskan napas dengan kasar. Rasanya beban yang aku rasakan benar-benar menyesakkan dadaku hingga membuatku jadi sulit bernapas ketika kembali mengingat masa itu. Masa di mana aku melakukan kesalahan besar hingga membuat semua yang tadinya berjalan baik-baik saja, kini harus berakhir dengan tidak semestinya. Kematian Almira memang sebuah takdir yang tidak bisa dihindari, tetapi kematian itu bermula dari kesalahanku. Kesalahan yang seharusnya tidak aku lakukan.
Bersambung ✍️
__ADS_1