Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Air Mata Bahagia


__ADS_3

Selamat membaca!


Tak ingin merusak suasana makan malam ini dengan kesedihan, aku pun berhasil menepikan semua itu dengan kembali tersenyum saat melihat tingkah Delano yang berhasil menutup mulut Maura dengan kedua tangannya agar berhenti bicara padaku.


"Sudah kamu pergi sana jangan ganggu aku!" Delano mengusir adiknya yang baru saja berhasil melepas tangannya.


"Iya, iya ... aku pergi. Lissa, walaupun Kakakku ini malas mandi, tapi kamu tetap beruntung karena menurutku, dia adalah laki-laki yang baik. Ya, walau tidak lebih baik dari pacarku." Selesai mengatakannya, Maura mengedipkan sebelah matanya pada Delano yang mulai tersenyum mendengar pujian dari adiknya.


"Dasar, Maura! Dia memang selalu saja iseng." gerutu Delano masih terus melihat kepergian Maura menuju sebuah meja yang ada di ujung sana, di mana aku dapat melihat seorang pria tampan sedang melambaikan tangan padanya.


"Sepertinya itu pacarnya. Ternyata Maura punya selera yang sangat bagus dalam memilih pasangan ya." Pujian itu lolos begitu saja dari mulutku hingga membuat Delano langsung melirikku.


"Jadi, menurut kamu, pria itu tampan? Apa dia lebih tampan dariku?" Suaranya terdengar sedikit kesal. Mungkinkah Delano cemburu karena aku memuji pria lain di depannya?


Aku masih melihatnya. Menebak apa yang ada dalam pikiran Delano yang saat ini hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. "Kamu cemburu ya, No?" Aku terus menatapnya penuh selidik, lalu mengangkat kedua alisku untuk meledeknya dengan senyum menggoda.


"Enggaklah ... untuk apa aku cemburu? Aku hanya mau tahu penilaianmu tentang aku sama atau tidak seperti kamu menilai pria itu."


"Masa sih, tapi wajah kamu kok tiba-tiba merah?" Aku pun kembali bertanya. Melihat sikap Delano yang tiba-tiba canggung di depanku.

__ADS_1


Di saat Delano masih tak mengakuinya, seorang pelayan datang dengan troli yang dibawanya, lalu mulai menyajikan pesanan kami satu persatu ke atas meja.


"Selamat menikmati ya, Tuan, Nona."


"Iya, terima kasih, Mbak." Delano masih membuang pandangannya. Entah kenapa dia sama sekali tidak melihatku di saat wajahnya masih kelihatan merah hingga detik ini.


"No, kamu enggak mau pakaikan cincin ini!" pintaku yang seketika membuat Delano kembali melihatku.


"Enggak mau, sampai kamu jawab pertanyaanku."


Melihat wajahnya yang cemberut, aku jadi tak kuasa menahan senyuman dari kedua sudut bibirku hingga mengembang dan itu membuat Delano malah semakin kesal.


"Ya sudah kalau kamu enggak mau jawab."


"Siapa itu Lee Jong-suk?" Delano menampilkan wajah penuh tanda tanya. Sepertinya dia memang tidak familiar dengan nama yang baru saja aku sebutkan.


"Masa kamu enggak tahu, No. Itu lho artis Korea yang kemarin baru selesai main film Big Mouth, waktu itu kamu kan pernah nemenin aku nonton filmnya. Apa kamu lupa, No?"


Sesaat aku melihat Delano terdiam. Pasti dia sedang mengingat-ingat saat di mana dirinya menemaniku dalam menonton episode terakhir Big Mouth dan saat itu, aku benar-benar sedih sampai tidak berhenti menangis karena pemeran utama wanita pada film itu harus tiada karena penyakit yang dideritanya.

__ADS_1


"Oh yang itu, tentu saja aku ingat! Bagaimana aku bisa lupa, soalnya aku yang beresin sampah tisu yang berserakan di lantai karena kamu enggak berhenti-henti menangis saat itu."


"Jadi, kamu enggak ikhlas!" Aku menampilkan wajah cemberut hingga membuat Delano jadi kelihatan takut. Ya, begitulah Delano, dia memang tidak ingin jika aku sampai marah padanya. Bahkan jika panggilan telepon kami tiba-tiba terputus secara sepihak olehku, dia pasti langsung datang ke tempat usahaku dan bertanya kesalahan apa yang telah dia perbuat.


"Ya sudah, enggak usah dibahas tentang itu. Sekarang gantian kamu yang harus jawab pertanyaanku, apa kamu menerima lamaranku?" Dengan cepat Delano mengalihkan pembicaraan kami dan bertanya dengan antusias tanpa mengalihkan pandangannya dari wajahku.


"Pakaikan dulu cincinnya!" Aku menyodorkan cincin dari tangannya untuk kuberikan pada Delano. Setelah dia mengambilnya, tanpa berlama-lama, Delano langsung menyematkan cincin itu pada jari manis di tangan kiriku. Membuat hatiku kembali berbunga-bunga dan kali ini aku dapat merasakan ada getaran di hatiku hingga kedua mataku seketika mulai berkabut.


"Terima kasih ya, No. Terima kasih karena akhirnya kamu memberikan kepastian dalam hubungan kita."


"Jadi, apa kamu menerima lamaranku?"


"Bagaimana bisa aku menolaknya? Bukannya aku sudah memintamu untuk memakaikan cincin ini, itu artinya, aku bersedia menjadi istrimu, No." Selesai mengatakan itu, air mata yang sempat menganak di pelupuk mataku akhirnya jatuh dan mulai membasahi pipiku.


"Kamu kenapa nangis, Lissa?" Dia bertanya sambil mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat padaku. Aku tahu Delano pasti khawatir karena dia memang tidak bisa jika melihatku menangis.


"Ini air mata kebahagiaan, No. Aku bahagia karena pada akhirnya aku bisa ada di titik ini. Titik di mana aku merasa sangat bahagia. Padahal saat aku masuk penjara, aku sempat berpikir jika duniaku sudah berakhir dan tidak akan ada lagi kebahagiaan yang bisa aku rasakan. Semua orang akan membenciku karena aku adalah mantan narapidana dan pastinya tidak akan ada satu laki-laki pun yang mau menerima kekuranganku."


"Sudah, jangan menangis lagi ya! Tidak perlu lagi kamu ingat-ingat masa lalu karena semua sudah berlalu, Lissa. Sekarang aku janji sama kamu, mulai hari ini aku akan selalu membuatmu bahagia, tidak peduli sesulit apa pun jalan yang harus aku lalui."

__ADS_1


Delano mengusap air mata di kedua pipiku dengan begitu lembut. Hingga aku benar-benar dapat merasakan ketulusan dari sentuhan jemarinya yang kini masih mengusap wajahku.


Bersambung ✍️


__ADS_2