
Selamat membaca!
Entah berapa lama aku tertidur. Ketukan pintu dari luar dan suara orang memanggil namaku menarik paksaku untuk terjaga. Dengan kedua mata yang masih terasa lengket aku pun segera bangkit dari posisiku dan sejenak aku terduduk di tepi ranjang untuk mengumpulkan kesadaranku. Kemudian melangkah menuju pintu dan membukanya.
"Ada apa, Inah?" Aku melihat asisten rumah tanggaku yang bernama Inah berdiri di depan pintu kamar dengan raut kesal. Jelas saja aku marah karena dia telah mengganggu tidurku.
"Itu, Bu. Anu, tadi Bapak telepon katanya Ibu disuruh siap-siap karena mau diajak muter." Aku melihat Inah tampak meremas jemarinya dengan gugup. Sepertinya dia dapat membaca bahwa saat ini aku sedang marah karena telah membangunkanku.
Sejenak aku berpikir. Mengartikan perkataan Inah yang sulit aku cerna. Walaupun sempat bingung, akhirnya aku mengerti maksud perkataannya.
"Muter? Dinner kali, Inah." Mau tidak mau aku pun tersenyum mendengar ucapan Inah yang begitu lugu.
Mendengar apa yang aku katakan, Inah terlihat canggung sambil menggaruk kepalanya dengan rasa bersalah. "Eh, iya. Maksud saya itu, Bu. Dinner berdua bapak di luar."
"Inah, Inah. Muter, saya pikir apa tadi. Ya sudah, sekarang kamu kembali ke belakang sana!"
"Baik, Bu. Saya permisi dulu ya."
Setelah Inah pergi, aku kembali menutup pintu kamar dan segera mengambil ponsel yang masih berada di dalam tas. Benar saja, ternyata ada beberapa chat dan panggilan tak terjawab dari Mas Denis. Rupanya tidurku begitu pulas sampai tak mendengar dering ponsel sekalipun. Pantas saja dia menghubungi Inah lewat telepon rumah.
"Lebih baik sekarang aku mandi. Jadi, saat Mas Denis pulang aku sudah siap untuk pergi dinner bersamanya." Aku begitu bersemangat mendengar suamiku akan mengajakku dinner. Dia memang pria romantis dan tahu caranya membahagiakanku.
__ADS_1
Setelah mempersiapkan diri, aku pun langsung berinisiatif untuk menyiapkan pakaian Mas Denis dan meletakkannya di atas ranjang. Aku sudah mengeluarkan setelan yang classy dari walk in closet berupa kemeja katun senada dengan warna gaunku dan celana bahan berwarna hitam yang pasti cocok ketika dikenakan suamiku.
Baru saja selesai bersiap-siap, tak lama kemudian aku mendengar suara deru mesin mobil Mas Denis memasuki halaman rumah. Aku pun bergegas keluar kamar untuk menyambut kepulangannya.
Di depan pintu rumah aku menunggu. Mas Denis pun keluar dari mobil setelah memarkirkan kendaraannya, lalu dia melangkah menghampiriku dan sorot matanya begitu dalam saat menatapku.
"Cantik amat sih. Istri siapa ya ini?" Mas Denis mencubit gemas dagu lancipku dengan senyuman yang terulas di bibirnya.
"Istrinya kamu dong, Mas!" jawabku sembari mengambil alih tas kerja dari tangan Mas Denis dan mencium punggung tangan kanannya. Suamiku membalas dengan mencium kening dan pipiku.
"Aku mandi dulu ya. Habis itu kita keluar. Ada kolega yang menawarkan kerja sama sambil mengajak makan malam. Dia memintaku membawa istri karena dia juga membawa istrinya." Mas Denis menggenggam jemariku sambil melangkah bersama menuju kamar.
"Oh gitu, aku pikir hanya makan malam kita berdua saja. Jadi apa penampilanku ini sudah sesuai dengan tema pertemuan nanti?" tanyaku seraya menatapnya genit.
"Entah apa jadinya jika Mas Denis tahu jika wanita yang menghabiskan malam pertama bersamanya bukan aku, apakah dia masih akan mengatakan kalau aku ini sempurna?" batinku yang tiba-tiba saja kembali teringat dengan hal itu.
Secepat kilat aku berusaha membuang jauh-jauh pikirku agar tidak terpaut dengan masalah Almira saat aku tengah bersama Mas Denis. Aku harus memberikan seluruh perhatianku padanya dan tidak boleh membaginya dengan yang lain.
"Aku juga cinta banget sama kamu, Mas. Jangan pernah berubah ya, teruslah seperti ini apa pun yang terjadi!" Setelah aku mengatakannya, Mas Denis seketika memeluk tubuhku dengan begitu erat.
"Jangan pernah berpikir aku akan berubah, Sayang. Itu sangat tidak mungkin karena memang tidak akan pernah terjadi. Aku akan tetap menjadi aku yang kamu kenal dari dulu hingga nanti selamanya. Jadi aku minta sama kamu tolong jangan memikirkan hal-hal yang bisa membebani pikiranmu ya! Sekarang kamu tunggu di sini, aku mandi sebentar dan setelah itu kita langsung jalan, oke!" titah Mas Denis sambil menangkup kedua sisi wajahku.
__ADS_1
Aku pun segera mengangguk dan coba meyakinkan hati bahwa aku tidak akan pernah kehilangan Mas Denis. Lalu, dia pun pergi dari hadapanku setelah mencium lembut keningku dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri setelah lelah bekerja seharian.
Aku menunggu Mas Denis sambil memainkan ponselku dan membuka aplikasi Instagram. Namun, baru saja aku memegang benda pipih itu, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk dari Almira muncul. Ya, pesan itu seketika membuatku kembali merasa takut, bahkan dengan cepat aku menutup aplikasi Instagram yang baru aku buka dan buru-buru membaca isi pesan tersebut.
Almira : Jangan lupa bilang sama Mas Denis soal kehamilanku, Kak. Kalau kamu sampai enggak bilang, maka aku sendiri yang akan membongkar semuanya di hadapan pria yang telah menghamiliku itu!
"Almira benar-benar kurang ajar! Sekarang dia bahkan berani menerorku! Dasar enggak tahu diri. Dia pikir, dia bisa kuliah kalau aku enggak susah payah membiayainya dari awal sampai sekarang? Apa sih susahnya berkorban sekali lagi untukku?" gumamku bertanya-tanya dengan ujung kuku yang mulai terasa dingin.
Aku menarik napas dalam-dalam dan berusaha tidak takut dengan isi pesan tersebut. Merasa tak ingin kalah, aku pun memutuskan untuk membalas pesan darinya.
Alissa : Enggak usah sok mengancam aku segala. Apa kamu lupa siapa yang selama ini membiayai kuliahmu?
Pesanku terkirim dan centang dua berwarna biru. Kulihat tak lama kemudian Almira sedang mengetik. Beberapa saat kemudian balasan pesan darinya kembali masuk.
Almira : Apa Kakak juga lupa dengan kebaikanku yang sudah mengorbankan keperawanan yang seharusnya masih aku jaga sampai detik ini? Tolong jangan pura-pura amnesia ya, Kak!
Membaca balasan terakhir darinya benar-benar membuat emosiku memuncak seketika. "Argh! Brengsek!" Aku mengumpat tanpa sadar dan ternyata Mas Denis sudah keluar dari kamar mandi. Dia kini berada tepat di belakangku. Membuat debaran jantungku kian berdetak semakin cepat. Seketika rasa takut mulai menyapaku.
"Bodoh! Kenapa bisa aku mengatakan itu tanpa melihat sekelilingku?" batinku coba bersikap tenang, walau telapak tanganku sudah terasa berkeringat saat ini.
"Sayang, kamu kenapa? Siapa yang kamu bilang brengsek?" tanya Mas Denis menatapku dengan heran. Sementara aku hampir lupa bernapas karena saking begitu paniknya. Aku khawatir jika Mas Denis akan membaca pesan dari Almira di ponselku yang belum sempat kuhapus. Jika itu terjadi, maka hidupku benar-benar akan berakhir.
__ADS_1
Bersambung ✍️