Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Pengunjung Pertama


__ADS_3

Selamat membaca!


Satu Minggu berlalu dengan begitu cepatnya. Tak ada malam yang tak aku lewatkan tanpa air mata. Setiap waktu yang aku jalani di dalam penjara benar-benar seperti siksaan. Aku bukan hanya sering diperintah ini dan itu oleh ketiga penghuni sel tahanan lainnya. Terkadang mereka juga sering mengambil jatah makanku hingga aku makan lebih sedikit dari mereka. Ya, teman satu sel-ku berkurang satu karena baru saja bebas bersyarat kemarin.


Saat ini, aku masih menunggu hari persidangan tanpa pernah dikunjungi oleh siapa pun. Sedih, tentu saja. Siapa yang tidak sedih di saat terpuruk tak ada kerabat atau keluarga yang mengunjungi? Mereka semua membenciku. Aku merasa ibu dan Mira pasti tidak akan membukakan pintu maafnya untukku. Buktinya kasus yang menimpaku saat ini sudah dilimpahkan ke pengadilan dan itu artinya, hanya tinggal menunggu waktu putusan dari sang pengadil akan aku dengar.


"Lis, sini lo!" Panggilan itu tiba-tiba membuyarkan lamunanku yang sejak tadi hanya termenung meratapi hidupku yang menyedihkan.


"Ada apa?" Aku mulai melihat wanita itu. Wanita yang pada akhirnya aku tahu namanya. Namanya Adel. Dia masuk penjara karena telah membunuh selingkuhan suaminya setelah bertahun-tahun sabar dan hanya diam dibohongi.


"Sudah sini! Badan gue pegel nih, pijitin dong!" titahnya membuatku langsung bergerak mendekati. Aku tidak ingin memancing kemarahan Adel seperti sebelumnya karena itu hanya akan membuatnya jadi bersikap kasar padaku.


Tanpa banyak membantah, aku mulai memijat kedua pundaknya secara bergantian. Sementara kedua temannya yang lain, sibuk dengan apa yang mereka lakukan masing-masing.

__ADS_1


"Lo udah seminggu di penjara kenapa masih cengeng aja sih?" Adel menegurku. Tentu saja dia tidak buta karena memang wajahku masih penuh dengan air mata saat menghampirinya.


"Memangnya enggak boleh sedih?"


"Di sini lo itu harus kuat! Jangan sedih-sedih lagi mikirin segala sesuatu yang cuma bisa melemahkan mental lo aja. Ingat! Masa hukuman lo pasti bukan hitungan bulan. Jadi, lo harus kuat mental seperti gue!" Adel mengatakan semua itu setelah beberapa hari lalu akhirnya aku memutuskan untuk bercerita padanya. Semenjak itulah, aku jadi sering bicara banyak hal padanya. Lebih tepatnya, aku mulai terbiasa menjalani hari-hariku bersama penghuni sel tahanan lainnya, walau mereka masih sering memperlakukanku dengan tidak baik.


"Kamu enak sebentar lagi bebas. Sementara aku, hukumanku baru akan di mulai setelah sidang putusan nanti."


"Makanya, lo harus kuat kaya gue! Pokoknya lo jangan mau ditindas sama penghuni di lapas tempat di mana lo akan ditahan nantinya setelah sidang putusan. Kalau lo kuat, orang pasti akan segan sama lo, tapi kalau lo lemah, orang bisa seenaknya nginjak-injak lo. Jadi, nantinya lo pasti akan satu sel sama narapidana lain dan bisa aja orang itu lebih sadis dari gue. Makanya, gue ngomong kaya gini karena gue enggak mau lo sampai ditindas lagi nantinya."


Di saat aku masih memikirkan tentang semua itu, seorang petugas polisi datang. Dia memanggilku dan mengatakan sesuatu yang membuatku tercengang.


"Alissa, ayo ikut saya! Ada yang datang mengunjungimu."

__ADS_1


Aku pun langsung berpikir siapa kira-kira yang datang. Apa itu Mas Denis? Atau malah itu hanya Almira yang sengaja datang hanya ingin menertawakan penampilanku yang sudah tak lagi seperti dulu? Wajah kusam dan pakaian berwarna orange menjadi penampilan yang tentu saja tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Dari tempat inilah aku perlahan mulai mengenal agama yang hampir aku lupakan. Bukan hanya lebih mendekatkan diri dengan Tuhan, aku juga belajar untuk jadi manusia yang jauh lebih baik dan benar-benar menyesali atas apa yang telah aku lakukan. Walaupun dosaku tergolong besar karena telah menghilang nyawa dari janin yang tak berdosa, tetapi aku yakin jika Tuhan pasti akan memaafkanku selama aku sungguh-sungguh bertobat.


Setelah keluar dari sel tahanan, aku terus melangkah mengikuti petugas polisi hingga tiba di ruang kunjungan di mana seorang pria ternyata yang datang mengunjungiku. "Siapa ya?" Aku begitu penasaran. Terlebih saat ini, pria itu masih belum dapat aku lihat wajahnya karena tengah berdiri memunggungiku.


Sampai akhirnya, aku benar-benar dikejutkan saat pria yang datang itu ternyata adalah pria yang pernah menjadikan aku simpanannya.


"Fadhly ... bagaimana dia bisa tahu aku di penjara?"


Bersambung ✍️


...Tetap beri dukungan kalian dengan memberikan gift dan komentar positif kalian ya. Lanjut bab selanjutnya agak sore. Terima kasih, Bestie. Follow Instagram Author: ekapradita_87...


...Ayo ramaikan juga cerita Author yang ini. Ditunggu komentarnya di sana ya....

__ADS_1



__ADS_2