Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Putusan Hakim


__ADS_3

Selamat membaca!


3 bulan kemudian akhirnya aku menjalani persidangan yang kedua setelah di persidangan pertama beberapa Minggu lalu aku merasa begitu disudutkan oleh jaksa penuntut umum. Dalam persidangan aku tetap didampingi seorang pengacara, walau itu bukan dari Fadhly karena aku sudah menolak tawarannya. Keputusan yang aku rasa tepat untuk aku ambil karena aku tidak ingin kembali padanya. Aku benar-benar ingin hidup dengan membuka lembaran baru tanpa siapa pun yang datang dari masa laluku. Lebih tepatnya, aku trauma dan takut jika masa lalu hanya akan membawa luka yang sama seperti dulu. Terutama Fadhly, sulit rasanya percaya pada seorang pria yang dulu pernah mengkhianati istrinya dan tidak menutup kemungkinan jika dia akan melakukan hal yang sama saat menikah denganku nanti. Itu adalah salah satu alasan, kenapa aku menolak tawarannya. Tawaran yang nantinya hanya akan membuatku jadi berutang budi padanya.


"Ya Tuhan, sidang putusan ini benar-benar membuatku gugup," batinku terus melangkah memasuki ruang sidang dengan dikawal oleh beberapa petugas polisi.


Tak hanya gugup, aku pun merasa takut karena hukuman atas tindak pidana yang aku lakukan terbilang cukup lama. Aku didakwa pasal 347 KHUP dengan ancaman kurungan penjara maksimal 12 tahun. Tentu saja aku tidak ingin sampai mendekam di dalam penjara selama itu. Setidaknya itulah harapanku, walau aku tahu kemungkinan sangat kecil karena aku hanya sendiri. Tidak ada siapa pun yang membelaku. Bahkan kesaksian dari Almira, pelayan cafe, dan apoteker tempatku membeli obat penggugur kandungan itu sangat memberatkanku.

__ADS_1


"Aku tidak pernah membayangkan sekalipun jika aku akan berdiri di sini sebagai tersangka dan sebentar lagi akan mendengar putusan dari pengadilan," batinku hanya bisa melihat Almira yang saat ini tengah menatapku dengan sorot mata tajamnya. Ada senyuman tipis yang tiba-tiba terulas dari sebelah sudut bibirnya. Senyum yang begitu licik dan mungkin saja dia merasa menang karena berhasil membuatku mendekam di penjara.


Dengan ritme jantung yang berdetak tak karuan aku mulai menunggu hakim membacakan putusan sidang. Aku coba menguatkan hati. Menerima apa pun hasil putusan yang beberapa saat lagi akan aku dengarkan. Mungkin saja putusan ini akan sangat memberatkanku atau bisa jadi sebaliknya.


"Ya Tuhan, aku mohon berikan aku kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik kedepannya. Tolong jangan berikan aku hukuman yang berat. Aku mohon ...." Di dalam hatiku aku berdoa. Berharap sambil menangis piluh tanpa menunjukkan kesedihan di wajahku. Ya, aku tidak mau memperlihatkan kelemahanku pada Almira. Aku ingin dia tahu bahwa aku adalah wanita kuat dan tidak akan terpuruk hanya karena masalah ini, sekalipun sebenarnya aku merasakan hal yang sebaliknya.


"5 tahun ...." Aku hanya bisa pasrah. 5 tahun tentu saja bukan waktu yang singkat. Aku harus kuat, aku harus terbiasa, dan mungkin ini adalah satu-satunya jalan agar aku bisa menebus dosa masa laluku. Hukuman yang harus aku jalani. Tidak ada alasan bagiku menolaknya, aku memang pantas menerimanya.

__ADS_1


Melihat aku hanya tertunduk lesu, petugas polisi pun membangunkanku agar berdiri, lalu mulai memapah tubuhku untuk melangkah kembali ke mobil tahanan. Aku pun sempat menengok ke belakang. Melihat Almira menatapku dengan tatapan yang tidak aku ketahui maknanya. Namun, aku sama sekali tidak melihat Mas Denis dan juga ibuku sejak tadi. Sepertinya keduanya memang tidak datang pada sidang putusan ini entah apa alasannya.


"Selamat ya, Mira. Selamat karena kamu sudah berhasil membuatku seperti ini, tapi aku tidak akan pernah menaruh dendam apa pun padamu. Aku akan menganggap semua ini adalah hal yang sepantasnya aku terima karena telah menghilangkan nyawa janin tidak berdosa yang kamu kandung saat itu. Dan nanti setelah aku bebas, aku tidak akan pernah menemuimu atau Mas Denis lagi. Aku benar-benar akan menghilang hingga kalian akan lupa bahwa kalian pernah mengenalku." Aku hanya bisa mengatakan semuanya dalam hati sembari melangkah keluar dari ruang persidangan. Menatap kedepan tanpa menoleh untuk melihat Almira lagi. Namun, ketika langkahku tiba di depan ruang sidang, aku sempat melihat Delano tampak memperhatikanku dengan sorot matanya yang iba. Dia sepertinya begitu simpati dengan nasibku. Namun, dia tidak sempat mengatakan hal itu padaku karena petugas polisi segera memerintahkanku untuk masuk ke mobil tahanan.


Bersambung ✍️


...Halo, Bestie. Jangan lupa berikan gift kalian agar Author lebih semangat lagi untuk update. Semoga weekend ini Author bisa update lebih banyak bab ya. Terima kasih yang sudah setia menunggu kelanjutannya....

__ADS_1


__ADS_2