
Selamat membaca!
Aku pun melihat Fadhly masuk ke dalam ruangan bersama Delano yang sudah menatap wajahku dari kejauhan. Dia pasti tahu jika saat ini aku kaget dengan kedatangan Fadhly.
"Lissa, bagaimana kondisimu?" tanya Fadhly begitu tiba di sebelahku. Sementara Delano, baru saja meletakkan sebuah kado dan parcel buah berukuran besar di atas nakas yang sudah penuh dengan kado-kado lainnya dan juga beberapa parcel buah yang tadi diberikan oleh karyawan-karyawan di kantornya.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?"
Aku melihat Fadhly tersenyum sebelum menjawab apa yang aku tanyakan. "Pak Chandra adalah ayahku. Beliau tidak bisa datang. Jadi, aku yang mewakilinya."
Setelah sebelumnya terkejut karena kedatangannya, kini keterkejutanku semakin bertambah saat mengetahui status Fadhly yang ternyata adalah putra dari pimpinan perusahaan di mana Delano bekerja dan menjabat sebagai CEO di sana. "Kenapa dunia jadi begitu sempit ya?" Aku hanya bisa bergumam dalam hati sambil terus melihat Fadhly yang juga tengah menatapku seperti akan mengatakan maksud tujuannya datang menjengukku. Tentu saja aku menduga jika kedatanganya bukan hanya untuk mewakili ayahnya, tetapi juga untuk menyampaikan sesuatu padaku.
"Kedatangan saya ke sini, selain ingin menjengukmu, saya juga ingin minta maaf sama kamu dan Delano. Mungkin karena perkataan istri saya kemarin, kamu bisa jadi seperti ini. Jadi, mewakili Meisya, sekali lagi saya minta maaf ya."
"Pak Fadhly tidak perlu minta maaf, Bapak sama sekali tidak bersalah atas kejadian ini." Delano pun lebih dulu menjawab saat melihat aku masih terdiam. Aku tahu, dia pasti merasa tidak enak saat mendengar putra dari pimpinannya minta maaf padaku.
"Tapi saya tetap merasa jika semua ini pasti ada hubungannya dengan apa yang terjadi di rumah saya. Jadi, tolong terima permintaan maaf saya."
Kali ini, ada kesungguhan yang terbaca jelas dari sorot mata Fadhly. Membuatku dengan cepat langsung menjawab perkataannya tanpa banyak memikirkannya lagi. "Benar kata Delano, harusnya aku yang minta maaf sama Meisya. Jadi, aku akan datang ke rumahmu untuk meminta maaf secara langsung padanya. Kamu mau nemenin aku, kan, No?" Di akhir kalimat aku beralih menatap suamiku sambil tersenyum. Aku pikir ini adalah cara terbaik untuk menghapus masa laluku yang kelam. Lagi pula, bukannya Tuhan tidak akan memaafkan kesalahan yang telah aku lakukan selama aku belum minta maaf secara langsung kepada Meisya yang harus menderita dan tersakiti karena aku.
"Tentu saja aku mau, Lissa. Apa Pak Fadhly mengizinkan kami datang untuk menemui istri Bapak saat nanti Lissa sudah sembuh?" Delano langsung melontarkan pertanyaan pada Fadhly setelah menjawab apa yang aku tanyakan.
__ADS_1
"Sebaiknya tidak perlu. Saya tidak ingin ada pertengkaran lagi dan nantinya Meisya bisa melakukan hal yang lebih dari kemarin. Saat ini, saya masih belum bisa membuat istri saya mengerti. Jadi, sebaiknya kalian tidak perlu datang ya!"
Aku dapat mengerti perasaan Meisya, dia pasti sangat membenciku atas apa yang telah aku lakukan di masa lalu. Bukan hanya membuat pernikahannya menjadi sempat hancur, walau mereka akhirnya kembali, tetapi duka atas kehilangan anaknya pasti tidak akan sembuh begitu saja. Itu adalah duka terdalam bagi seorang ibu yang tengah mengandung anaknya.
"Walaupun kamu melarang, tapi aku akan tetap datang Fadh. Aku tetap harus minta maaf pada Meisya. Karena kalau tidak, aku tidak akan pernah bisa tenang, apalagi sekarang aku sudah tahu bahwa dia pernah mengalami keguguran yang disebabkan olehku. Hal yang dulu sama sekali tidak pernah kamu ceritakan."
"Baiklah, kalau memang itu keinginan kamu. Saya akan coba memberikan pengertian kepada istri saya kembali agar bisa memaafkan kamu sebelum kamu menemuinya. Kalau begitu sekarang saya permisi dulu ya." Fadhly pun pamit padaku dan juga Delano yang langsung menemani langkah pria itu keluar dari ruangan setelah mendengar ucapan terima kasihku karena telah repot-repot menyempatkan waktunya untuk datang menjengukku. Walaupun aku sebenarnya tidak ingin bertemu dengan Fadhly lagi, tetapi aku merasa semua ini belum berakhir selama aku belum mendapatkan maaf dari Meisya. Setidaknya aku baru bisa tenang dan melupakan masa laluku saat dia benar-benar ikhlas memaafkanku.
Selang beberapa menit Fadhly dan Delano keluar, suara riang dari Keisya terdengar memanggilku. Suara yang sejak semalam sangat aku rindukan.
"Keisya ...."
"Lissa, bagaimana keadaan kamu?" Tepat di belakang Keisya, ibu bertanya dengan nada yang terdengar begitu cemas. Aku lihat kedua matanya tampak sendu saat menatapku.
"Iya, bagaimana keadaan Mama? Mama baik-baik saja, kan? Aku kesepian enggak ada Mama di rumah."
"Mama enggak apa-apa, Sayang. Mama sehat kok. Kamu lihat sendiri, kan? Mama baik-baik saja."
Keisya melepas pelukanku. Dia berdiri dengan tegak sambil melihat seluruh tubuhku dari kepala hingga ujung kakiku. "Kalau Mama sudah sehat, selang itu kenapa masih dipasang di tangan kiri Mama? Terus tangan kanan Mama ini kenapa diperban?"
"Mama enggak apa-apa, Sayang. Ini tangan Mama hanya luka sedikit kok dan selang infus ini juga nantinya mau dilepas sama suster. Jadi, kamu enggak usah cemas lagi ya!" Dengan perlahan aku coba menghilangkan kekhawatiran Keisya. Aku tidak ingin jika dia sampai bersedih karena keadaanku. Keadaan yang seharusnya tidak perlu terjadi seandainya aku tidak melakukan hal bodoh itu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Aku sayang sama Mama. Mama jangan sampai kenapa-kenapa ya. Aku sedih kalau ngelihat Mama sakit." Keisya kembali memelukku. Kali ini pelukannya terasa lebih erat dari sebelumnya.
"Sudah ah, anak Mama jangan gitu dong! Mending kamu buka kado-kado yang ada di atas meja sana!"
"Kado ... kado apa, Mah?" Keisya mengalihkan pandangan matanya setelah melihatku, lalu dia mulai melihat tumpukan kado yang menggunung di atas nakas. "Wah, kadonya banyak, Mah. Itu buat Mama, kok Mama sakit malah dikasih kado sih, Mah?" tanya Keisya dengan polosnya. Saat ini, dia memang belum tahu kabar kehamilanku.
"Sayang, itu kado bukan untuk Mama kamu, tapi buat adik bayi."
"Adik bayi ...?"
"Iya, Sayang, Mama sekarang lagi hamil dan sebentar lagi kamu akan punya adik."
"Serius, Mah? Aku akan punya adik. Jadi, nanti aku ada yang nemenin dong saat main di kamar."
"Iya, Sayang. Nanti kamu akan punya teman main saat di rumah."
"Hore, hore, aku senang banget, Mah. Sebentar lagi aku akan punya adik bayi." Keisya melompat kegirangan. Dia benar-benar terlihat bahagia saat mengetahui berita kehamilanku ini. Tentu saja hal itu membuat aku ikut merasa bahagia.
"Ya Tuhan, terima kasih banyak atas anugerah ini. Semoga kebahagiaan yang kami rasakan ini akan selalu bisa terjaga. Sekarang, keluarga kecilku akan semakin lengkap dan aku benar-benar bersyukur atas semuanya," batinku menatap haru Keisya yang masih kegirangan setelah mendengar kabar kehamilanku
Bersambung ✍️
__ADS_1