
Selamat membaca!
Sejak kunjungan pertamanya, di hari-hari berikutnya Delano melakukan kunjungan secara rutin. Bahkan dalam satu Minggu dia bisa datang sebanyak 3 kali untuk mengunjungiku. Awalnya aku memang menolak karena masih begitu marah dengan semua kenyataan yang baru aku ketahui darinya satu Minggu yang lalu. Akan tetapi, dia bersikeras ingin menemuiku hingga Bu Retno menasehatiku untuk memberi kesempatan pada Delano. Bu Retno juga mengatakan padaku bahwa dia terlihat begitu tulus karena meskipun berulang kali aku tolak, tetapi Delano tetap datang seolah tidak menyerah untuk tetap menemuiku.
Pada akhirnya setelah 3 kali menolak kunjungannya, pada kunjungan keempat dan seterusnya aku mulai menemui Delano. Dia membawakan banyak makanan yang tidak pernah lagi aku makan selama berada di penjara. Tak hanya itu, Delano juga membawakan aku beberapa buku-buku untuk aku baca. Sepertinya dia masih ingat dengan hobiku yang memang sangat suka membaca novel.
Perlahan, tetapi pasti. Kehadiran Delano dalam keterpurukan yang sedang aku alami mulai melunakkan hatiku yang sempat membatu. Bahkan seiring berjalannya waktu hubungan kami menjadi semakin dekat dan aku sudah tidak lagi mengingat kesalahan yang pernah dilakukannya dulu. Bagiku setiap manusia pasti tidak akan luput dari kesalahan karena siapa pun pernah melakukan hal itu. Hanya saja bagaimana caranya seseorang itu memperbaiki kesalahannya dan menurutku, Delano benar-benar membuktikan bahwa dia memang sungguh-sungguh ingin menebus kesalahannya seperti apa yang pernah dikatakannya saat pertama kali datang mengunjungiku.
Di saat aku tengah melamun dengan masih mematutkan diriku di depan cermin, Hana tiba-tiba datang mengejutkanku. "Woi, kenapa bengong?"
Dia memukul pundakku hingga aku tersentak kaget dan langsung menoleh untuk melihatnya. "Ih, apa sih? Ngagetin saja kamu ini!" Protesku sambil mencubit pinggang Hana dengan sedikit keras.
"Sakit tahu." Dia beringsut mundur, menghindari cubitan yang sekali lagi aku arahkan pada pinggangnya.
__ADS_1
"Lagian suruh siapa kamu ngagetin aku segala."
"Sudah ah, ampun, ampun. Aku itu kan cuma nanya kamu kenapa bengong? Memangnya lagi mikirin apa sih?"
Aku pun berhenti untuk mencubitnya. Lalu, kembali duduk bersila dan menatap cermin kecil yang sejak tadi aku genggam. Cermin yang diberikan Delano padaku, bahkan dia juga memberikan aku sisir sampai ke peralatan mandi sesuai yang aku mau. Sejak saat itulah sebelum dia datang aku selalu memperhatikan penampilanku. Mungkin karena aku tidak ingin terlihat buruk di matanya.
"Oh aku tahu ... pasti karena pria itu mau datang ya? Jangan-jangan kamu jatuh cinta lagi sama pria itu?" Pertanyaan Hana seketika membuatku tersadar dan dengan cepat langsung membantahnya.
"Lho memangnya kenapa? Bukannya adik kamu juga malah lebih parah sampai merebut suami kamu dan membuat kamu masuk penjara seperti ini! Pokoknya kalau 8 bulan lagi aku keluar dari penjara, aku akan menemui adikmu itu untuk memberi tahu padanya kalau apa yang dilakukannya padamu, itu benar-benar jahat."
"Sudah ah, Na. Kamu enggak usah bahas-bahas adik kembarku itu. Jadi, bikin mood-ku rusak tahu. Padahal hampir beberapa hari ini aku sudah lupa sama Mira, tetapi kamu malah mengingatkan aku lagi."
"Lah, kok kamu jadi marah sih. Maksud aku itu, kalau kamu memang jatuh cinta sama Delano ya enggak apa-apa juga. Enggak usah mikir dia pernah dekat sama adik kamu segala! Soalnya adik kamu sendiri saja tega merebut suami kamu."
__ADS_1
Aku memang sudah banyak menceritakan masalah hidupku pada Hana, termasuk alasan kenapa aku bisa masuk penjara saat ini. Makanya, dia jadi begitu marah saat mendengar cerita dariku bahwa alasanku masuk penjara adalah karena laporan dari adik beserta suamiku sendiri.
Di tengah percakapanku dengan Hana, tiba-tiba Bu Retno datang dan langsung memanggilku. "Lissa."
Tanpa bertanya, aku pun berdiri setelah meletakkan cermin yang aku genggam. Aku sudah tahu bahwa kedatangan Bu Retno pasti ingin menjemputku karena Delano sudah datang. Ya, seperti biasa, dia memang selalu datang di hari dan jam yang sama hingga aku bisa dengan mudah menghafalnya.
"Kenapa ya akhir-akhir ini setiap ingin bertemu Delano jantungku selalu berdetak tak karuan. Apa jangan-jangan yang dikatakan oleh Hana benar?" Setelah sempat memikirkan itu sambil terus melangkah keluar dari sel tahanan, aku pun dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak, tidak, aku tidak boleh jatuh cinta dan salah memilih lagi. Aku enggak mau memulai hubungan dengan keraguan. Lagi pula Delano bisa perhatian dan baik padaku pasti hanya karena ingin mendapatkan maaf dariku saja dan tidak lebih dari itu." Di dalam hati, aku kembali dibuat bingung dengan perasaanku. Mungkinkah ada cinta yang terselip di hatiku untuk Delano. Pria yang beberapa hari ini memang selalu ingin aku temui.
Bersambung ✍️
...Halo, Bestie. Yuk baca juga novel Author yang lain, judulnya, Istri Satu Miliar. Seorang wanita yang harus terjebak dalam sebuah kontrak yang telah disepakati dengan atasannya. Hingga akhir, kesuciannya harus terenggut dan terjebak dalam perasaan antara benci juga cinta....
__ADS_1