
Selamat membaca!
Sepanjang perjalanan Mas Denis lebih banyak diam, bahkan ia hanya bicara di saat menjawab pertanyaanku tanpa berniat memulainya lebih dulu. Entah kenapa aku merasa suamiku tampak berbeda, aku bahkan seperti tidak mengenalnya. Bukan hanya dingin, tetapi dia juga bersikap acuh padaku. Tak ingin membuat suasana semakin tidak nyaman, aku pun coba menanyakannya, walau sebenarnya aku sempat merasa ragu.
"Mas, kamu kenapa sih, apa kamu masih marah soal yang tadi?" tanyaku setelah tidak tahan karena Mas Denis terus bersikap acuh dan bicara hanya saat aku bertanya saja.
Masih dengan mengendarai mobilnya, Mas Denis menoleh ke arahku. Melihat wajah cemasku menunggu jawabannya.
"Lebih baik kamu pikirkan sendiri saja apa kesalahanmu? Aku tidak mau membahasnya sampai kamu mengatakannya sendiri."
Jawaban itu seketika membuatku tergelak diam tanpa bisa berkata apa-apa. Bukan hanya merasa takut, aku juga benar-benar penasaran akan maksud Mas Denis mengatakan hal itu padaku.
"Kenapa Mas Denis bisa mengatakan itu? Apa dia sudah tahu apa yang aku lakukan selama ini?" batinku bergelut dengan pikiranku sendiri karena mendengar jawaban yang tidak terduga dari Mas Denis.
__ADS_1
Seketika rasa takut pun mulai menelusup masuk ke dalam pikiranku hingga membuatku gugup. "Tidak mungkin. Aku yakin Mas Denis tidak akan tahu tentang semua ini. Jadi, aku tidak akan mengakuinya, apalagi mengatakan pada Mas Denis tentang pertukaran yang aku lakukan dengan Mira di malam pertama kami. Aku tidak ingin dia sampai marah, apalagi menceraikan aku karena semua itu." Masih dengan bergumam di dalam hati, akhirnya aku memutuskan apa yang harus aku lakukan. Menepikan sejenak rasa takut yang sempat hadir dalam pikiranku.
"Apa maksudnya, Mas? Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua yang kamu katakan. Lagi pula aku tidak mungkin menyembunyikan sesuatu dari suamiku sendiri." Seperti biasa aku mulai memainkan sandiwara di hadapan Mas Denis. Berharap agar dia percaya bahwa aku memang tidak sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Mendengar jawabanku Mas Denis hanya diam. Dia sama sekali tidak melihatku. Masih tetap fokus dengan kemudinya tanpa sekalipun berniat menjawab apa yang tadi aku katakan.
"Mas, kenapa diam? Apa kamu tidak mempercayai istrimu sendiri?" tanyaku mendesak Mas Denis untuk percaya padaku, walau aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya.
"Ya Allah, Mas. Itu lihat rumah ibu hangus kebakar!"
Mas Denis pun melihat ke arah yang aku tunjukkan. Kedua matanya tampak melotot. Tentu saja aku dan Mas Denis tidak menyangka jika hal ini akan terjadi. Inilah yang membuat aku tak punya pilihan lain selain membawa ibu dan Almira tinggal sementara waktu di rumahku.
"Mas, aku duluan ya!" Tanpa menunggu Mas Denis, aku pun keluar dari mobil. Melangkah cepat sambil mengedarkan pandangan mataku untuk mencari keberadaan ibu dan Almira di tengah kerumunan orang yang masih tampak berusaha memadamkan api yang masih membakar rumah ibuku.
__ADS_1
Sampai akhirnya, kedua mataku dapat melihat jika ibu dan Almira tengah duduk di pinggir jalan sambil menangis meratapi rumah kami yang sudah benar-benar hangus terbakar.
"Ibu, Mira." Setelah tiba di hadapan mereka ibu langsung berdiri dari posisi duduknya, lalu mendekap erat tubuhku sambil menangis terisak karena rumah peninggalan almarhum ayahku habis terbakar tak tersisa. Sementara Mira hanya melihat kami dengan air mata yang kulihat juga terus membasahi kedua pipinya.
"Lissa, rumah kita hancur. Bagaimana ini, Lissa?" Ibuku terus menangis. Menumpahkan segala rasa sakit yang mungkin sejak tadi sempat tertahan sebelum kedatanganku.
"Sabar ya, Bu. Nanti setelah ini kita bangun lagi rumah itu! Pokoknya Ibu jangan sedih lagi! Sekarang Ibu dan Mira bisa tinggal di rumah aku dulu untuk sementara waktu sampai rumah ini selesai aku bangun kembali."
Tak lama berselang, Mas Denis pun datang tepat berdiri di sebelahku. Kulihat dia langsung menenangkan Almira agar berhenti menangis. Sebenarnya aku tidak mempersalahkan sikap dari suamiku yang memang sangat peduli terhadap keluargaku, termasuk adikku. Namun, saat aku melihat Almira memeluk Mas Denis, rasa cemburu bercampur amarah seketika menguasai diriku.
"Apa-apaan Mira? Kenapa dia sampai berani memeluk Mas Denis di hadapanku?" batinku menahan rasa kesal sambil masih mendekap tubuh ibuku yang belum berhenti menangis hingga detik ini.
Bersambung ✍️
__ADS_1