
Selamat membaca!
Keesokan harinya, aku yang sejak semalam terus menangis, terbangun dengan kedua mata yang terasa sembab. Namun, aku begitu terkejut saat ternyata Mas Denis sudah ada di dalam kamar, tertidur tepat di sampingku.
"Sejak kapan dia pindah ke kamar? Apa Mas Denis sudah tidak lagi marah padaku?" batinku merasa bingung saat melihat suamiku masih terlelap di dalam selimut yang sama denganku.
Jujur saja saat ini, aku masih tidak percaya atas apa yang aku lihat sampai aku mengusap kedua mata berulang kali untuk memastikan, walau ternyata semua tidak berubah. Bahkan saat aku mencubit sebelah pipiku dengan cukup keras, itu benar-benar terasa menyakitkan.
"Ternyata aku tidak sedang bermimpi." Aku pun mengalihkan sejenak pandangan mataku untuk melihat waktu pada jam dinding. Saat itu, waktu tepat menunjukkan pukul 7 pagi. Waktu di mana Mas Denis seharusnya sudah bangun dan bersiap-siap pergi bekerja.
__ADS_1
"Apa aku harus membangunkan Mas Denis ya? Aku enggak mau dia malah terlambat berangkat kerja, tapi ... bagaimana kalau dia marah?" Walaupun sempat ragu, akhirnya aku mulai mengguncangkan tubuh Mas Denis dengan perlahan. "Mas, bangun! Ini sudah jam 7 pagi lho. Apa kamu tidak bekerja?" Berulang kali aku mengucapkannya hingga Mas Denis mulai terjaga dan perlahan kedua matanya pun terbuka. Dia menatapku, mengulas senyuman dari kedua sudut bibirnya saat pandangan kami saling bertaut.
"Selamat pagi, Sayang."
Seketika aku langsung tertegun mendengar perkataan itu. Kedua mataku masih tak percaya melihat senyumannya. Mas Denis benar-benar berbeda dengan yang semalam. Dia tidak lagi dingin dan penuh amarah. Ada apa sebenarnya? Kenapa dia bisa berubah seperti itu? Setidaknya dari banyak pertanyaan yang mulai menyeruak masuk ke dalam pikiranku, hanya dua pertanyaan itu yang mendominasi. Entah, apa aku harus tetap bingung dan diam seperti saat ini atau membalas senyuman manis yang masih ditampilkannya. Tapi yang jelas, aku merasa sangat bahagia jika memang Mas Denis sudah kembali seperti biasanya. Apa itu artinya dia sudah memaafkan kesalahanku? Walaupun sejujurnya aku masih bingung, kesalahanku yang mana yang sudah dimaafkannya.
"Selamat pagi juga, Mas." Kalimat itu akhirnya terucap setelah lidahku sempat kelu dengan semua yang ada di depan mataku. Tentu saja aku tanpa ragu membalas senyuman Mas Denis yang beberapa saat kemudian langsung mendekap tubuhku hingga masuk ke dalam pelukannya.
Perkataan Mas Denis benar-benar membuat haru. Seketika kedua mataku pun langsung basah oleh air mata. Aku benar-benar tidak menyangka jika pagi ini Mas Denis sampai mengatakan hal ini padaku. Perkataan yang sungguh menenangkan. Suaranya terdengar lembut masuk ke telingaku hingga membuat jiwaku yang terguncang sejak semalam kini seperti kembali merasakan apa itu kebahagiaan.
__ADS_1
"Makasih ya, Mas. Makasih karena kamu sudah memaafkan aku."
Mas Denis tak langsung menjawab. Dia mengurai pelukannya, lalu bangkit dari posisi tidurnya dengan duduk di tepi ranjang.
"Tidak perlu berterima kasih karena sudah tugas suami memaafkan kesalahan istrinya. Sekarang kamu jangan menangis lagi ya! Daripada kamu sedih seperti ini, kamu siapin sarapan buat aku! Pokoknya hari ini aku mau makan nasi goreng buatan kamu. Oh ya, jangan lupa sebelum keluar kamar hapus dulu air matamu! Kamu enggak mau kan ibu sampai menanyakan kenapa kamu menangis?"
Aku pun dengan cepat menganggukkan kepala dengan mengulas senyuman. Bagiku, pagi yang tak terduga ini benar-benar membuat duniaku yang sempat hancur seketika kembali utuh setelah mendapati Mas Denis bersikap seperti biasanya. Pria yang membuatku bukan hanya mencintainya, tetapi juga rela mengorbankan apa pun untuknya. Bahkan hanya karena takut kehilangannya aku bisa sangat kejam mengorbankan masa depan adik kembarku sampai membunuh janin yang dikandungnya. Hal gila yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan olehku bahwa aku bisa melakukannya.
Setelah mendapatkan jawabanku, Mas Denis melangkah pergi menuju kamar mandi. Sementara aku, bergegas bangkit dari ranjang dengan senyuman yang sejak tadi tak mau pergi dari kedua sudut bibirku. Senyum yang menggambarkan betapa aku sangat bahagia saat ini setelah semalaman aku menangis tanpa henti hingga tertidur. Namun, di saat aku hendak menguncir rambut, tanpa sengaja aku melihat pada pantulan cermin senyum kecut yang tak biasa di wajah Mas Denis. Senyum yang menampilkan serangi licik seperti yang pernah aku lihat di wajah Almira.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Mas Denis hanya sedang berpura-pura?" Di saat pikiranku semakin liar berasumsi dan lebih menjurus ke arah negatif, aku pun dengan cepat menepikannya. "Tidak ... tidak, mungkin tadi aku salah lihat. Mungkin saja Mas Denis tadi hanya tersenyum biasa saja, tapi karena pikiranku masih kacau sejak semalam, makanya aku jadi berhalusinasi hingga bisa salah melihat." Tak ingin memikirkan prasangka yang belum tentu benar dan hanya mengusik ketenanganku, aku pun mengabaikannya, lalu melangkah keluar dari kamar untuk menyiapkan sarapan pagi seperti yang Mas Denis inginkan.
Bersambung ✍️