
Selamat membaca!
Jantungnya hampir jatuh dari posisinya semula saat Almira mulai mengatakan sesuatu. Dan, ternyata itu hanya ucapan terima kasih pada Mas Denis karena telah baik padanya hari ini.
"Ya Tuhan, Mira benar-benar bikin takut aku saja," batinku yang mulai dapat bernapas lega setelah sebelumnya seperti tercekat sesak.
Setelah tak ada lagi yang dibicarakan, aku dan Mas Denis kembali melanjutkan langkah kaki keluar dari ruanga. Pintu pun aku tutup dengan perlahan dan meninggalkan Almira seorang diri di sana.
Sebelum menuju lift, aku pergi ke nurse station untuk menitipkan Almira pada perawat dan berpesan agar selalu memantau keadaannya tiap beberapa jam sekali.
Setibanya di lobi, Mas Denis pun meminta aku menunggu di depan lobi, sementara dia mengambil mobilnya yang berada di parkiran. Tak berapa lama, Mas Denis membunyikan klakson saat mobil yang dikemudikannya tiba di depanku. Aku pun melangkah masuk ke mobil dan duduk di samping kursi kemudi.
Mas Denis mengendarai mobil dengan tenang. Sesekali dia menatapku mesra dan meremas tangan kananku dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Kamu kelihatan lelah sekali, Sayang. Makanlah, jangan sampai perutmu kosong biar kamu tidak ikutan sakit seperti Almira," ucap Mas Denis penuh perhatian sambil menunjuk ke arah paper bag yang tadi aku bawa dan aku letakkan di atas dashboard.
"Aku enggak cuma capek, tetapi seharian ini aku benar-benar mencemaskan keadaan Mira, Mas. Dia itu satu-satunya saudara yang aku miliki, makanya tadi aku panik banget saat dia tiba-tiba sakit. Jadi aku enggak nafsu makan sejak kejadian tadi!" Aku sengaja menunjukkan raut wajah sedih di hadapan Mas Denis. Mencari simpatinya agar dia lebih memikirkanku daripada mencemaskan Almira.
"Aku mengerti dengan kecemasanmu. Andai aku di posisimu, pasti aku juga akan cemas, takut saudara satu-satunya yang kumiliki kenapa-kenapa. Ya sudah, sekarang kamu jangan sedih lagi ya, Mira kan sudah baik-baik saja. Besok kalau kamu mau menemaninya di rumah sakit, Mas izinkan kok, tetapi kamu harus makan dulu makanan yang sudah aku belikan." Mas Denis melepaskan tanganku dari genggamannya, lalu meraih paper bag yang berisi makan malam itu, dan meletakkannya di atas pangkuanku.
Sambil menikmati perjalanan pulang yang diwarnai kemacetan, aku menghabiskan sekotak sushi karena perutku memang terasa lapar gara-gara lelah menemani Almira seharian ini. Sebotol teh ocha yang tak lagi dingin juga sudah habis kuminum. Sementara Mas Denis masih tetap fokus mengendarai mobil.
"Mira nyebelin banget sih! Kenapa ngomongnya enggak lewat chat aja? Kenapa dia harus memintaku datang besok menemuinya di sana!" umpatku berdecak kesal dan kembali memasukkan benda pipih ke dalam tas. Rasanya belakangan ini mood-ku selalu mudah hancur gara-gara Almira.
Ternyata decak kesalku terdengar oleh Mas Denis hingga dia menoleh ke arahku dan melontarkan pertanyaan. "Kenapa lagi, Sayang? Kok kelihatannya kesal?" Mas Denis kembali menggenggam jemariku dan langsung meletakkan tanganku di atas pahanya.
Aku pikir Mas Denis tidak mendengar suara decakanku karena fokus dengan lalu lintas yang terbilang cukup padat. Namun, nyatanya dia masih mendengarnya hingga membuatku terpaksa harus berbohong lagi.
__ADS_1
"Biasalah, Mas. Ini temanku yang kemarin mengajak hangout. Aku sudah bilang kalau sekarang aku baru saja mau pulang ke rumah setelah seharian menemani Almira yang dirawat di rumah sakit. Eh, dia malah enggak percaya dan bilang aku bohong. Kan sebel jadinya!" jawabku seraya mengerucutkan bibir.
Mas Denis tertawa mendengar aku menggerutu. Perhatiannya teralihkan saat aku memanyunkan bibirku. Mungkin itu terlihat menggemaskan untuknya. "Sayang, sumpah deh setiap kali bibirmu begitu, aku langsung ingin melahapnya!" Mas Denis tiba-tiba saja menyapu bibirku dengan jarinya.
Aku menahan jari Mas Denis yang bermain di bibirku dan sekalian saja aku mengemutnya sebentar, lalu menggigitnya.
Mas Denis berteriak karena terkejut. Namun, beberapa saat kemudian dia malah meledek ekspresi wajahku saat ini. "Hmm, mulai deh kamu. Pasti lagi mau sesuatu ya?" Dia tertawa puas ketika melihatku kesal karena ledekannya.
Aku membulatkan kedua mata saat menatap Mas Denis. "Jangan ngaco ya kamu, Mas. Kamu kali yang kepengen, makanya mainin bibir aku terus!" ucapku membalas ledekannya.
Mas Denis tersenyum menggodaku. Sepanjang perjalanan kami lalui dengan berbincang dan bercanda. Meski sambil mengendarai mobil, tangan Mas Denis tak henti-hentinya membelai rambutku, menggenggam jemariku yang halus, dan bibirnya menciumi tanganku. Aku merasa seperti menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Menjadi istri yang begitu dicintai oleh suami terbaik seperti Mas Denis.
Bersambung ✍️
__ADS_1