
Selamat membaca!
Di saat aku baru saja tertidur tiba-tiba dering pada ponselku berbunyi. Seketika aku langsung merasa kesal. Bagaimana tidak, tadi itu aku sempat kesulitan untuk terlelap karena terus memikirkan Mas Denis dan apa yang kulihat di cafe tadi sore, tetapi kini karena panggilan itu membuatku kembali terjaga dan bisa saja nanti aku akan kesulitan untuk tertidur lagi.
"Siapa sih yang menghubungiku malam-malam begini?" tanyaku langsung mengambil benda pipih milikku yang tergeletak di atas nakas samping ranjang tidur.
Kedua mataku membulat saat kulihat layar pada ponsel menampilkan nama Almira tertera di sana. Membuat semua kekesalanku padanya kembali bertambah karena aku merasa Almira benar-benar tidak ada habisnya mengganggu hidupku, bahkan di saat aku sedang tertidur.
"Untuk apa sih dia sampai menghubungiku malam-malam begini?" Penasaran dengan maksud tujuan adik kembarku, aku pun langsung menjawab panggilan itu dengan suara yang ketus.
"Kenapa, Mira?" Saat panggilan itu terhubung, dengan jelas aku mendengar suara gaduh dari seberang sana dan suara Almira mulai memanggilku dibarengi dengan suara tangisannya.
__ADS_1
"Kak ...."
"Lho kamu kenapa, Mira?" Sekesal apa pun aku padanya, tetap saja Almira adalah adikku dan tentu saja aku merasa khawatir atas apa yang terjadi padanya saat ini.
"Kak ... Kakak bisa jemput ke rumah enggak?" tanya adik kembarku masih menangis terisak dan aku juga sempat mendengar jelas bunyi sirine di seberang sana. Tak hanya itu, beragam suara orang pun terdengar semakin gaduh di sana hingga membuat suara Almira jadi kurang jelas terdengar di telingaku.
"Sebenarnya apa yang terjadi Mira? Ayo cepat ceritakan!" titahku karena sulit menduga-duga, walau beberapa asumsi sudah terbesit di pikiranku saat ini.
Mendengar kabar itu aku benar-benar sangat terkejut. Padahal tadi sore aku baru saja dari rumah ibu dan keadaan rumah itu masih baik-baik saja saat aku pergi.
"Lho, kenapa bisa? Terus bagaimana keadaan ibu, Mira?" tanyaku yang langsung teringat akan kondisi ibuku.
__ADS_1
"Ibu baik-baik saja, tapi rumah kita hangus terbakar." Sambil menangis Almira mengatakan itu. Membuatku merasa sangat iba karena mau bagaimanapun dia adalah keluargaku dan sudah kewajibanku untuk menolongnya terlepas dari apa yang terjadi antara aku dan Almira. Setidaknya aku masih menganggapnya keluarga, walau aku sempat merasa begitu kesal terhadapnya.
"Kamu tunggu di sana ya! Kakak akan kasih tahu Mas Denis dan kami akan segera ke sana! Tolong kamu jaga ibu dulu sampai kami datang!" Dengan cepat aku bangkit dari posisi duduknya. Lalu, melangkah keluar kamar dan menuju ruang kerja Mas Denis yang masih tampak terang jika dilihat dari jendela kamarku.
"Apa Mas Denis masih marah padaku sampai dia belum juga kembali ke kamar?" tanyaku yang masih sempat memikirkan apa yang terjadi sebelum aku tertidur tadi.
Merasa tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu, aku pun bergegas masuk ke ruang kerja Mas Denis. Di sana aku dapat melihat jelas jika suamiku sudah tertidur dengan kepala yang berpangku pada kedua tangannya di atas meja kerja. Tentu saja aku jadi merasa bersalah karena ulahku Mas Denis sampai harus tertidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu.
"Ya ampun, Mas, kenapa sih kamu sampai semarah ini hanya karena aku melarang kamu melakukan itu saat kita bercinta tadi? Kenapa kamu jadi sangat terobsesi dengan malam pertama kita, bahkan kamu sampai pergi dari kamar karena aku menolak melakukan hal yang sama seperti malam itu?" gumamku merasa sedih memikirkan perdebatan yang sempat terjadi antara aku dan Mas Denis hingga membuatnya pergi meninggalkanku sendiri di kamar. Namun, tiba-tiba aku kembali teringat jika aku harus segera menjemput adik dan ibuku. Ya, aku benar-benar tidak punya pilihan selain membawa mereka tinggal bersamaku untuk sementara waktu. Setidaknya sampai aku bisa memberikan rumah baru agar bisa mereka tempati.
Bersambung ✍️
__ADS_1