
Selamat membaca!
2 tahun berlalu dengan begitu cepat, banyak yang berubah dari hidupku saat ini. Selain menjalani bisnis Al Craft Production, aku juga harus terbiasa dengan peran baruku sebagai seorang istri dari Delano dan juga ibu dari Keisha yang saat ini sudah tinggal di rumahku. Rumah baru yang memang disiapkan oleh Delano untukku.
"Sayang, kamu sudah siap belum?" Delano terdengar bertanya dari depan kamar saat aku baru saja selesai mengenakan pakaian.
"Iya, Sayang. Ini sudah selesai kok." Tak ingin membuat Delano menunggu lebih lama, aku pun keluar dari kamar. Hari ini, aku dan Delano memang sudah berencana akan membawa Keisya untuk pertama kalinya datang ke makam orang tuanya. Sesuatu yang sudah aku tunda sejak lama. Namun, di usia Keisya yang kini menginjak 4 setengah tahun, aku merasa ada baiknya untuk mengajaknya agar dia tahu tempat peristirahatan terakhir orang tuanya.
"Mama lama banget sih siap-siapnya." Begitu aku keluar kamar, Keisya sudah menyambutku dengan celotehannya. Ya, begitulah Keisya. Dia tumbuh menjadi anak baik yang manis dan cantik. Bahkan jika melihatnya, aku seperti melihat sosok diriku ada dalam dirinya. Entah kenapa kebiasaan dan gaya bicaranya sangat mirip denganku. Apakah di saat Almira hamil dia selalu memikirkanku? Mungkin saja, tetapi aku tidak bisa memastikannya karena aku sudah tak lagi memiliki kesempatan untuk menanyakan hal ini pada Almira. Hanya ada beberapa kalimat yang sempat diucapkannya saat pertemuan terakhir kami di rumah sakit, yaitu permintaan maaf dan dia juga tidak lupa menitipkan Keisya padaku. Setelah itu, Almira tidak mengatakan apa-apa lagi dan mengembuskan napas terakhirnya sesaat setelah dia mengangguk menjawab permintaan maafku. Ingatan itu seolah membawa pikiranku jauh ke belakang. Tentu saja momen itu jadi yang terkelam dalam hidupku, bahkan lebih buruk dari saat aku mendengarkan vonis dari hakim. Momen di mana aku kehilangan adik kembarku untuk selama-lamanya.
"Mah, kenapa malah melamun?" Keisya kembali bertanya padaku saat melihat aku termenung di ambang pintu kamar.
"Enggak apa-apa, Sayang. Ya sudah yuk jalan! Papa ke mana?" tanyaku pada Keisha yang sudah tepat berada di sampingku.
"Papa, lagi manasin mobil katanya."
"Ya sudah kalau begitu, ayo kita susul, Papa!" Aku pun langsung menggenggam tangan Keisya. Mulai melangkah beriringan menuju teras rumah.
__ADS_1
"Maaf ya, Sayang. Aku kelamaan ya," ucapku sesaat setelah keluar dari rumah sambil mengunci pintu.
"Enggak apa-apa kok, ayo kita jalan! Aku itu hanya takut kalau kita berangkat lebih siang nanti jalanan macet, maklum ini kan hari Minggu dan tanggal muda lagi."
"Iya kamu benar juga ya. Ya sudah yuk kita jalan!" Aku pun masuk ke dalam mobil dan duduk bersama Keisya di belakang kursi kemudi.
Sepanjang perjalanan Keisya tak pernah berhenti bertanya apa itu pemakaman. Tentu saja dia masih tidak paham di usianya saat ini dan aku sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaannya agar dia lebih mudah memahami. "Pemakaman itu adalah tempat di mana orang-orang yang sudah meninggal beristirahat dengan tenang, Sayang," ucapku setelah sempat terdiam karena berpikir.
"Kenapa orang-orang itu tidak beristirahat di tempat tidur aja, Mah? Kenapa harus di pemakaman? Bukankah enak jika beristirahat di tempat tidur, apalagi kalau tempat tidurnya seperti yang ada di kamar Mama, besar dan empuk banget."
Aku melihat Keisya hanya diam. Mungkin dia sedang mencerna ucapanku yang baru pertama kali didengarnya saat ini.
"Kalau kamu tidak mengerti tidak apa-apa. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu pasti akan mengerti. Jadi, jangan kamu pikirkan ya, Sayang!" Sambil mengusap pucuk kepala Keisya aku mengatakan itu dengan perlahan. Berharap agar dia mau mengerti apa yang aku maksud. Aku memang sering membaca di berbagai buku parenting jika anak seusia Keisya memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan akan lebih sering bertanya tentang apa pun yang baru pertama kali didengar atau dilihatnya.
"Aku ngerti kok, Mah." Keisya tersenyum sambil melihatku. Senyuman yang begitu menggemaskan hingga aku pun langsung mencium pipinya dengan lembut.
"Mama sayang sama Keisya."
__ADS_1
"Aku juga sayang sama Mama."
"Cuma sama Mama aja nih, Kei. Sama Papa enggak?" Tiba-tiba Delano yang sejak tadi fokus dengan kemudinya menimpali perkataan Keisya.
"Aku juga sayang kok sama Papa."
Suasana di dalam mobil saat ini benar-benar membuatku merasa haru. Tidak mudah untuk aku dan Delano memutuskan hal ini. Memperkenalkan diri kami sebagai orang tua Keisya setelah membaca surat peninggalan Mas Denis yang dikirimkan padaku. Sebuah surat yang membuatku begitu tercekat. Ya, dalam isi surat itu, Mas Denis menyampaikan permohonan agar aku dan Delano bisa mengangkat Keisya sebagai anak. Di surat itu juga Mas Denis menyerahkan seluruh harta kekayaannya pada Keisya yang membuat anak itu langsung menjadi seorang milyuner di usianya yang masih belia. Namun, tak hanya itu saja, Mas Denis juga mengatakan dalam surat yang ditulisnya bahwa dia ingin saat meninggal di makamkan tepat di sebelah Almira agar dia bisa selalu dekat dengan mendingan istrinya.
Tadinya aku pikir itu hanya sebuah keinginan yang aku sendiri tidak tahu kapan terjadinya. Akan tetapi, selang satu Minggu berlalu sejak surat itu aku terima, aku mendapati kabar bahwa Mas Denis ditemukan overdosis obat penenang di sebuah kamar hotel. Ya, sejak mengantar Keisha ke rumah ibuku, dia memang tidak pernah lagi menemui Keisya dan seolah-olah menghilang hingga sulit aku temui karena dia sama sekali tidak pernah pulang ke rumah atau datang ke perusahaannya.
"Sekarang kalian enggak perlu khawatir lagi soal Keisha karena aku dan Delano akan selalu menjaga dan menyayanginya seperti anak kami sendiri," batinku penuh rasa haru sambil mengingat pesan terakhir dari Almira dan Mas Denis. Pesan di mana keduanya menitipkan Keisha padaku.
Bersambung ✍️
...Halo, Bestie. Yuk baca juga novel Author yang lain, judulnya, Istri Satu Miliar. Seorang wanitA yang harus terjebak dalam sebuah kontrak yang telah disepakati dengan atasannya. Hingga akhir, kesuciannya harus terenggut dan terjebak dalam perasaan antara benci juga cinta....
__ADS_1