
Selamat membaca!
Tahun kedua di dalam penjara aku merasa semakin tegar untuk menghadapi kenyataan. Bahkan saat ini, aku sudah tak lagi memedulikan bagaimana kehidupan Almira dan juga Mas Denis di luar sana. Mungkinkah aku sudah benar-benar ikhlas? Ya, sekarang hatiku jauh lebih tenang, bahkan aku yang sekarang juga sering mendoakan kebahagiaan mereka. Hal yang tentu tidak mudah untuk bisa mencapai fase seperti saat ini. Namun, seiring berjalannya waktu, kini aku telah memaafkan semua kesalahannya dan aku juga berharap agar adik kembar itu mau memaafkan segala kesalahanku.
Kesibukan membuat kerajinan tangan dari bahan dasar kain-kain perca membuat waktu terasa berlalu begitu cepatnya. Aku pun ditunjuk oleh Bu Widya menjadi ketua kelompok narapidana yang mengikuti pelatihan keterampilan tersebut. Tentu saja itu suatu kebanggaan untukku.
"Lissa, sepertinya kita harus punya merk deh dari produk kita ini. Apa kamu tidak ada ide?"
Aku pun sependapat dengan perkataan Bu Widya dan mulai berpikir untuk menamai produk hasil keterampilan yang dibuat ini dengan nama apa.
"Saya setuju, Bu. Hanya saja kira-kira nama apa yang sesuai ya?" Aku masih berpikir. Coba memutar otakku lebih keras hingga tiba-tiba Reni yang memang berada di dekatku mengutarakan pendapatnya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau Lissa and Friends Collection? Aku pikir nama itu sangat cocok."
Bu Widya pun tersenyum sama seperti aku karena kami berpikir bahwa nama itu sangat cocok untuk mewakili produk yang kami buat ini.
"Boleh juga ide dari Reni. Ya, sudah itu saja Lissa. Kamu setuju enggak?"
"Tentu saja aku setuju, Bu. Nanti aku akan mulai buat desain logonya. Bolehkan aku nanti minjam komputer Ibu?" Aku pun mulai berpikir dalam menentukan kira-kira logo apa yang sesuai dari nama yang Reni katakan tadi.
"Terima kasih, Bu."
Setelah beberapa menit mengontrol pekerjaan yang dilakukan teman-teman narapidana di sini, Bu Widya pun kembali ke ruangannya. Namun, sebelum pergi, dia sempat berterima kasih padaku karena menurut pendapatnya, aku adalah orang yang berjasa dalam memberi motivasi bagi para narapidana lainnya agar tidak menutup diri dari apa yang menimpa mereka. Terutama hukuman penjara yang menurut sebagian besar wanita di sini adalah akhir bagi hidupnya.
__ADS_1
"Tadinya aku pikir, mendapatkan hukuman penjara akan membuat hidupku berakhir. Ternyata aku salah, di sini aku banyak mendapatkan teman dan jadi mengerti bahwa setiap pendosa pasti punya kesempatan untuk berubah jadi lebih baik. Sama seperti aku dan teman-teman di sini. Pada dasarnya, kami adalah orang-orang baik, tapi karena keadaan kami semua bisa berubah jadi orang yang sangat kejam sampai menghalalkan segala cara hanya demi mewujudkan keinginan kami."
Sejak kepergian Bu Widya aku banyak berdiskusi dengan Reni. Sampai akhirnya, kami sepakat untuk menggunakan 3 orang anak perempuan yang sedang bergandengan tangan sebagai logo dari Lissa And Friends Collection. Makna dari logo itu adalah kami yang terlahir kembali layaknya seorang anak-anak sedang bergandengan tangan untuk bekerja sama demi sebuah masa depan.
Tanpa ragu aku pun datang ke ruangan Bu Widya untuk memberi tahu sekaligus meminjam komputer yang tadi sempat aku katakan padanya untuk membuat logo. Ternyata setibanya aku di sana, dia sudah menunggu kedatanganku dan langsung mempersilakan aku menggunakan komputer yang kebetulan tak digunakannya. Aku pun segera membuat logo tersebut.
"Bagaimana, Bu? Menurut Ibu bagus enggak?" Aku langsung bertanya pada Bu Widya setelah menyelesaikan logo itu selama setengah jam lamanya. Saat ini, aku dapat melihat kedua mata Bu Widya seperti kagum akan hasilnya. Dia pun tersenyum ketika menatap layar komputer yang menampilkan hasil logo buatanku.
"Menurut saya itu sudah bagus, Lissa. Kalau melihat potensi kamu yang juga bisa mendesain, saya sih menyarankan sama kamu agar setelah bebas dari sini kamu jadi seorang desainer. Saya pikir kamu berbakat dan pasti akan menjadi seorang desainer yang hebat. Buktinya hasil-hasil kerajinan kamu juga banyak diminati hingga mancanegara." Ibu Widya tak sungkan memujiku. Membuatku mulai memikirkan semua perkataannya dan bisa saja aku benar-benar akan mengikuti saran Bu Widya setelah bebas nanti.
Bersambung ✍️
__ADS_1