Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Pembalasan


__ADS_3

Selamat membaca!


Di saat aku baru saja akan mengakhiri semua pikiran tentang kecurigaanku terhadap Mas Denis dan Almira, tiba-tiba semua itu kembali saat Mas Denis menawarkan sesuatu yang membuatku sampai tersedak nasi goreng yang baru saja aku masukkan ke dalam mulutku. Suapan pertama pun aku akhiri dengan meminum segelas air putih.


"Apa, Mas? Kamu mau bareng sama Mira?" tanyaku dengan menautkan kedua alis begitu dalam. Seharusnya Mas Denis bisa langsung menebak jika aku tidak setuju atas apa yang dia tawarkan pada adik kembarku.


"Kenapa, Lissa? Kok kamu seperti enggak setuju sih? Padahal bukannya bagus. Jadi, Mira bisa menghemat ongkos untuk berangkat ke kampus."


"Tapi, Bu ... setahu aku tempat kerja Mas Denis dan kampus Mira itu tidak searah. Aku takut nanti Mas Denis malah terlambat bekerja." Aku pun beralasan demikian agar ibu mendukung penolakanku terhadap tawaran Mas Denis yang benar-benar membuat pikiran semakin tidak tenang.


"Kamu tenang saja, Lissa! Lagi pula kan suami kamu sendiri yang menawarkan Mira. Itu artinya, Denis tahu bahwa dia tidak akan terlambat. Bukan begitu, Denis?"

__ADS_1


Aku seakan tidak berkutik setelah mendengar perkataan itu. Terlebih saat Mas Denis membenarkan apa yang ditanyakan oleh ibuku.


"Iya, Bu." Mas Denis pun tersenyum setelah mengiyakan pertanyaan itu. Lalu, mengalihkan pandangan matanya dengan melihatku yang semakin resah karena tak menyangka jika suamiku akan mengajak Almira berangkat bersamanya. "Lagi pula aku hanya berputar tidak lebih dari 800 meter kok untuk kembali ke rute perjalananku ke kantor dari kampus Mira. Jadi, kamu tidak perlu cemas ya, Sayang! Pagi ini, aku juga tidak ada urusan kantor yang terlalu mendesak karena jadwal meeting dengan klien baru akan di mulai jam 11 siang."


Aku hanya diam tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi. Di satu sisi, aku tetap tidak setuju apa pun alasan Mas Denis. Tetapi, aku benar-benar tidak berdaya karena di depan ibuku, aku tidak mungkin sampai melarangnya.


Di tengah rasa kesalku, tiba-tiba aku mulai merasakan sakit yang begitu melilit pada bagian perutku. Sakitnya bahkan sampai membuat kedua mataku berair. "Ya Tuhan, kenapa perutku bisa sesakit ini ya?" Aku meremas perutku dengan cukup erat. Menahan rasa sakit yang kian menjalar ke seluruh tubuh. Tanpa menggubris pertanyaan dari Mas Denis dan juga ibuku, aku pun bangkit dari posisi duduk, lalu beranjak pergi meninggalkan ruang makan. Tentu saja tujuanku hanya satu, yaitu kamar mandi yang kebetulan hanya berjarak beberapa langkah dari ruang makan. Namun saat aku melewati Almira, aku sempat melihatnya tersenyum sinis ke arahku. Dia seolah tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku.


Di dalam kamar mandi, aku merasakan sakit yang luar biasa pada bagian perutku. Sakit yang tiba-tiba menarik ingatanku jauh ke belakang. Tepat saat di mana aku mencampur obat penggugur kandungan ke dalam makanan adikku hingga Almira sampai kehilangan janinnya. Bahkan dia nyaris kehilangan nyawanya karena begitu kesakitan.


"Apa dia sedang membalasku atas apa yang aku lakukan waktu itu? Mira sungguh keterlaluan. Dia tega menaruh sesuatu di nasi goreng yang aku makan demi membalaskan dendamnya."

__ADS_1


Tiba-tiba suara Mira terdengar dari depan pintu dan itu sungguh mengejutkanku karena dia ternyata menunjukkan rasa cemas atas apa yang terjadi padaku. "Kak, kamu kenapa? Apa perlu aku panggilkan dokter?"


Aku pun mulai berpikir. Memutar otakku dengan keras dan beranggapan bahwa semua perhatiannya itu hanyalah bagian dari rencananya. "Kamu jangan pura-pura tidak tahu, Mira! Kamu kan yang membuatku jadi seperti ini? Ngaku deh, Mira!" Dengan lantang aku pun mengatakannya karena begitu sulit menahan amarah pada adik kembarku saat ini.


Selama beberapa detik, Mira hanya diam di depan kamar mandi. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari mulutnya hingga kekesalanku kian memuncak. "Dasar adik tidak tahu diri! Kenapa kamu sampai tega melakukan semua ini terhadap Kakakmu sendiri?"


Seketika suara kekehan Almira mulai terdengar, walau mungkin seperti ditahannya. Mungkin saja dia tidak ingin jika kesenangannya saat menyakitiku sampai diketahui oleh ibu dan juga Mas Denis. "Kalau kamu mengatakan aku tega, apa kabar denganmu, Kak? Kenapa kamu tega terhadap adikmu sendiri? Apa aku harus memanggilmu pembunuh karena telah membuat janin yang tidak berdosa kehilangan nyawanya?"


Perkataan itu seakan menampar keras wajahku. Aku terdiam tanpa bisa membalas perkataannya dan sibuk menahan rasa sakit pada perutku sambil berpikir bahwa apa yang dikatakan Almira memang benar adanya. Ini semua bermula dari kesalahanku. Aku yang memulainya dan saat ini, aku seperti mendapatkan karma atas semua kesalahanku.


Bersambung ✍️

__ADS_1


__ADS_2