
Selamat membaca!
Aku mulai membuka kedua mataku dengan perlahan. Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri hingga membuat kepalaku terasa begitu berat.
"Di mana ini?" Pertanyaan itu terlontar dari mulutku. Pandanganku masih tampak kabur dan belum jelas melihat keadaan di sekitarku.
Sampai akhirnya, suara yang tidak asing terdengar memanggilku. Seketika aku menoleh ke arah sumber suara itu hingga memaksa kedua mataku untuk terbuka lebar saat melihat sosok pria yang aku kenal duduk di sebelahku. "Fadhly ... di mana ini?" Tentu saja aku sangat terkejut saat melihatnya. Dengan cepat, aku pun langsung bangkit dari posisi dudukku, menjaga jarak darinya yang tepat berada di sebelahku dan terus menatapku.
"Kamu tenang dulu, Lissa! Sekarang ini kamu di rumahku."
Aku benar-benar tidak menyangka mendengar jawaban Fadhly. Bagaimana bisa dia membawaku ke rumahnya? Kenapa tidak ke rumah sakit? Entahlah, tetapi satu hal yang aku pikirkan saat ini, aku benar-benar merasa takut selama aku tidak sadarkan diri, dia melakukan hal buruk padaku. "Ya Tuhan, apa dia menyentuh tubuhku?" Membayangkannya saja sudah membuat kedua mataku berkabut. Sulit rasanya menahan kesedihan jika semua ketakutanku sampai terbukti benar.
__ADS_1
"Tenang, Lissa! Kamu jangan berpikir macam-macam dulu."
"Kenapa kamu harus membawaku ke rumahmu? Jangan bilang kamu sudah menyentuhku saat aku pingsan?"
"Tidak, Lissa. Aku tidak melakukan seperti apa yang kamu pikirkan."
Di saat dia coba mendekatiku, aku semakin menjauh, beringsut ke belakang hingga ke sisi ranjang yang berlawanan dengan Fadhly. Sampai akhirnya, pintu kamar terbuka dan aku melihat seorang wanita masuk bersama seorang pria yang membuat ketakutanku seketika sirna.
"Lissa, apa kamu baik-baik saja?" Aku mendengar pertanyaan itu yang terucap dari mulut Delano saat dia mendekatiku. Raut wajahnya tampak begitu cemas. Sepertinya dia benar-benar khawatir padaku. Namun, dari kedatangan Delano saat ini, aku jadi bertanya-tanya atas apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa suamiku bisa datang ke rumah Fadhly dan siapa wanita yang masuk ke kamar ini bersamanya?" Tiba-tiba ingatan tentang apa yang aku lihat sewaktu di kantornya kembali mengusikku. Aku pun menjawab dengan ketus pertanyaan dari Delano tanpa menatapnya, "Aku enggak apa-apa."
__ADS_1
Setelah mendengar jawabanku, dia kembali mengatakan sesuatu yang membuatku langsung menatapnya, "Apa kamu marah sama aku? Tadi kamu datang ke kantor aku ya?"
"Jadi, dia sudah tahu aku datang ke kantornya. Apa dia berusaha mencariku saat tahu dari resepsionis tentang kedatanganku?" batinku tak ingin menanyakan langsung pada Delano. Aku lebih memilih diam tanpa mengatakan apa-apa.
"Ya sudah kalau kamu enggak mau jawab, enggak apa-apa. Sekarang yang penting aku lega karena kamu baik-baik saja. Tadi Pak Fadhly ini yang menemukan kamu, Lissa. Dia menghubungi aku dari ponselmu. Makanya, aku cemas dan langsung ke sini." Setelah mengatakan hal itu padaku, Delano mengalihkan pandangan matanya melihat Fadhly dan juga seorang wanita yang tepat berdiri di sebelahnya. "Terima kasih sekali lagi karena telah menolong istri saya."
"Jadi, wanita itu bukan datang bersama Delano. Kalau dilihat-lihat aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana ya?" Sejenak aku menarik ingatanku ke belakang sambil bergumam dalam hati. Mengingat hal yang sudah lama sekali hingga membuat kedua alisku saling bertaut dalam.
Sampai akhirnya, ingatan itu berhasil aku temukan dalam memori yang tersimpan di pikiranku, aku begitu tercekat karena wanita itu ternyata adalah istri dari Fadhly. Seorang wanita yang telah aku lukai secara tidak langsung ketika aku diam-diam menjadi orang ketiga dalam pernikahannya. Walaupun aku sama sekali tidak mencintai suaminya dan hanya mengharapkan uangnya saja, tetapi saat ini aku merasa sangat bersalah karena pernah menjadi simpanan suaminya di masa lalu. Bahkan seingat aku, Fadhly pernah mengatakan jika mereka dia telah bercerai dari istrinya. Jadi, mungkinkah sekarang mereka sudah kembali bersama.
Di tengah rasa bersalah dan begitu banyak pertanyaanku tentang semua ini, ada rasa takut yang tiba-tiba mulai mengusik pikiranku. "Ya Tuhan, kenapa aku dipertemukan kembali dengan mereka? Bagaimana jika Delano sampai tahu masa laluku ini? Apa dia akan menerimanya? Apa dia tidak akan marah padaku?" batinku terus memikirkan semua itu hingga membuat kepalaku terasa berdenyut hebat.
__ADS_1
Bersambung ✍️