
Selamat membaca!
Tubuhku benar-benar tegang saat ini, bahkan aku merasa gugup ketika harus menjawab pertanyaan Mas Denis. Setelah hanya berpikir singkat, akhirnya aku pun segera menentukan jawaban apa yang harus aku katakan. Aku tidak ingin membuatnya sampai berpikir macam-macam dan coba mencari alasan yang benar-benar masuk akal untuknya.
"Eh, ini teman lamaku, Mas. Dia ngajak hangout bareng malam ini, tetapi aku bilang enggak bisa karena mau dinner sama kamu. Terus dia malah marah dan bilang aku enggak setia kawan. Padahal aku sudah jelasin sama dia kalau sejak menikah prioritasku adalah suamiku. Makanya, aku jadi kesal banget sama dia. Apa aku salah, Mas?" Sambil menampilkan wajah sedih setengah kesal, aku berhasil mengelabui Mas Denis dan membuatnya tampak percaya padaku.
Mas Denis yang saat ini hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya mulai membelai rambutku dengan lembut. "Kamu enggak salah kok, Sayang. Apa yang kamu katakan tadi benar. Memang sebaiknya jika sudah menikah kita harus memprioritaskan suami dan urusan rumah tangga, tetapi kamu tahu kan, kalau aku tidak pernah membatasi pergaulanmu dengan teman-temanmu selagi itu tidak memberi dampak negatif untuk kamu. Sudah ya, jangan kesal lagi! Mana Princess-ku yang cantik? Jangan ditekuk begitu dong wajahnya! Nanti enggak cantik lagi, lagi pula kita kan mau pergi dinner." Mas Denis mengangkat daguku, lalu mencium kelopak mataku setelah menghiburku dengan kata-katanya yang teduh dan menenangkan.
__ADS_1
Aku pun kembali tersenyum, menatapnya dengan lekat. Tubuhnya yang atletis membuatku enggan pergi sebenarnya. Lebih baik kami bergumul di atas ranjang agar aku bisa segera hamil seperti Almira, tetapi aku tidak mungkin menggagalkan acara makan malam Mas Denis dengan kliennya, apalagi ini menyangkut kerja sama bisnis. Jadi, aku memutuskan untuk menahan diri sampai kami kembali ke rumah.
"Mas, cepat pakai baju dulu sana! Nanti kita terlambat kan enggak enak sama rekan bisnis kamu." Aku sedikit mendorong tubuh Mas Denis yang membuat anganku hampir melambung tinggi.
Dengan senyum khas yang menawan, Mas Denis mengambil pakaiannya yang sudah aku siapkan di atas ranjang. Dia melepas handuk yang melilit sebatas pinggang. Tubuh polos tanpa sehelai benang yang begitu menggoda terpampang jelas di kedua mataku.
Selesai mengenakan pakaian dan mematut diri di depan cermin, Mas Denis berbalik dan memandangku. "Bagaimana penampilanku? Apa yang kurang?" Dia berputar bak peragawan yang tengah memamerkan model baju terbaru.
__ADS_1
Aku tersenyum melihat kelakuannya. "Sudah rapi dan ganteng maksimal. Pokoknya aku jadi semakin cinta sama kamu, Mas." Aku mengacungkan ibu jari dan telunjukku membentuk love sign ala-ala Korea.
Mas Denis seketika tertawa mendengar pujian dariku dan melihat love sign yang sering aku tunjukkan padanya. Dia melakukan gerakan menangkap dengan tangannya, lalu memasukkan apa yang pura-pura ditangkapnya ke dalam saku kemeja yang dikenakannya. Kemudian kami tertawa bersama-sama. Menertawakan apa yang kami lakukan dan saat itu aku benar-benar merasa tanpa beban. Tak ada pening yang sempat membuatku kacau. Namun, itu tak bisa berlangsung lama mengingat waktu terus beranjak hingga membuat kami harus bergegas pergi.
Sepanjang perjalanan Mas Denis berkali-kali mengecup tanganku yang berada dalam genggamannya. Aku pun melayang dalam sikapnya yang penuh cinta. Sungguh aku tidak ingin kehilangan rasa ini. Rasa bahagia dan nyaman yang hanya bisa aku dapatkan dari Mas Denis.
__ADS_1
Bersambung ✍️