
Selamat membaca!
Di saat pikiranku masih dipenuhi oleh tanda tanya yang semakin mengarah pada kecurigaan, tiba-tiba suara seorang pria datang dari arah belakangku. Pria itu pun langsung melewatiku dan berdiri tepat di sebelah Bella. Aku pun masih menatap penuh tanya tentang siapa pria yang kini ada di depan mataku.
"Anda nonton di sini juga, Pak?" tanya pria itu yang entah siapa namanya. Namun dari gaya bicaranya, dia terdengar begitu menghormati Delano.
"Iya, soalnya hanya mall ini saja yang searah dengan rumah saya."
"Ini pasti Ibu Lissa ya, Pak? Selamat ya, Bu, atas kehamilan Ibu. Maaf saat Ibu masih di rumah sakit saya tidak bisa datang karena ada beberapa meeting yang saya harus handel selama Pak Delano tidak masuk kantor."
Dari ucapan pria itu, aku langsung dapat menebak jika pria yang kini ada di hadapanku adalah asisten suamiku di perusahaan.
"Tidak perlu dipikirkan. Dengan membantu pekerjaan suami saya, itu sudah lebih dari cukup. Terima kasih ya." Setelah beberapa detik hanya diam untuk mencerna ucapannya, aku pun menjawab apa yang dikatakan asisten Delano yang sampai saat ini masih belum aku ketahui siapa namanya.
"Lissa, kenalin ini asistenku di kantor, namanya Alvin Prasetya. Dan, Bella adalah pacarnya."
Tentu saja aku terkejut dengan apa yang dikatakan oleh suamiku. Namun, setidaknya perkataan itu mampu menghilangkan rasa curiga yang sempat mengusik ketenanganku. Aku pun tersenyum. Menatap wajah suamiku dan kembali percaya bahwa dia memang laki-laki baik yang tidak mungkin mengkhianatiku.
"Apa jangan-jangan saat Bella menangis di ruangan suamiku ada Alvin juga di sana?" batinku masih penasaran tentang semua itu. Pada akhirnya, aku pun memutuskan untuk bertanya pada Delano setelah Alvin dan Bella pergi karena mendengar panggilan dari announcement bahwa ruangan tempat mereka menonton sudah di buka.
__ADS_1
"No, aku boleh tanya sesuatu, kan?" Dengan perasaan tidak enak aku coba meminta izin lebih dulu. Berharap Delano tidak keberatan atas pertanyaan yang nanti akan aku katakan.
"Tanya saja, Sayang. Kenapa?"
"Aku kan belum sempat tanya sama kamu tentang wanita yang ada di ruang kerjamu saat aku datang ke kantor kamu, apa wanita itu adalah Bella?"
Delano menatapku setelah menghentikan langkah kakinya. "Wanita itu memang Bella, tapi saat itu, aku tidak ada di dalam ruanganku karena setelah Alvin datang, aku memutuskan untuk keluar dari ruangan dan meninggalkan mereka di sana."
"Jadi, begitu ceritanya."
"Ya, saat itu mereka memang sedang punya masalah karena Pak Chandra tidak merestui hubungan mereka. Meskipun begitu, Bella tetap ingin mempertahankan hubungannya dengan Alvin, walau harus sembunyi-sembunyi seperti sekarang ini."
"Ya begitulah. Memangnya kenapa kamu masih kepikiran tentang hal itu? Apa jangan-jangan kamu sempat berpikir kalau Bella menangis dalam pelukan aku ya?" Delano terlihat sedang menginterogasiku. Membuatku aku jadi gugup dan merasa malu untuk menjawabnya.
"Maaf ya, No ...." Hanya kata-kata itu yang akhirnya terucap setelah aku bingung harus menjawab apa. Sejujurnya aku tidak ingin punya pikiran yang aneh-aneh. Namun, entah kenapa semua itu sulit dikendalikan. Rasa cemburu itu bisa hadir tiba-tiba di saat aku mulai merasa takut kehilangan suamiku.
"Enggak usah minta maaf, Sayang. Aku senang kalau kamu cemburu seperti ini. Itu tandanya, kamu benar-benar cinta sama aku." Delano mengatakan itu sambil menyenggol lenganku dengan sedikit bertenaga. Dia seperti sedang menggodaku karena dia tahu aku sempat cemburu pada Bella.
"Ih, apa sih kamu? Kamu jadi kepedean begini sih. Aku tuh enggak cinta sama kamu." Aku sengaja mengatakan itu sambil berlalu melewati tubuh Delano tanpa melihatnya.
__ADS_1
"Lissa, kok kamu begitu sih?" Dengan langkah cepat, Delano menyusulku. Tak ada lagi suara bahagia seperti sebelumnya. Dia terdengar murung bagai kehilangan tenaga untuk bersuara.
Mengetahui Delano mengejarku, aku pun mempercepat langkah kakiku agar tidak dapat disusul dengan mudah oleh suamiku. Sampai akhirnya, setelah tiba di parkiran mobil, Delano berhasil mendekap tubuhku tepat di samping mobil kami.
"Coba katakan sekali lagi kalau kamu enggak cinta sama aku!" Delano menatapku dengan begitu dalam. Sorot matanya benar-benar memesona di mataku. Membuatku jadi terdiam karena selain tatapan matanya, wajah tampan suamiku sangat nyaman untuk terus kupandangi.
"Aku bukannya enggak cinta, No. Tapi, cinta banget." Dengan lincah aku berhasil melepaskan diri. Masuk ke dalam mobil lebih dulu setelah aku membuka central lock mobil dengan kunci yang aku genggam, lalu berlindung di sana dari dekapan suamiku. Tentu saja aku malu jika Delano melakukan itu di tempat umum. Terlebih aku sempat melihat beberapa pengunjung memperhatikan apa yang kami lakukan dari kejar-kejaran di lorong mall sampai adegan saat Delano menangkap tubuhku dan langsung memeluknya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Delano kembali merapatkan tubuhnya hingga kami menjadi begitu dekat saat ini.
"No, jangan di sini! Aku malu kalau sampai ada yang lihat tahu." Dengan suara manja aku menghalangi tubuh Delano untuk tidak lebih dekat lagi. Dia pun akhirnya menurutiku dan mulai melajukan mobilnya dengan terburu-buru.
"No, hati-hati ya. Kamu kok buru-buru banget sih?" tanyaku menatap Delano heran.
"Tadi kan kamu enggak mau kalau di sini. Jadi, kita harus cepat sampai rumah." Tanpa malu-malu Delano jujur padaku. Membuat rona merah di kedua pipiku mulai terlihat.
"Ih, kamu ini ada-ada saja, No." Senyum merekah pun terulas dari kedua sudut bibirku. Senyum yang menandakan bahwa aku sangat bahagia saat ini. Kebahagiaan yang benar-benar begitu menyenangkan untuk aku rasakan.
Hari ini, doa-doa yang sering aku panjatkan pada Tuhan sepertinya benar-benar terjawab. Doa di mana aku selalu berharap bahwa suatu hari nanti, pendosa seperti aku ini bisa merasakan kebahagiaan. Kebahagiaan yang walau begitu panjang untuk aku dapatkan, tetapi pada akhirnya bisa aku rasakan saat ini.
__ADS_1
...Ada bonus chapter 1 & 2. Ikuti terus sampai akhir ya. Terima kasih atas dukungan dan kesetiaannya hingga cerita ini bisa Author selesaikan....