Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Dia ....


__ADS_3

Selamat membaca!


Sepulang dari rumah Fadhly, aku dan Delano memutuskan untuk menghabiskan waktu siang hingga sore hari dengan menonton film bioskop yang sempat kami bicarakan beberapa hari lalu. Kami benar-benar menghabiskan waktu dengan begitu bahagia. Tak ada lagi perasaan tidak tenang setelah Meisya memaafkanku. Aku seolah terlahir menjadi pribadi yang baru. Tanpa beban dan sama sekali tidak ada rasa bersalah yang sempat membelengguku.


"Terima kasih ya, No. Terima kasih karena kamu sudah mau maafin aku dan menerima segala kekuranganku. Aku sangat beruntung mempunyai suami sepertimu." Pujian itu aku lontarkan tepat di saat aku dan Delano baru saja keluar dari bioskop sambil memeluk lengannya.


"Enggak perlu terima kasih segala, Sayang. Aku ini suami kamu. Jadi, sudah seharusnya aku melakukan itu."


"Tapi ...."


"Enggak ada tapi-tapian. Sudah yuk kita makan sore dulu. Pasti kamu lapar, kan? Kasihan anak kita juga pasti lapar deh. Bukannya tadi perut kamu juga keroncongan di dalam bioskop."

__ADS_1


"No, ih pelan-pelan dong ngomongnya. Nanti kalau ada yang dengar malu tahu." Seketika aku teringat moment lucu saat sedang asyik menonton bioskop perutku terdengar berisik hingga membuat suasana hening yang tercipta seketika ricuh karena para penonton di dekatku seperti mencari-cari sumber suara itu berasal. Untungnya tak berapa lama kemudian adegan pada film menampilkan ketegangan. Jadi, mereka tidak terlalu menggubris lagi apa yang sempat didengarnya.


"Aku juga kaget, aku pikir itu bunyi apa soalnya agak keras kedengarannya." Delano tersenyum. Dia seperti menahan tawanya di depanku.


"Ih, kamu senang banget deh ngeledek istrinya sendiri." Aku pun langsung menghadiahinya sebuah cubitan yang tepat mengenai pinggangnya. Delano tampak meringis kesakitan sambil beringsut sedikit menjauh dariku hingga membuat tanganku terlepas dari lengannya.


"Sakit, Sayang. Cubitan kamu itu perih banget sih."


"No, kamu juga nonton di sini?" Dia menyapa Delano sambil tersenyum yang membuat wajahnya tampak begitu cantik di mataku. Seketika, entah kenapa, aku jadi teringat kejadian tempo hari yang lalu saat aku mendengar suara tangisan dari ruangan suamiku. Mungkinkah waktu itu wanita ini yang sedang menangis? Apa dia juga menangis sambil memeluk suamiku?


"Tidak, tidak, aku tidak boleh berpikir macam-macam. Lagi pula Delano pernah mengatakan padaku bahwa itu hanyalah salah paham, tapi sejak saat itu aku lupa menanyakannya lagi," batinku berpikir sambil melihat Delano dan wanita itu saling bicara.

__ADS_1


"Kenalin ini istriku, Lissa."


Aku hanya diam tak menggubrisnya. Pikiranku masih bertaut dengan segala hal yang mulai membuatku merasa resah. Aku seakan-akan terjebak dalam dua pilihan yang salah. Kalau tidak bertanya aku pasti akan terus penasaran, kalau bertanya, aku takut jika Delano marah karena tidak mempercayainya.


"Hai, Lissa. Aku Bella."


"Lissa." Delano kembali memanggilku. Dia juga mengguncangkan tubuhku dengan menyentuh lenganku. Di panggilan inilah, aku mulai tersadar. Aku kembali menatap wajah wanita itu yang tadi aku sempat dengar bernama Bella. Wanita cantik dengan bibir ranum yang pasti bisa membuat pria mana pun akan jatuh cinta padanya. Tak hanya itu, aku sama sekali tidak dapat menemukan noda hitam sedikit pun di wajahnya. Wajahnya benar-benar putih dan terlihat glowing agak kemerahan. Tentu saja dia dua kali lebih cantik dariku. Minder, sudah pasti. Aku merasa kalah segala-galanya dari Bella.


"Ya Tuhan, baru saja aku tenang setelah permasalahan dengan Meisya berakhir, sekarang aku harus kembali ingat tentang kejadian itu. Apa mungkin wanita yang menangis di ruangan Delano adalah Bella? Itu artinya, dia adalah adik dari Fadhly dan adik ipar Meisya," batinku yang mulai memikirkan semua itu dengan perasaan tidak tenang. Entah kenapa, bukan hanya mulai merasa resah, aku jadi punya feeling tidak enak untuk masalah ini.


Bersambung ✍️

__ADS_1


...Selamat pagi, Bestie. Bagaimana kelanjutan cerita ini? Penasaran kan tentang siapa wanita yang menangis di ruangan Delano? Yuk, ikuti terus ya kelanjutan ceritanya. Terima kasih semua. Jangan lupa baca juga One Night Destiny dan Ketika Kekuranganku Jadi Alasan Suamiku Selingkuh, kedua cerita itu akan berlanjut setelah buku ini tamat....


__ADS_2