
Selamat membaca!
Aku terpaksa menunggu lebih lama karena lift yang ingin aku masuki sudah penuh dengan para karyawan dan wanita cantik yang tadi aku lihat pun ada di dalam. Dia ternyata adalah putri semata wayang dari pemilik perusahaan ini. Ya, begitulah informasi yang aku dapat dari resepsionis yang saat ini mengantarku. Selain itu, dia juga salah satu pemegang saham terbesar yang memang sering hadir dalam beberapa meeting penting. Itu artinya, dia juga pasti mengenal baik suamiku yang notabenenya adalah CEO di perusahaan ini. Memikirkan hal itu entah kenapa perasaanku berubah jadi tidak enak. Aku pun terus memperhatikan angka pada lift karena merasa sudah tidak sabar lagi ingin segera bertemu dengan Delano.
"Mikir apa aku ini?" Tak ingin memikirkan hal yang hanya membuatku merasa tidak tenang, aku pun dengan cepat menepikannya.
"Mari, Bu!"
Aku mulai melangkah masuk ke dalam lift bersama resepsionis yang bersikekeh tetap mengantarku ke ruangan Delano, padahal sebelumnya aku sudah sempat menolaknya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, begitu lift berhenti di lantai 10, aku pun mulai melangkah keluar mengikuti sang resepsionis hingga saat aku tiba di depan ruangan Delano, aku dibuat terkejut saat mendengar suara wanita tengah menangis dengan begitu terisak.
Aku langsung terdiam di tempat. Melihat jendela ruangan yang tertutup tirai hingga membuatku sulit mengetahui siapa wanita yang ada di dalam ruangan suamiku.
"Mbak, tunggu dulu!" Dengan cepat aku menghentikan gerakan tangan dari resepsionis yang hendak mengetuk pintu ruangan. Tentu saja aku penasaran dengan apa yang terjadi di dalam dan siapa wanita yang sedang menangis itu, tetapi entah kenapa aku seperti tidak siap jika harus melihat apa yang terjadi karena aku merasa tidak sanggup.
"Mbak, saya titip makan siang ini saja ya untuk Pak Delano!" Aku menyodorkan paper bag yang sejak tadi aku bawa, lalu setelah mengucapkan terima kasih, aku pun melangkah pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari resepsionis.
"Kenapa, No? Siapa wanita di dalam ruanganmu itu? Dan, kenapa wanita itu menangis?" Entah kenapa terlalu sulit bagiku untuk bisa berpikir positif, walau aku belum melihat secara langsung apa yang terjadi di dalam ruangan. Namun, alih-alih membuktikan semuanya, aku lebih memilih pergi dan itu malah membuat pikiranku semakin dipenuhi rasa takut.
__ADS_1
Setelah menahan kesedihan dari dalam lift hingga di lobi, aku pun mulai memikirkan keputusanku untuk pergi tanpa masuk ke dalam ruangan Delano. Aku merasa tindakanku tadi salah karena seharusnya aku tetap masuk sekalipun kenyataannya menyakitkan untukku.
"Apa mungkin laki-laki sebaik Delano mengkhianatiku? Kamu bodoh, Lissa! Harusnya tadi kamu masuk ke dalam dan membuktikannya sendiri," batinku terus melangkah ke luar hingga tanpa terasa aku sudah berada di pinggir jalan.
Sambil melangkah, aku terus meratapi semuanya. Membayangkan hal yang paling aku takutkan hingga membuat air mataku mulai menetes. Rumah tangga bahagia yang aku bangun sejak dua tahun ini seakan runtuh seketika. Entah bagaimana aku bisa menjalani hidup ke depannya setelah semua yang terjadi hari ini. Hal yang ternyata jauh dari harapanku. Padahal kedatanganku ke sini tadinya untuk membagi kebahagiaan pada suamiku lebih cepat sebelum dia tiba di rumah sore hari, tetapi nyatanya, apa yang aku dapatkan malah seperti ini.
"Seandainya aku tidak datang, mungkin aku tidak akan tahu jika ada wanita yang menangis di ruanganmu hari ini." Aku semakin terisak saat logika membenarkan kecurigaanku. Sulit rasanya menganggap wanita itu tidak ada hubungan istimewa setelah mendengarnya menangis di ruang kerja suamiku.
Di saat akan terus bergelut dalam kesedihan, tiba-tiba kepalaku terasa begitu pening. Aku pun menghentikan langkahku sambil memegangi bagian kepalaku yang rasa sakitnya sampai membuat pandanganku mulai terlihat kabur. "Kenapa ini? Kepalaku pusing sekali." Tiba-tiba kedua kakiku terasa lemah. Sulit rasanya berdiri dengan kedua kaki yang seolah tidak bertenaga saat ini. Setelah coba mencari tempat duduk di sekitarku, aku pun mulai limbung karena sudah tidak lagi kuat menopang ragaku sendiri. Namun, sesaat sebelum aku tak sadarkan diri, aku seperti melihat sosok pria yang sangat aku kenal. Pria yang tidak mungkin bisa aku hapus dari jejak masa laluku yang begitu kelam.
__ADS_1
"Fadhly ...."
Bersambung ✍️