Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Penyesalan Mendalam


__ADS_3

Selamat membaca!


Aku mulai membuka mata. Melihat sekeliling di mana aku berada saat ini. Suatu tempat yang tampak begitu asing untukku. Tak ada siapa pun di sini. Sepi, gelap, dan hanya ada setitik cahaya jauh di depan sana.


"Di mana ini? Kenapa tempat ini menyeramkan sekali?" Aku terus bertanya pada diri sendiri. Mulai merasa takut karena aku pikir sepertinya ini bukanlah surga. Tempat indah di mana tidak ada penderitaan apa pun di sana. Mungkinkah Tuhan juga membenciku karena telah mendahului takdir yang ditentukan-NYA? Aku pikir memang begitu. Itu artinya, mungkin aku sedang berada di dalam neraka saat ini.


Tak ingin berlama-lama berada di tempat ini, aku mulai melangkah cepat. Menyusuri jalan setapak menuju setitik cahaya yang kelihatan jauh di mataku. Namun, semakin aku mempercepat langkah kakiku, cahaya itu malah semakin jauh aku tuju. "Di mana ini sebenarnya?" Setelah merasa sulit menemukan jawaban, aku pun terdiam. Sejenak beristirahat karena kedua kakiku terasa begitu letih untuk melangkah.


"Maafkan aku, Tuhan. Maafkan aku." Hanya kata-kata itu yang mampu aku ucapkan di saat aku sudah tertunduk lesu sambil memegangi kedua kakiku.


Di tengah rasa putus asaku, tiba-tiba aku mendengar suara Delano dengan begitu jelasnya.


"Lissa, aku mohon sadarlah! Maafin aku ... maaf karena aku tadi pergi meninggalkanmu. Aku tidak masalah apa pun masa lalumu. Bagiku yang terpenting adalah sekarang dan masa depan kita bersama anak yang kamu kandung."

__ADS_1


Aku tersentak. Tentu saja aku terkejut. Aku tidak mengira jika Delano akhirnya sudah tahu tentang kehamilanku, padahal aku belum sempat mengatakannya. Bagaimana bisa dia tahu? Namun, ada hal yang lebih membuatku penasaran saat ini.


"Dari mana suara itu berasal?" Aku melihat kiri dan kanan. Mencari Delano yang aku dengar masih terus menangis memanggil namaku. Sekarang aku tahu, dia masih mencintaiku. "No, maafkan aku. Maafkan aku karena aku melakukan ini. No, apa kamu bisa dengar aku? Aku di sini, No." Kini aku sudah kembali berdiri. Berharap Delano dapat mendengar suaraku. Namun, nyatanya tak ada jawaban darinya. Dia masih terus merintih. Mengatakan berulang kali bahwa dia begitu menyesal atas apa yang terjadi padaku.


"Kamu tidak perlu menyalahkan diri kamu, No! Kamu tidak salah." Aku kembali melangkah dengan air mata yang terus berderai membasahi kedua pipiku. Kali ini, aku pun memilih untuk berlari menuju cahaya di depan sana. "Ya Tuhan, berikan aku kesempatan untuk kembali bersama Delano?" Dengan napas yang terengah-engah, aku terus berlari menyongsong cahaya yang kini mulai berangsur dekat.


Cahaya itu begitu terang saat aku lewati. Membuat mataku silau hingga aku hanya bisa memejamkan kedua mata.


Sampai akhirnya, aku mulai mendengar suara mesin EKG terdengar samar di telingaku. Aku pun perlahan membuka kedua mataku yang entah kenapa begitu berat untuk terbuka. "No ...." Setelah lidahku sempat terasa kelu, akhirnya aku berhasil memanggil Delano yang kulihat sedang tertunduk sambil menggenggam erat tanganku.


"Maafin aku ya, No," ucapku dengan suara yang terdengar parau.


"Kamu tidak perlu minta maaf, Lissa. Aku yang salah. Entah kenapa aku bisa begitu bodoh sampai perlu waktu untuk memikirkan perkataan dari wanita itu, padahal dua tahun lalu aku pernah mengatakan padamu bahwa aku akan menerima apa pun masa lalumu." Delano mengusap pucuk kepalaku, lalu dia mencium keningku dengan begitu lembut. Tentu saja aku jadi terharu atas apa yang dilakukannya. Rasa haru yang membuatku air mataku lolos begitu saja membasahi wajahku.

__ADS_1


"Makasih ya, No. Makasih karena kamu tidak membenciku."


"Tidak perlu terima kasih, Lissa. Aku yang harusnya mengatakan itu karena kamu sudah memberikan aku hadiah ini." Sambil mengatakan itu, Delano mengusap bagian perutku dengan sebelah tangannya.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku hamil?" Kondisiku sepertinya masih sangat lemah. Jadi, walau hanya mengatakan satu kalimat, itu sudah cukup membuatku merasa lelah.


"Kamu meninggalkan kotak hadiah di mobil. Makanya, aku bisa kembali cepat ke rumah setelah tahu bahwa kamu sekarang sedang hamil. Sekarang aku janji, aku akan selalu menjagamu tanpa memedulikan apa pun perkataan orang lain. Aku ingin selalu bersamamu, aku, kamu, dan anak kita. Kamu mau kan maafin aku?"


"Aku bilang kamu enggak salah, No." Aku pun tersenyum. Menatap wajah Delano dengan penuh haru. Rasanya begitu bahagia mendengar untain kata yang keluar dari mulutnya. Itu terdengar begitu tulus hingga membuat hatiku terasa bergetar.


Delano mendekapku. Pelukan yang terasa hangat dan aku pun bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan harapanku untuk kembali pada Delano. "Terima kasih, Tuhan. Terima kasih atas semua ini. Aku janji, aku akan berusaha menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk suami dan kedua anakku," batinku masih nyaman dalam pelukan Delano.


Bersambung ✍️

__ADS_1


...Baca juga, One Night Destiny ya Bestie. Setelah judul ini tamat, Author akan fokus melanjutkan kisah Zoya dalam menjalani ketidakberdayaannya menghadapi Lucas. Terima kasih atas dukungan kalian selama ini. Beberapa episode lagi, kita akan tiba di ending episode. Jadi, ikuti terus sampai ending nanti ya....


__ADS_2