
Selamat membaca!
Merasa ini adalah kesempatanku memanas-manasi Almira, aku pun mencium bibir Mas Denis dengan liar. Ciuman yang berlangsung selama satu menit itu pun usai setelah Mas Denis mengakhirinya.
"Sayang, sudah tahu di sini ada adik kamu, tetapi kamu malah nekat menciumku. Sekarang aku kan jadi enggak enak karena dia pasti sudah melihat kita berciuman seperti tadi," ucap suamiku dengan lembut dan menatapku gemas. Kemudian dia membimbingku ke sofa dan kami berdua duduk di sana.
"Enggak apa-apa, Mas. Lagi pula kan justru bagus, biar dia sekalian belajar bagaimana cara bersikap manis pada suaminya nanti. Iya, kan, Mira?" Aku mengalihkan pandangan padanya yang terlihat kesal karena ucapanku.
"Aku sih biasa saja, Kak. Jangankan ciuman, main di atas ranjang pun aku bisa meski tanpa pengalaman. Bukankah hal seperti itu langsung bisa dilakukan hanya dengan mengikuti naluri tanpa harus belajar? Bukan begitu, Mas Denis?"
"Mau main-main rupanya dia dengan berusaha memberi bahasa isyarat pada Mas Denis. Untung saja Mas Denis hanya menganggap kita bercanda dengan saling sindir!" batinku memasang wajah dingin saat Almira menatap ke arahku.
__ADS_1
"Sudah-sudah! Kalian ini ya, mentang-mentang saudara kembar bisa saja bercandanya." Mas Denis tersenyum sambil bergantian memandangku dan Almira.
Aku pun hanya mengedikkan bahu sambil melotot pada Almira tanpa sepengetahuan Mas Denis. Tatapanku penuh ancaman dan terlihat siap mengakhiri hidupnya jika dia sampai berani buka mulut pada Mas Denis.
Tak berapa lama kemudian, aku melihat Mas Denis mulai berdiri, lalu mengambil beberapa paper bag yang dibawanya tadi dan meletakkan itu di atas meja samping sofa tempatku duduk.
"Ini aku bawakan beberapa makanan untukmu, Sayang. Pasti kamu belum makan, kan? Yang ini untuk kamu dan ini untuk Mira." Mas Denis menyerahkan tiga buah paper bag itu padaku.
Aku pun langsung membuka paper bag untukku yang berisi bento dinner box, sushi box, dan teh ocha dingin. Mas Denis tahu sekali kalau aku penyuka makanan Jepang. Sementara paper bag lain untuk Almira kulihat berisi buah-buahan dan beberapa jenis camilan. Di paper bag kedua berisi pakaian jenis baby doll tiga stel.
"Ini baju buat Mira, Mas? Emang kamu tahu ukurannya?" Aku bertanya sambil mengangkat satu stel pakaian itu dan menunjukkannya pada Mas Denis.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Aku pikir kalian pasti enggak sempat pulang untuk ambil pakaian Mira di rumah. Sedangkan dengan kondisi sakit seperti ini, dia pasti harus menjalani perawatan selama beberapa hari di rumah sakit. Makanya, aku sengaja beliin baju buat adik kamu ganti selama dirawat di rumah sakit. Kalau untuk ukurannya aku pilih yang sama dengan pakaianmu karena kalian kan kembar. Jadi, aku pikir kalau ukuran bajumu dan Mira pasti sama. Kan kalian kembar! Makanya, kadang aku sulit membedakan kalian. Ya, untung saja dandanan dan gaya kalian berbeda. Betul begitu, kan, Mira?" Dengan santai Mas Denis meminta pendapat Almira dan menjelaskan seolah menganggap itu hal biasa.
Aku menggerutu dalam hati. Namun, aku tetap berupaya menampilkan senyum terbaikku.
"Oh iya, betul juga apa yang kamu bilang, Mas!" Aku pun segera meletakkan papar bag itu di atas nakas samping tempat tidur pasien. Ada rasa kesal yang aku rasakan, terlebih saat Almira mengucapkan terima kasih dengan senyum manisnya.
Mendengar akan hal itu, Mas Denis mulai melangkah mendekati ranjang di mana Almira duduk bersandarkan bantal yang menyanggah punggungnya.
"Sama-sama, Mira. Oh ya kamu habis makan apa sampai sakit perut? Kata Lissa, kalian berdua sedang makan di restoran, terus tiba-tiba kamu kesakitan. Alasan kamu sakit juga pasti karena kelelahan gara-gara kuliah sambil mengurus ibu yang sakit ya? Kalau punya riwayat penyakit GERD itu memang enggak boleh banyak pikiran. Lissa bilang dia akan mencarikan suster untuk membantu kamu mengurus ibu biar kamu enggak kelelahan dan stres agar penyakit kamu enggak kambuh lagi." Mas Denis menepuk tangan Almira yang tidak dipasangi jarum infus dengan lembut.
Almira tampak terkejut saat mendengar ucapan Mas Denis. Dia pasti tidak mengira kalau aku sudah lebih dulu menyampaikan pada Mas Denis tentang kondisinya saat ini.
__ADS_1
"Tetapi, Mas. Aku sebenarnya ...."
Bersambung ✍️