Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Tekad Alissa


__ADS_3

Selamat membaca!


Aku membalikkan tubuhku dan berniat untuk melangkah keluar dari restoran. Sebelum itu aku melempar tatapan sinis ke arah Almira dengan sorot mata yang tajam penuh kebencian. 


"Kamu benar-benar lancang, Mira! Kamu pikir kamu siapa bisa mengancamku? Selama ini aku sudah susah payah mencari uang untuk membiayai hidupmu, tetapi sekarang kamu malah membalas kebaikanku dan malah berniat menghancurkanku! Kamu lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu merebut Mas Denis dariku!" batinku seraya berdesis kesal dan menghentakkan kaki dengan keras. Kemudian aku segera melangkah keluar dari restoran saat benar-benar merasa muak menatap wajah adik kembarku.


Begitu tiba di lobi restoran yang tidak terlalu luas, aku melambaikan tangan memanggil sopir taksi yang tengah berdiri di depan mobilnya agar mengantarkanku pulang ke rumah. Aku tidak sempat memesan taksi online karena Almira benar-benar memancing amarahku saat berada di dalam tadi. Namun, ketika aku baru saja menaiki taksi, ponselku berdering. Aku segera merogoh isi tasku dan mengambil benda pipih yang tengah berdering itu. Aku melihat nama Mas Denis tertera di permukaan layar, dia menghubungi lewat panggilan video. Aku harus merapikan rambutku lebih dulu dan yang paling penting adalah merubah ekspresi wajahku agar Mas Denis tidak melihat raut kesalku gara-gara Almira. Baru setelah itu, aku langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan darinya.

__ADS_1


"Hai, Mas." Aku tersenyum dan melambaikan tangan menyapa suamiku. 


Begitu pun dengan Mas Denis yang langsung menyunggingkan seulas senyuman saat menatapku. "Hai, Sayang. Apa kamu sudah bertemu Mira? Ibu bagaimana kondisinya? Kamu sudah dapat orang untuk membantu Mira mengurus ibu belum?" 


Mas Denis langsung memberondongku dengan banyak pertanyaan yang hampir membuatku kembali kesal. Mungkin dia tidak tahu bahwa istrinya baru saja selesai perang dingin dengan adik iparnya. Namun, aku mencoba menahan kekesalanku dan tetap berusaha menampilkan ekspresi wajah yang terlihat baik-baik saja. 


"Jangan marah ya, Sayang! Maaf, aku terlalu bersemangat tiap kali bicara sama kamu."

__ADS_1


"Manisnya ucapan suamiku. Bagaimana mungkin aku membiarkan dia tahu tentang kehamilan Mira, apalagi memintanya untuk bertanggung jawab? Aku tidak ingin kehilangan Mas Denis yang sudah merubah hidupku jauh berbeda dari kehidupan kelamku di masa lalu, bahkan dia juga selalu membuat hari-hariku terasa bahagia. Jadi aku tidak akan membiarkan Mira merebut suamiku hanya karena dia hamil. Aku akan melakukan segala cara untuk mengurungkan niatnya!" batinku sembari mengulas senyuman tipis di kedua sudut bibirku. 


Dalam hitungan detik aku kembali tersadar saat mendengar Mas Denis berdeham melihat aku diam dan tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Mas, tadi itu aku sudah bertemu dengan Mira. Ibu juga keadaannya sudah jauh lebih baik. Mira menolak tawaranku untuk mencari orang yang bisa membantunya merawat ibu. Dia bilang masih sanggup untuk saat ini, kalau dia mulai kewalahan, dia akan mencari sendiri orang yang cocok dengannya untuk menjaga ibu. Sekarang aku lagi di jalan pulang ke rumah. Ini aku sudah di dalam taksi."


Aku mengembuskan napas lega setelah berhasil menyusun kebohongan untuk menjawab pertanyaan Mas Denis, bahkan aku mengatakannya dengan tenang dan sepertinya tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2