
Selamat membaca!
Sepanjang perjalanan aku masih terus memikirkan bagaimana kebahagiaan Delano nanti saat mengetahui kehamilanku. Aku jadi tidak sabar melihat semua itu karena kami berdua memang sangat menantikannya sejak kami menikah. Bahkan aku sampai mengurangi kegiatan di luar rumah agar tidak kelelahan yang aku duga sebagai pemicu sulitnya aku untuk mengandung. Pada akhirnya, penantian kami selama dua tahun pun terbayar. Kini keluarga kecilku akan bertambah lengkap karena selain memiliki Keisya yang selalu memberi kebahagiaan di rumah, kehadiran anak ini pasti akan menambah keharmonisan rumah tanggaku dan Delano. Tentu saja ada rasa takut yang sempat terbesit dalam benakku saat mengetahui beberapa kisah perselingkuhan dari seorang suami karena sang istri tidak juga memberi keturunan. Namun, semua rasa takut itu sirna saat tadi pagi aku mendapati diriku hamil setelah beberapa hari belakangan ini aku memang sering mual dan muntah di pagi hari.
"Terima kasih, Tuhan. Aku pasti akan menjaga dan menyayangi anak ini," batinku penuh haru. Bahkan kedua mataku sampai berkaca-kaca saat mengingat momen di mana tadi pagi hasil test pack menunjukkan garis dua yang artinya aku positif hamil.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, mobil yang aku tumpangi tepat berhenti di pelataran lobi. Tanpa membuang waktu sambil membawa paper bag, aku pun keluar setelah memberikan beberapa lembar uang berwarna biru pada sang pengemudi dan mengucapkan terima kasih karena telah mengantarku dengan selamat. Walaupun aku sudah memiliki mobil, tetapi aku pikir akan sangat berbahaya jika di usia kandunganku yang masih terbilang muda saat ini aku mengendarai mobil seorang diri. Tentu saja aku tidak ingin sampai terjadi sesuatu hal buruk yang bisa membuatku menyesal karena kehamilan ini benar-benar sangat aku harapkan. Bahkan beberapa kali aku sering bersedih memikirkannya. Aku sempat menganggap jika diriku ini tidak seberuntung Almira yang dapat dengan cepat mengandung, sementara aku harus menunggu waktu hingga dua tahun untuk bisa hamil.
"Ini pertama kalinya aku ke kantor Delano. Kalau aku enggak salah ingat, ruangan Delano ada di lantai 10, tapi lebih baik aku tanyakan dulu ke resepsionis di sana." Aku terus melangkah, mengarahkan kedua kakiku menuju resepsionis yang ada di depan sana.
"Selamat siang, Mbak. Saya istrinya dari Pak Delano, apa dia ada di ruangannya?" tanyaku dengan sopan yang disambut senyuman oleh salah satu resepsionis di sana.
__ADS_1
"Tidak perlu diantar, Mbak. Kasih tahu saja di lantai berapa ruangannya biar saya ke sana sendiri." Aku pun menolak tawaran itu karena tidak ingin merepotkan.
"Tidak apa-apa, Bu. Sudah tugas saya untuk melakukannya. Mari ikuti saya, Bu!"
Di saat aku baru saja melangkah menuju sebuah lift yang ada di ujung sana, aku dapat melihat seorang wanita cantik baru saja memasuki lobi. Aku sedikit menebak jika wanita itu pasti seseorang yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan ini karena siapa pun yang berpapasan dengannya pasti langsung menghentikan langkah mereka dan memberi hormat, termasuk resepsionis yang saat ini sedang berada di depanku.
__ADS_1
"Siapa ya dia?" batinku terus memperhatikan wanita itu yang juga sempat melihatku tanpa senyuman.
Bersambung ✍️