
Selamat membaca!
Aku masih melihatnya. Menatap dengan tak percaya bahwa dia datang di saat aku bebas, padahal selama 4 tahun dia sama sekali tidak pernah mengunjungiku selama aku di penjara.
"Untuk apa dia ke sini? Apa Mira tahu kalau Mas Denis datang menjemputku?" batinku merasa enggan bertemu dengannya.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya aku memacu langkahku pergi menjauh dari Mas Denis. Menuju pinggir jalan untuk memberhentikan angkutan umum yang melintas. Setidaknya aku harus pergi sebelum Mas Denis bisa mengejarku.
__ADS_1
"Lissa, tunggu! Ada yang mau aku sampaikan sama kamu." Aku lihat dia mulai berlari menyusul langkahku yang baru saja menjauh darinya. Namun, aku tetap tak memedulikan dan terus berlari tanpa menoleh ke belakang sekali pun.
"Aku tidak mau mendengar apa-apa dari kamu, Mas! Sebaiknya kamu pergi dan jangan ganggu hidup aku lagi! Kamu tenang saja! Aku sudah rela kalian menikah dan aku juga ikut bahagia karena pada akhirnya apa yang kamu inginkan bisa terwujud, kamu bisa memiliki anak bersama Mira." Sekuat tenaga aku mempercepat lariku agar Mas Denis tidak berhasil menyusul. Namun sayangnya, semua yang aku lakukan sia-sia. Mas Denis dapat meraih pergelangan tanganku hingga membuat langkahku terhenti seketika.
Mau tak mau, aku pun menatap wajah lelaki yang pernah mengisi hari-hariku. Lelaki yang pernah sangat aku cintai hingga membuatku sampai menghalalkan segala cara demi mempertahankan cintanya. Namun, kali ini aku sadar bahwa dia bukanlah milikku, tetapi milik Almira.
Wajah Mas Denis tampak murung, dia menatapku dengan pandangan memohon. "Lissa, tolong kasih aku waktu sebentar saja untuk bicara sama kamu!" Dia mengatupkan kedua tangan sebagai tanda permohonannya. Entah apa yang ingin disampaikannya hingga dia melakukan hal ini. Bukannya dia sangat membenciku, bahkan saat sidang putusan waktu itu dia sama sekali tidak datang.
__ADS_1
"Kalau ada yang mau kamu sampaikan, sampaikan saja sekarang! Setelah itu, aku harus segera pergi. Masih banyak hal yang harus aku lakukan setelah bebas." Aku menajamkan kedua mataku. Menatap dengan begitu tegas karena aku tidak ingin memberi celah pada hatiku untuk kembali merasakan cinta yang dulu pernah bertahta namanya.
"Lissa, ada yang harus aku sampaikan dan ini adalah pesan dari Mira, tapi aku tidak bisa mengatakannya di sini. Bisakah kamu ikut denganku sebentar? Percayalah aku tidak akan menyakiti hati Mira. Aku lakukan semua ini karena permintaannya." Suara itu begitu memohon. Bahkan aku juga dapat melihat ada raut kesedihan yang begitu dalam saat Mas Denis mengatakan hal itu. Hal yang semakin membuatku bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi selama 4 tahun aku berada di dalam penjara.
"Mungkin tidak masalah kalau hanya sebentar. Setelah mendengarkan pesan dari Mira, baru aku akan pergi darinya," batinku mulai meredupkan sorot mata yang tadinya begitu tajam menatap Mas Denis. Jujur saja, hatiku seketika luluh saat melihat kesungguhan di matanya. "Baiklah, tapi aku tidak punya banyak waktu. Sebaiknya jangan lama-lama! Lagi pula Mira dan anak kalian pasti sudah menunggumu di rumah." Mas Denis mengangguk, dia menunjukkan mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat kami berdiri saat ini. Aku pun mulai mengikuti langkah kakinya dengan ragu sambil terus memikirkan sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Almira lewat Mas Denis. Kenapa dia tidak datang sendiri dan mengatakan secara langsung padaku? Apakah dia masih menaruh dendam atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan padanya dulu?
Bersambung ✍️
__ADS_1