
Selamat membaca!
Keesokan harinya, aku pun terbangun dengan kedua mata yang masih begitu berat terjaga. Semalam aku memang sulit memejamkan mata setelah mengetahui kabar dari Delano tentang Mas Denis dan juga Almira. Terlebih saat aku tahu jika mereka tengah berbahagia karena kehamilan Almira yang entah kenapa membuatku jadi merasa iri. Tak hanya itu, sebagian hatiku juga terus merutuki takdir hidupku. Takdir yang seolah mempermainkanku karena pada akhirnya, suami yang aku cintai menikah dengan adik kembarku.
"Lissa, ayo ke lapangan!"
Tiba-tiba Reni memanggilku saat aku masih teringat kesedihan semalam yang tertinggal dalam pikiranku.
"Ke lapangan? Memangnya ada apa?" tanyaku sambil mengusap mata yang masih terasa lengket.
"Kamu pasti lupa! Hari ini 17 Agustus. Selain ada pengumuman narapidana teladan tahun ini, akan ada remisi yang kita dapat."
"Remisi ...?" Kata-kata itu terasa asing untukku. Sejujurnya aku baru pertama kali ini mendengar istilah yang Reni katakan.
"Sudah nanti saja aku jelasin. Sekarang cuci muka saja dulu sana. Kamu enggak usah mandi, enggak akan sempat!"
"Lagian kamu kenapa enggak bangunin aku dari tadi sih?" protesku karena merasa Reni dan Hana tidak membangunkan aku lebih awal agar aku bisa mempersiapkan diri.
"Enggak usah ngomong kamu! Aku itu sama Hana sudah bangunin kamu sejak tadi, tapi kamu tuh tidurnya kaya kebo, susah banget di bangunin."
__ADS_1
"Terus Hana mana?"
"Sudah duluan dia enggak mau terlambat. Soalnya dengar-dengar dia dapat remisi lagi seperti tahun lalu dan ada kemungkinan setelah dapat remisi tahun ini beberapa hari kemudian dia bisa bebas."
Aku ikut bahagia mendengar kabar tentang Hana. Hal yang membuat aku jadi penasaran tentang apa remisi yang di maksud Reni. "Remisi itu apa sih? Jawab dong, aku penasaran tahu!"
"Masa dari tadi sudah aku bahas kamu masih belum tahu. Kamu tuh kalau baru bangun tidur pasti lemot deh. Remisi itu adalah pengurangan masa hukuman yang bisa didapat oleh seorang narapidana seperti kita ini. Tahun kemarin aku juga dapat 1 bulan. Semoga tahun ini aku bisa dapat lagi. Ya, lumayan mengurangi masa hukuman."
"Jadi, siapa pun bisa mendapatkan remisi ya? Termasuk aku yang baru menjalani masa hukuman."
"Iya betul. Sudah ayo cepat! Cuci muka dan gosok gigi saja, buruan!"
Hanya butuh waktu 10 menit, aku dan Reni pun sudah berada di lapangan. Kami langsung memasuki barisan, berbaur dengan para narapidana lainnya. Kini aku mulai, mengedarkan pandangan ke sekeliling hingga aku dapat melihat jika di depan sana terdapat sebuah panggung kecil dan sepertinya di sanalah kepala lapas akan mengumumkan siapa narapidana teladan dan siapa saja narapidana yang mendapatkan remisi tahun ini.
Setelah upacara kenaikan bendera merah putih selesai dikibarkan, tibalah saatnya bagi kepala lapas mengumumkan apa yang sejak tadi begitu aku tunggu. Tentu saja aku sangat berharap akan mendapatkan remisi agar setidaknya masa hukumanku bisa berkurang.
"Ya Tuhan, semoga saja aku dapat remisi juga tahun ini," batinku menatap ke depan dengan penuh cemas. Menunggu kepala lapas yang tengah bersiap untuk bicara.
Beberapa kata sambutan yang dikatakan oleh Ibu Widya sebagai kepala lapas di sel tahanan ini ditutup dengan tepuk tangan meriah dari kami. Hingga akhirnya, tiba-tiba dia mengumumkan narapidana teladan terbaik tahun ini dan tanpa aku sangka, Bu Widya menyebut namaku yang diikuti oleh suara tepuk tangan meriah dari para narapidana lainnya.
__ADS_1
"Lissa, selamat ya. Ayo maju sana!" Reni mengguncangkan tubuhku karena saat ini aku masih termangu karena tidak menyangka jika namaku yang disebut.
"Iya, iya." Walau masih tak percaya dengan apa yang aku dengar, aku pun melangkah maju menuju panggung kecil yang ada di depan sana. Melewati para narapidana lain yang beberapa di antaranya memberikan aku selamat atas pencapaianku ini.
"Saudara-saudara sekalian, tahun ini Alissa terpilih menjadi narapidana teladan atas hasil karyanya membuat barang-barang kerajinan dari kain perca. Semua yang dihasilkan oleh Alissa ternyata laris terjual di bazar yang diadakan oleh lembaga kepolisian. Tidak hanya itu, banyak orang yang meminati hasil kerajinan tangan Alissa dan untuk saat ini hasil penjualannya sudah mencapai lima juta rupiah dalam kurun waktu enam bulan. Selamat ya untuk Alissa. Semoga keterampilan yang kami berikan bisa menjadi bekal untuk kamu melanjutkan hidup setelah keluar dari penjara nanti." Bu Widya memberikan sebuah piagam penghargaan dan amplop putih yang langsung aku terima dengan penuh haru. Aku merasa begitu bahagia karena tidak menyangka bisa menghasilkan uang dengan cara yang halal. Meskipun tubuhku harus terpenjara di sini, tetapi kerajinan tangan buatanku bisa digunakan oleh banyak wanita di luar sana dan akan menghiasi rumah-rumah mereka.
Bersambung✍️
Ini adalah beberapa kerajinan kain perca yang dihasilkan oleh Alissa:
__ADS_1