
Selamat membaca!
Merasa murka atas apa yang dikatakan Almira, aku pun langsung menarik tangannya hingga mencengkramnya dengan begitu keras.
"Apa maksud kamu, Mira? Kenapa kamu tega membakar rumah peninggalan ayah?" tanyaku penuh penekanan. Aku benar-benar tidak habis pikir, masih sulit mempercayai semua perkataannya. Bagaimana mungkin, sosok Almira yang selama ini aku kenal polos sampai tega membakar rumah kami.
Sebelum menjawab pertanyaanku, Almira terkekeh singkat. Suaranya tertahan pelan karena mungkin dia juga tidak ingin jika apa yang diucapkannya sampai terdengar oleh Mas Denis dan juga ibuku yang masih berada di ruang tamu.
"Karena aku ingin membuat hidupmu tidak tenang. Aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia setelah apa yang kamu lakukan padaku, Kak! Apalagi kamu membuatku sampai kehilangan janinku."
"Jangan konyol, Mira! Bukannya kita sudah sepakat?"
"Sepakat? Jangan mimpi! Tadinya aku sempat mencoba untuk ikhlas dan menuruti semua keinginanmu, tapi semakin lama rasa bersalahku atas kehilangan janinku benar-benar menghantuiku. Jadi, aku tidak akan membiarkan Kakak bahagia di atas rasa bersalahku!" Kedua mata Almira tampak begitu merah saat mengatakannya. Dia benar-benar marah hingga aku dapat melihat kebencian dari sorot matanya.
__ADS_1
"Aku tidak boleh lemah di depan, Mira. Aku tidak mau dia jadi semakin berani menentangku!" batinku coba menantangnya lewat sorot mataku yang juga tak kalah tajam menatapnya.
"Baiklah, kalau kamu berani melakukan ini. Mulai detik ini aku tidak akan pernah mau membiayai pengobatan ibu juga biaya kuliahmu. Aku akan menghentikannya. Jadi, kamu tanggung sendiri semuanya, aku tidak akan mau peduli!"
Bukannya takut dengan ancamanku, Almira malah menyeringai seperti memiliki sebuah rencana yang sulit untuk aku baca.
"Aku sudah memperkirakan semua yang akan kamu katakan, Kak. Jadi, aku sama sekali tidak takut. Silakan kalau kamu mau melakukan semua itu, aku tinggal mengadukannya pada Mas Denis! Apa kamu lupa jika saat ini aku tinggal di rumahmu dan itu artinya, aku bisa mengatakan pada suamimu kapan pun yang aku mau! Atau bahkan aku bisa saja membuka rahasia kita tentang malam pertama itu."
"Awas kamu, Mira! Nanti aku akan memberi pelajaran padamu!" ancamku, lalu beranjak pergi meninggalkan Almira yang masih diam pada posisinya dan hanya melihat langkahku yang melewatinya.
Setelah masuk ke dalam kamar mandi yang kebetulan tidak jauh dari tempatku berada, aku dapat mendengar jika seseorang itu ternyata adalah Mas Denis.
"Untung saja aku belum sempat melampiaskan kekesalanku pada Mira, kalau saja tadi aku tidak mendengar Mas Denis datang, bisa gawat karena pasti Mas Denis akan bertanya kenapa aku malah bertengkar di saat seperti ini," batinku bersiap keluar setelah membasahi kedua tangan agar Mas Denis tahu jika aku memang benar pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
"Mira, kamu kenapa?"
Aku pun mendengar Mas Denis bertanya dengan nada suara yang terdengar begitu mencemaskan Almira.
"Aku pusing, Mas. Sepertinya aku enggak enak badan."
"Dasar, Mira! Dia pasti sedang berakting agar bisa dekat dengan Mas Denis. Kurang ajar! Aku tidak membiarkannya." Tanpa membuang waktu, aku pun keluar dari kamar mandi. Lalu, mendekati Almira yang sudah memegang lengan Mas Denis untuk bertumpu pada posisi.
"Mas, Mira kenapa?" Aku mempercepat langkahku sambil mengambil alih tangan Mira dari Mas Denis, lalu dengan cepat membawanya duduk di sebuah kursi yang berada tak jauh dari sana.
"Aku tidak akan membiarkanmu merebut Mas Denis dariku, Mira! Kalau rencana kamu untuk mengambil posisiku di rumah ini, kamu salah jika berpikir bisa melakukan itu karena aku tidak akan pernah tinggal diam!" Aku menatap Mira sambil bicara dalam hati dengan penuh tekad. Tentu saja aku harus bisa mati-matian mempertahankan rumah tanggaku agar tidak hancur karena niat balas dendam dari adik kembarku yang saat ini tinggal di rumahku.
Bersambung ✍️
__ADS_1