
Selamat membaca!
Aku masih terus memperhatikan Fadhly yang tampak memberikan sesuatu pada asisten Mas Denis. Sebuah map cokelat kini sudah berpindah tangan dan mereka tampak saling bicara dengan serius tanpa bisa aku dengar. Sejenak rasa takut mulai mengusikku. Membuat hatiku merasa tidak tenang dan seketika menyangkut pautkan masa laluku dengan apa yang baru saja aku lihat.
"Apa jangan-jangan Fadhly bertemu dengan asisten Mas Denis karena Mas Denis ingin menyelidiki aku." Aku terus berpikir keras hingga kepalaku terasa pusing dan itu seketika menjalar sampai ke seluruh tubuhku.
Sadar bahwa aku terlalu berpikiran buruk, bersamaan dengan kepergian mereka, aku pun coba bersikap lebih tenang dan tak lagi berpikir buruk tentang apa yang aku lihat. "Entah kenapa masalah Mira benar-benar membuatku lelah sampai aku terlalu parno, padahal tidak mungkin juga jika Mas Denis sampai tahu kebohonganku karena sejauh ini aku telah berhasil membungkam Mira untuk tetap menjaga rahasiaku."
Tak ingin berlarut-larut dalam suasana hati yang buruk, aku pun langsung membuka masker dan menyesap minuman cokelat dingin yang baru saja diantar oleh seorang pelayan. Kini aku coba menikmati alunan musik yang diputar di cafe ini. Berharap pikiranku bisa lebih rileks dari sebelumnya dan tak lagi memikirkan Almira yang hanya merusak suasana hatiku sejak beberapa hari ini.
__ADS_1
Pukul tiga sore, aku pun kembali ke rumah setelah berdamai dengan suasana hati yang kacau. Setibanya di kamar, aku langsung merebahkan tubuhku selama beberapa saat di atas ranjang, lalu setelah 10 menit, aku memutuskan untuk pergi mandi agar suasana hatiku jauh lebih baik. Aromaterapi yang aku teteskan di air hangat dalam bathtub menjadi satu-satunya harapan untuk membuat tubuh dan pikiranku rileks.
***
Waktu terus beranjak hingga tiba pukul tujuh malam, aku pun bersiap menyambut kedatangan Mas Denis yang baru pulang bekerja. Seperti biasa, aku mengambil alih tas kerja dari tangannya, lalu bergelayut manja di lengan Mas Denis sambil melangkah masuk ke rumah.
Tentu saja aku gembira menerima hadiah dari Mas Denis. Segera aku buka kotak itu dan seketika aku terkejut melihat isinya, sebuah lingerie.
"Kok bengong, Sayang? Kamu lupa ya, aku itu sengaja membelikan yang sama persis dengan yang aku berikan padamu di malam pertama. Kamu terlihat seksi dengan model lingerie yang seperti itu." Mas Denis menatapku dengan penuh selidik. Entah kenapa aku seperti melihat jika sorot matanya seperti sedang mencari tahu sesuatu. Namun, aku tetap berusaha bersikap tenang dan mulai berakting seolah-olah aku pernah memakai lingerie itu.
__ADS_1
"Mana mungkin aku lupa, Mas. Tentu saja aku ingat apa yang kamu berikan malam itu."
Setelah lama berpikir keras, akhirnya aku mulai teringat dengan lingerie yang ada di walking closet dan tidak pernah aku kenakan hingga detik ini. Bahkan beberapa Minggu lalu, aku memutuskan untuk membuang lingerie itu karena aku pikir, lingerie itu adalah pakaian yang dikenakan oleh Almira saat bertukar peran menjadi aku.
"Kenapa Mas Denis membelikan lingerie ini lagi ya? Apa maksudnya?" batinku coba berpikir keras, walau semua itu percuma karena nyatanya aku tetap tak menemukan apa alasan Mas Denis melakukan semua ini. Bahkan untuk bertanya saja aku tidak mungkin melakukannya.
Merasa jenuh dengan permasalahan malam pertama yang tak pernah ada ujungnya, aku pun menghentakkan kedua kakiku dan berlalu menuju meja makan. Kekesalan yang sejak pagi sudah aku rasakan malam ini semakin bertambah. Entah kenapa Mas Denis selalu berusaha mengingatkan aku tentang kejadian malam pertama yang sama sekali tidak aku ketahui. Namun, meskipun hatiku merasa sangat kesal aku tetap berusaha tampil manis di hadapan Mas Denis. Tentu saja aku tidak ingin dia curiga bahwa aku tidak mengingat sama sekali tentang kejadian malam pertama itu.
"Sampai kapan aku terus berada dalam situasi ini. Rasanya ingin sekali aku jujur pada Mas Denis dan mengatakan semua kebenaran ini. Aku benar-benar muak!" Aku hanya bisa menggerutu di dalam hati tanpa berani mengungkapkannya.
__ADS_1