Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Merasa Tak Pantas


__ADS_3

Selamat membaca!


6 bulan sudah sejak Delano mengatakan bahwa dia tidak akan lagi datang menemuiku. Tak ada surat darinya yang selalu aku tunggu setiap hari. Aku merasa dia mungkin sudah melupakanku. Terlebih di kota London sana pasti banyak wanita-wanita cantik yang bisa saja memiliki hati Delano dan aku tidak mungkin bisa menahannya.


Selama di dalam lapas, aku mulai memahami karakter para narapidana wanita yang ada di sini. Sebagian besar mereka mengalami kasus kekerasan dalam rumah tangga sehingga memicu para wanita itu untuk mempertahankan diri sampai membunuh suaminya atau membuat mantan suaminya menjadi cacat. Tak hanya itu, ada juga para wanita yang di penjara karena mencuri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, ada pula di antara mereka para pelakor yang tega merusak rumah tangga orang lain dan menyakiti sesama wanita.


Tak hanya memiliki teman satu sel tahanan, di sini aku mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan di lapas. Aku pun mengikuti beberapa pelatihan yang diberikan. Selain menjahit, aku juga membuat aneka barang kerajinan tangan berbahan dasar perca dan membuat kue-kue. Aktivitas yang setidaknya dapat mengalihkan pikiranku untuk tidak selalu memikirkan Delano. Entah kenapa ada rasa rindu di dalam hatiku, memikirkan dia yang jauh di sana. Ya, jujur setelah kepergiannya, hidupku seakan kembali terpuruk. Hampir setiap hari aku jalani dengan murung. Walaupun Reni dan Hana coba menghibur, tetapi tetap saja kesedihan itu tak mau hilang.


Sampai akhirnya, surat pertama dari Delano datang dan itu seketika mengembalikan semangat hidupku, ternyata dia menepati janjinya untuk mengirim surat padaku. Janji yang tadinya aku pikir sudah dilupakannya. Tak hanya surat, Delano juga mengirimkan buku-buku untuk bisa aku baca. Kiriman pertama yang sangat berarti untukku setelah aku setiap hari selalu menantikannya.


"Lissa, jadi bagaimana? Apa Delano baik-baik saja di London?" Hana yang sejak tadi memang terus memperhatikanku, tiba-tiba langsung menanyakan hal itu di saat aku baru setengah membaca surat dari Delano.


"Iya, dia baik-baik saja."

__ADS_1


"Cie, cie, berarti setelah bebas kayanya lo akan langsung jadi Nyonya Delano nih. Sekarang sudah ya, lo jangan murung lagi!"


Menurutku kesimpulan itu terlalu cepat dipikirkan oleh Hana. Padahal aku sendiri tidak berani berangan-angan tentang hal itu karena aku mulai merasa tidak pantas untuk Delano.


"Sepertinya tidak akan, Na. Aku sadar diri bahwa aku dan Delano sudah ada di level yang berbeda. Dia nanti akan jadi sarjana lulusan S2, sedangkan aku hanya tamat di bangku SMA. Mungkin aku hanya akan bersahabat saja dengannya." Saat mengatakan itu entah kenapa ada rasa sakit yang kian terasa menusuk hatiku. Sakit yang sulit aku gambarkan dan hanya bisa aku rasakan.


"Yakin lo? Kalau ternyata Delano enggak peduli semua itu bagaimana? Apa lo tetap mau nolak?"


"Lagian kenapa sih lo harus mikirin pendidikan dan status lo? Gue kasih tahu sama lo, kalau orang sudah cinta enggak akan peduli mau lo mantan narapidana atau hanya lulusan SMA sekalipun? Cinta ya cinta, enggak ada alasan, enggak ada pertimbangan apa pun!"


Di tengah rasa bimbangku, tiba-tiba Reni ikut mengomentari apa yang aku bicarakan dengan Hana.


"Lah, bukannya tadi lo tidur, Ren? Ternyata malah nguping."

__ADS_1


Reni pun mulai duduk dari posisi yang semula tertidur. "Habis kalian berdua berisik. Orang mau tidur malah ngomong terus."


"Ada juga lo yang aneh, Ren. Orang mah tidur malam, ini tidur siang sudah kaya anak kecil lo."


Pertengkaran keduanya malah membuatku mulai merasa pusing. Aku pun tak memedulikan mereka dan lebih memikirkan perkataan Reni yang jika semakin aku pikir, malah ada benarnya juga.


"Apa mungkin Delano mau menerimaku? Pendidikanku yang hanya lulusan SMA ditambah lagi statusku hanyalah seorang narapidana," batinku mulai merasa tak pantas jadi mendampingi Delano yang berpendidikan tinggi.


Di saat mereka masih berdebat, aku pun kembali membaca surat dari Delano yang belum selesai aku baca. Hingga di paragraf akhir dari isi surat itu, Delano memberi tahu bahwa Almira saat ini sedang mengandung anak Mas Denis dan usia kandungannya baru berjalan 8 Minggu. Jujur, aku merasa bingung antara harus bahagia atau marah saat mengetahui kabar ini. Kabar yang membuat hatiku kian bergejolak..


"Pantas saja Mas Denis sama sekali tidak pernah datang mengunjungiku, ternyata dia sudah bahagia bersama Mira," batinku coba menguatkan hati yang sedikit lemah karena merasa kebahagiaan itu seharusnya adalah milikku dan bukan milik Almira.


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2