Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Sebuah Ide


__ADS_3

Selamat membaca!


Di saat aku masih bergelut menahan rasa sakit di dalam kamar mandi, tiba-tiba Mas Denis pun datang mencemaskanku. Namun, entah kenapa aku seperti merasa semua itu hanya kepura-puraannya saja. Ya, saat ini pikiranku sudah begitu buruk memikirkan semua yang terjadi. Aku semakin beranggapan jika Almira dan Mas Denis memang sedang mempermainkanku. Jujur saja, kini aku mulai berpikir jika mereka memiliki hubungan di belakangku atau sebenarnya ini semua hanya rasa takut yang berlebihan karena sejak kehamilan Almira, pikiranku memang sudah benar-benar terganggu dan tidak pernah bisa tenang.


"Sayang, apa kamu mau ke dokter?" Mas Denis kembali bertanya setelah sebelumnya menanyakan kondisiku. Namun, aku hanya diam menanggapinya.

__ADS_1


"Enggak perlu, Mas. Kamu jalan saja ke kantor tidak perlu menungguku, nanti kamu malah terlambat lagi karena kan kamu harus mengantar Mira ke kampus dulu!" Aku sengaja mengatakan itu. Sengaja tidak menaruh rasa curiga atas keputusannya yang mengajak adik kembarku berangkat bersamanya.


"Ya sudah kalau begitu, aku dan Mira jalan dulu ya, Sayang. Pokoknya kalau ada apa-apa kamu hubungi aku saja ya!" Setelah Mas Denis mengatakannya, aku tak lagi mendengar suaranya di depan kamar mandi. Namun, Almira masih di sana. Kekehan kecilnya terdengar jelas dari dalam kamar mandi dan itu benar-benar membuatku geram.


"Puas kamu, Mira!" Dengan begitu kesal aku mengatakan itu. Namun, suaraku tidak terdengar terlalu keras karena aku masih meringis karena rasa sakit pada perutku ini. Untung saja tadi aku baru makan satu suap, bagaimana kalau tadi aku makan lebih banyak, pasti rasa sakitnya akan lebih dari yang sekarang aku rasakan.

__ADS_1


Merasa buntu hingga tidak bisa memikirkan apa-apa, aku pun menangis. Terisak dalam sesak yang membuat dadaku kian terikat. Belenggu kesedihan ini benar-benar menyiksaku. Bukan hanya terluka karena kenyataan, tetapi rasa penyesalan kian memburu hingga membuatku sulit menghindar. Aku hanya bisa menangis, meratapi semua yang pernah aku lakukan sambil menahan sakit yang tak kunjung hilang.


"Kenapa semuanya jadi seperti ini? Bagaimana jika memang benar Mira dan Mas Denis ada hubungan di belakangku? Apa aku kuat menerima kenyataan itu? Ya Tuhan, bagaimana caranya agar aku bisa mengetahui semua yang mereka sembunyikan?" Aku coba mengatur napasku yang kian terasa sesak. Menarik dan mengembuskannya dengan perlahan sambil menekan dadaku erat-erat guna menguatkan hatiku.


Di tengah rasa sakit yang kian piluh, tiba-tiba sebuah ide menelusup masuk ke dalam pikiranku yang tadinya sempat buntu. "Apa aku harus melakukan itu?" Aku kembali berpikir. Mencerna ide yang sebenarnya tidak asing untukku karena sebelumnya aku pernah melakukannya. "Mungkin hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa membuktikan apa Mas Denis dan Mira memiliki hubungan atau tidak?" Aku coba meyakinkan hati bahwa itu memang harus aku lakukan. Bertukar peran dengan Almira malam ini dan memberikan adik kembarku itu obat tidur sepulangnya dia dari kampus.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2