
Selamat membaca!
Kini aku sudah tiba di dalam kamar. Mengatur napas yang terengah setelah berlari menaiki anak tangga. Tadi hampir saja Almira melihatku di dapur kalau saja aku tidak bergegas pergi. Untungnya lariku lebih cepat dari kedatangannya yang ternyata langsung menuju ke dapur, tempat di mana aku berada.
"Sekarang aku hanya tinggal menunggu Mira datang ke kamarku, kalau dia sudah meminum jus alpukat itu, pasti dia akan mulai mengantuk dan tertidur di sini." Senyum singkat pun timbul dari kedua sudut bibirku setelah aku menutup pintu kamar dan duduk di tepi ranjang. Merasa begitu yakin jika rencanaku pasti akan berhasil.
15 menit aku sudah menunggu. Namun, Almira tak kunjung datang hingga aku mulai penasaran atas apa yang terjadi di lantai bawah. "Apa jangan-jangan Mira tidak mau meminum jus alpukat itu?" Di tengah rasa penasaran yang hampir saja membuatku keluar dari kamar, tiba-tiba suara langkah kaki terdengar mendekat. Aku pun dengan cepat memutar tubuhku, lalu pura-pura sibuk di depan meja rias sambil menata apa yang ada di atasnya. Walaupun sebenarnya semua sudah terlihat rapi karena Inah memang setiap hari selalu merapikannya.
"Kak, ada apa? Kata Mbak Inah, Kakak memanggil aku." Almira langsung masuk tanpa mengetuk pintu kamar yang memang sengaja tidak aku kunci.
"Ini aku mau menunjukkan beberapa pakaian yang memang sudah lama tidak lagi terpakai olehku. Apa kamu mau, soalnya pakaianku masih bagus-bagus? Jadi, aku pikir sayang jika aku memberikannya pada orang lain."
__ADS_1
Mendengar perkataanku, Almira seketika mengerutkan keningnya. Mungkin dia merasa heran karena sikapku bisa berubah jadi sebaik ini, padahal tadi pagi aku sempat begitu marah padanya.
"Tumben, Kak. Terakhir kali saat Kakak mengajak aku makan di cafe waktu itu, ternyata Kakak malah mencampur sesuatu di makananku hingga aku keguguran. Sekarang apalagi, Kak?"
Jawaban yang seketika mengingatkanku dengan kejadian saat itu. Saat di mana aku benar-benar menyesal karena telah melakukan hal yang kejam sampai membunuh janin yang tak berdosa dalam kandungan Almira. "Maafin Kakak ya, Mira. Kakak tahu, waktu itu Kakak salah karena sudah melakukan hal yang sekejam itu sama kamu sampai-sampai Kakak tidak memikirkan apa akibatnya. Setelah kejadian tadi pagi, Kakak jadi berpikir kalau saat itu rasa sakit yang kamu rasakan pasti jauh lebih sakit dari apa yang Kakak alami. Jadi, bisakah kamu memaafkan, Kakak?" Tentu saja aku hanya basa-basi mengatakan itu sambil terus memperhatikan raut wajah Almira yang kini mulai terlihat mengantuk. Pasti efek dari obat tidur yang ada pada jus alpukat itu sudah mulai bereaksi.
"Sebentar lagi dia pasti akan segera pingsan," batinku terus menatap wajah adik kembarku yang masih melihatku dengan penuh selidik.
"Mira, kamu kenapa?" Aku pun langsung berdiri. Menghampiri Almira, lalu membantunya duduk di tepi ranjang dengan perlahan.
"Enggak tahu nih, Kak. Tiba-tiba saja tubuhku rasanya lemas banget. Aku berasa capek. Boleh ya aku tiduran dulu di sini."
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Apa kamu ingin aku buatkan teh manis hangat?"
"Tidak perlu, Kak. Aku hanya ingin tid-" Belum selesai mengatakannya, Almira sudah tertidur hingga tubuhnya jatuh di atas ranjang. Melihat hal itu, senyum penuh kemenangan pun terulas dari kedua sudut bibirku.
"Sekarang saatnya aku menukar pakaianku dengan Mira." Aku pun bergegas melepas seluruh pakaiannya dan mengganti dengan piyama tidur yang biasa aku kenakan. Saat ini, semua berjalan sesuai rencanaku. Aku hanya tinggal menunggu kepulangan Mas Denis, lalu menjalankan rencanaku dan mencari tahu hubungan keduanya di belakangku. Namun, saat aku tengah memakai pakaian Almira, aku sempat merasa jika kedua mata adik kembarku seperti sedang mengintip apa yang aku lakukan hingga aku mulai curiga kalau saat ini Almira tengah mengelabuiku.
"Apa dia hanya pura-pura tidur?" Merasa perlu memastikan semuanya, aku mempercepat gerakan tanganku dan segera memakai pakaian Almira yang sudah aku lepas dari tubuhnya.
Setelah menyelesaikan itu, aku pun mulai berlutut tepat di depan wajah Almira. Menatapnya dengan seksama sambil memperhatikan apa yang tadi sempat aku lihat. Apa itu hanya perasaanku saja atau memang benar adanya
Bersambung ✍️
__ADS_1