
Selamat membaca!
Merasa takut Almira akan mengatakan hal yang sebenarnya aku pun dengan cepat memotong perkataannya. "Mira, Mas Denis itu cuma perhatian sama kamu loh. Jadi jangan membantah ya! Bukankah kamu sangat ingin punya kakak laki-laki yang perhatian pada adiknya? Nah, turuti saja apa kata Mas Denis. Demi kesehatanmu juga, kan!"
Almira memalingkan wajahnya, menatapku dengan kilatan amarah yang terlihat jelas di kedua matanya.
"Iya, Mira. Aku dan Lissa tidak bermaksud mencampuri dan membatasi aktivitas dan kegiatanmu. Hanya sekadar mengingatkan supaya penyakitmu tidak mudah kambuh. Soalnya sakit itu enggak enak lho." Mas Denis terdengar begitu tulus memberikan perhatian pada Almira layaknya seorang kakak pada adiknya.
Aku masih meremas dan menekan kuat paha adik kembarku ini sebagai isyarat agar dia tak bicara macam-macam.
"Iya, Mas." Almira menundukkan kepala dan menjawab dengan lemah nasihat yang diberikan oleh Mas Denis.
__ADS_1
Aku dan Mas Denis kembali duduk di sofa. Bertepatan dengan seorang petugas instalasi gizi mengantarkan makanan untuk Almira.
Kutawarkan bantuan basa-basi pada Almira, "Mau kusuapi?" Kupikir dia akan menolak.
"Boleh, Kak. Rasanya aku masih lemas untuk makan sendiri." Almira menunjukkan senyum penuh kemenangan karena merasa puas bisa mengerjaiku.
Dengan terpaksa, demi citra seorang kakak yang baik di depan Mas Denis, aku menyuapi Almira makan hingga habis. Bukan cuma itu, adik yang tidak tahu diuntung ini juga memintaku mengambilkan buah dari paper bag, mencuci, dan menata buah-buahan itu di atas piring, lalu meletakkannya di atas nakas. Dengan kurang ajarnya dia juga memintaku mengupas kulit apel sebelum dia makan.
"Sayang, kamu mau ikut aku pulang atahu mau menjaga Mira malam ini?" Mas Denis merangkul bahuku sambil menunjuk jam dinding ruang rawat ini. "Sudah jam delapan malam tuh."
Tanpa berpikir lama, aku langsung mengambil tas yang sejak tadi tergelatak di atas sofa. Menurutku, keputusan pulang adalah yang paling tepat agar aku bisa mengistirahatkan tubuh dan juga pikiranku dari segala hal yang membebaniku.
__ADS_1
"Mira, Kakak pulang dulu ya! Ingat, jangan macam-macam dan turuti ucapanku kalau kamu tidak mau aku mewujudkan semua ancamanku tadi!" Aku berbisik pelan sambil berpura-pura memeluk Almira saat pamitan untuk pulang bersama Mas Denis.
"Iya, Kak. Terima kasih ya sudah menjenguk dan menemaniku tadi. Hati-hati di jalan!" jawab Almira yang lebih terdengar seperti terpaksa saat mengatakannya.
Aku pun segera pergi meninggalkan ruang rawat Almira sambil menggandeng tangan Mas Denis. Namun, di saat langkah kaki kami sudah hampir keluar, Almira tiba-tiba memanggil Mas Denis dan jujur saja itu membuatku takut setengah mati.
"Untuk apalagi dia sampai memanggil Mas Denis?" batinku dengan kening yang sudah berkerut dalam, terlebih saat melihat Mas Denis sudah berbalik dan melihatnya.
"Kenapa, Mir?"
Beberapa saat Almira terdiam. Seolah mempersiapkan dirinya untuk bicara sesuatu yang sulit dikatakannya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Apa dia hanya sedang mempermainkanku agar aku takut padanya?" batinku yang coba memberi isyarat pada Almira agar tidak macam-macam denganku. Namun sayangnya, dia sama sekali tak memedulikanku seolah aku hanya patung baginya.
Bersambung ✍️