
Selamat membaca!
Entah kenapa pikiranku bisa sependek itu, menggadaikan malam pertamaku bersama Mas Denis dengan meminta Almira untuk menggantikanku. Di tengah rasa panikku karena merasa sudah tak bisa lagi mengejar mobil Mas Denis, tiba-tiba aku mulai berpikir untuk menghubungi Almira.
"Aku harus menghubungi Mira sebelum dia sampai di rumah! Aku masih punya kesempatan untuk bertukar peran kembali tanpa harus diketahui oleh Mas Denis," batinku terus memikirkan rencana apa yang bisa kulakukan setelah tiba di rumah nanti.
Di saat aku berusaha meyakinkan hati untuk menggagalkan rencanaku yang sudah terlanjur dimainkan oleh Almira, tiba-tiba saja perasaan takut kehilangan itu kembali mengubah pemikiranku. "Tetapi, kalau aku sampai membatalkan rencanaku, itu artinya aku harus siap menerima konsekuensinya. Mas Denis pasti akan marah dan kecewa kalau mengetahui aku sudah tidak lagi perawan seperti yang diinginkannya. Ya Tuhan, aku benar-benar tidak mau kehilangan Mas Denis, hanya dia yang bisa merubah hidupku dan menjamin masa depanku. Apa aku harus benar-benar mengikhlaskan malam ini untuk digantikan oleh Almira?" Aku kembali bergumul dengan batinku sendiri sambil berusaha menentukan keputusan yang akan aku ambil dengan sangat hati-hati.
__ADS_1
Tanpa terasa, taksi yang aku tumpangi sudah tiba di area Perumahan Andara. Salah satu rumah yang Mas Denis beli untuk menjadi rumah yang kami tempati setelah menikah. Aku memutuskan untuk terus maju, menerima apa pun yang nantinya terjadi.
"Mbak, rumahnya blok berapa ya?" tanya pengemudi taksi membuyarkan lamunanku.
"Blok B nomor 50, Pak. Pertigaan di depan belok kanan."
Sopir itu pun mengangguk dan mengikuti arah yang sudah aku tunjukkan. Hingga akhirnya, taksi berhenti di depan gerbang berwarna hitam yang baru saja tertutup otomatis. Aku melihat mobil Mas Denis baru saja berhenti di teras rumah, lalu suami dan adikku keluar dari mobil secara bersamaan.
__ADS_1
Aku tahu Mas Denis benar-benar mencintaiku, dia memperlakukanku dengan istimewa sejak pertama kali mengenalku sampai saat ini. Andai saja aku bisa menjaga kesucianku untuk Mas Denis, mungkin aku tidak perlu melakukan hal gila ini dengan menipu suamiku sendiri.
"Sepertinya aku sudah terlambat, aku tidak bisa menggagalkan rencana yang sudah aku buat sendiri. Tidak mungkin aku bisa bertukar peran lagi tanpa diketahui oleh Mas Denis. Semua ini salahku yang terlalu gegabah dan terburu-buru dalam mengambil keputusan." Tak terasa air mataku luruh membasahi kedua pipiku hingga mengenai bibirku yang bergetar. Hatiku sakit menelan kekecewaan karena kebodohanku sendiri.
Aku membalikkan tubuhku ke belakang setelah pintu rumah ditutup oleh Mas Denis. Pasti saat ini mereka berdua tengah menuju kamar dan siap untuk menghabiskan malam bersama. Sementara aku, hanya bisa meringkuk sambil memeluk lututku sendiri dengan bersandar pada gerbang dan menyesali keputusanku.
Beberapa saat kemudian tangisanku terhenti saat logika menyadarkanku jika kehidupanku tidak akan berakhir hanya karena malam paling menyedihkan ini. Mungkin malam ini aku merasa bodoh dan tersakiti karena keputusanku sendiri, tetapi besok dan selamanya aku bisa menjalani hidup yang bahagia dengan menjadi istri seutuhnya untuk Mas Denis dan dia tetap akan menjadi milikku, walau menghabiskan malam pertamanya dengan Almira.
__ADS_1
"Aku harus kuat. Mungkin memang ini yang harus terjadi. Malam ini Mira akan menutupi ketidaksempurnaanku di hadapan Mas Denis, tetapi setelahnya, di malam-malam berikutnya aku benar-benar akan menjalani kehidupan bersama Mas Denis tanpa harus terlihat cacat sedikit pun. Ya, setelah mengetahui istri yang dinikahinya masih menjaga kesuciannya seperti yang dia inginkan, Mas Denis pasti akan semakin mencintaiku dan memberikan apa pun yang aku inginkan!" Akhirnya aku kembali bangkit dan menyudahi kesedihanku. Setidaknya kejadian malam ini tidak hanya menggoreskan luka terdalam di hatiku, tetapi juga keuntungan untuk hidupku di masa depan.
Bersambung ✍️