
Selamat membaca!
Selama beberapa detik aku hanya bergeming dalam keterdiamanku. Mengabaikan pertanyaannya dan hanya menatap kosong saat mengingat semua kesalahan yang telah aku lakukan di masa lalu.
"Kamu enggak perlu menjawabnya kalau kamu memang enggak tahu jawabannya. Saat ini, yang terpenting kamu sudah menyadari semua kesalahanmu, apalagi kamu sampai membunuh janin yang tidak berdosa hanya karena takut rahasiamu diketahui oleh Denis. Jujur saja saat mendengar itu dari Mira, awalnya aku sangat terkejut. Bagiku semua itu seperti mimpi karena orang yang telah membunuh anakku adalah kamu."
Perkataan Delano seketika mengingatkan aku dengan apa yang dikatakannya sewaktu di rumah sakit. Hal yang memang belum sempat aku pastikan karena waktu itu aku sedang berperan sebagai Almira.
"Jadi, anak itu memang benar anak kamu dan bukan anak Mas Denis? Apa kamu serius?" tanyaku masih penasaran dengan cerita di balik semua itu.
"Iya, anak yang ada dalam kandungan Mira memang anakku."
Aku masih terdiam. Mencerna apa yang dikatakan oleh Delano dengan berpikir keras. "Bukankah waktu itu Mira menggantikan posisiku di malam pertamaku dengan Mas Denis? Jadi, kenapa anak yang ada dalam kandungan Mira malah anakmu dan bukan anak Mas Denis?" Daripada hanya menebak-nebak, pada akhirnya aku pun memperjelas apa yang baru saja aku dengar. Walaupun sebenarnya aku memang sudah mengetahui semua itu sejak pertama kali bertemu Delano di rumah sakit.
__ADS_1
"Karena setelah malam pertama dengan Denis, dua hari kemudian Mira haid. Makanya, aku sangat yakin jika itu bukanlah anak Denis."
Jawaban yang diberikan oleh Delano semakin melengkapi kepingan puzzle yang sebelumnya sulit aku temui jawabannya.
"Apa Mas Denis tahu tentang kenyataan ini? Tapi, kalau aku pikir-pikir Mira pasti tidak akan membiarkan Mas Denis tahu semua kebenaran tentang kehamilannya itu," batinku coba menerka-nerka sesuatu yang tidak aku ketahui. Terlebih sejak masuk penjara aku sama sekali tidak mengetahui kabar dari Mas Denis ataupun Mira di luar sana, apa mereka jadi menikah seperti apa yang dikatakan Mas Denis saat terakhir kali bertemu denganku di rumah sakit.
"Maafkan aku ya, Lissa. Aku benar-benar tidak ada niat untuk membuat adikmu hamil. Semua masalah yang menimpamu juga bermula dari aku yang lari dari tanggung jawab. Aku terlalu pengecut saat Mira memberi tahu kehamilannya."
Delano tidak langsung menjawabnya. Aku dapat melihat jika dia seperti mengingat-ingat sesuatu sebelum mulai menjawab pertanyaanku. Raut wajahnya pun tampak sendu. Aku yakin dia benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku. Lebih tepatnya, selain merasa simpati dia juga berpikir bawah akar masalah yang menimpaku dan juga Almira bermula dari penolakannya saat adik kembarku memintanya bertanggung jawab.
"Jadi, kalau aku boleh jujur sebenarnya niat aku datang ke Jakarta adalah untuk menemuimu, tapi saat aku tahu kalau kamu sudah menikah dengan Denis, aku jadi merasa sangat sedih. Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Mira saat kuliah. Aku pikir awalnya wanita itu adalah kamu, tapi setelah aku mencari tahu, barulah aku tahu kalau ternyata itu adalah adik kembarmu dan semenjak itulah aku dan Mira semakin dekat karena aku seperti melihat kamu dalam diri Mira."
"Sedih? Kenapa kamu harus merasa sedih saat mengetahui aku sudah menikah?" Karena penasaran, aku pun bertanya maksud Delano mengatakan itu.
__ADS_1
"Karena kamu adalah cinta pertamaku sejak SMP, Lissa. Makanya, aku memutuskan untuk mencari kamu ke Jakarta. Tapi sayangnya, ternyata aku terlambat." Pengakuan Delano membuatku sedikit terkejut. Namun, aku pikir semua itu sudah terlambat. Tidak mungkin juga jika aku harus membuka hati untuk seorang pria yang telah menghamili adikku, bahkan dia sampai tidak berani bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.
"Sekarang aku mengerti. Jadi, karena kamu menolak bertanggung jawab, Mira sengaja memberi tahu aku kalau anak yang ada dalam kandungannya adalah anak Mas Denis agar anak itu memiliki seorang ayah." Akhirnya aku bisa menyimpulkan semua yang Delano ceritakan padaku setelah sempat berpikir cukup lama.
"Iya, Lissa. Makanya, aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya atas tindakan yang telah kamu lakukan karena kalau saja Mira tidak berbohong dan mengatakan padamu jika anak itu adalah anak Denis, pasti semua ini tidak akan terjadi. Kamu tidak akan berpikir untuk membunuh anak itu." Raut wajah Delano semakin sendu. Menatapku dengan penuh rasa bersalah yang jelas terlihat di kedua manik matanya. "Sekali lagi aku minta maaf, Lissa. Aku tahu kamu pasti akan sangat membenciku setelah ini, tapi tolong izinkan aku tetap menjadi temanmu agar aku bisa menebus semua kesalahanku!"
Aku masih menatap Delano dengan penuh ketidaksukaan. Lebih tepatnya, mulai membencinya setelah mendengar semua yang dia katakan sekalipun dia sudah meminta maaf padaku.
Bersambung ✍️
...Ayo ramaikan novel Author yang satu ini ya. Dijamin enggak kalah seru lho. Ditunggu komentarnya di sana ya. Terima kasih....
__ADS_1