Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

Selamat membaca!


"Aku harus menghubungi Almira sekarang dan menanyakan hal ini!" Aku pun segera berlari dan mengambil ponselku yang tergeletak di atas ranjang. Begitu menggenggamnya, aku segera mencari nomor Almira dan langsung menghubunginya.


Aku yakin jika saat ini wajahku pasti tengah pucat dan panik. Bagaimana tidak? Ini menyangkut pernikahanku dengan Mas Denis yang benar-benar akan hancur jika semuanya sampai terbongkar. Terlebih saat ini masalahnya menjadi semakin rumit karena Almira menyampaikan kabar kehamilannya.


Pada dering terakhir, Almira pun akhirnya menjawab panggilanku.


"Halo, Kak. Jadi kita mau bertemu di mana?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. 


"Mira, kamu ada di mana sekarang?" tanyaku tanpa menjawab pertanyaan Almira sebelumnya karena merasa ada yang lebih penting daripada itu. 


"Aku masih di rumah, menunggu kabar dari Kakak mau kita bertemu di mana." 


"Mira, tolong dengarkan aku baik-baik ya! Kita tidak bisa bertemu hari ini, tetapi aku janji akan segera menemuimu setelah aku pulang dari Puncak. Sekarang tolong kamu jangan terima panggilan ataupun pesan dari Mas Denis kalau dia mengajakmu bertemu!"

__ADS_1


"Maksud Kakak apa?" tanya Almira yang mungkin bingung dengan permintaanku.


"Mas Denis berubah, Mir! Sepertinya dia mengetahui sesuatu. Makanya, dia tiba-tiba pergi meninggalkanku di kamar dan dia bilang ada urusan, padahal jelas-jelas dia libur kerja hari ini!" Suaraku bergetar saat mengatakan hal itu pada Almira. 


"Maksudnya Mas Denis tahu semua tentang kebohongan Kakak? Tetapi bagaimana mungkin? Dia tahu dari mana? Aku tidak pernah memberi tahu siapa pun soal kehamilanku ini selain sama Kakak. Sepertinya Mas Denis berubah karena alasan lain, Kak." Almira coba menyampaikan pendapatnya yang membuatku akhirnya tersadar jika semua yang aku rencanakan hanya diketahui oleh Almira dan dia tidak mungkin membocorkan semuanya pada Mas Denis. 


Aku kenal siapa Almira, dia adalah wanita penakut dan selalu menuruti semua keinginanku karena memang dia tidak bisa melawannya. Dia bukan tipe pembangkang dan anak yang baik sejauh ini. Jadi sudah pasti semua rencanaku aman di tangan Almira dan aku pastikan Mas Denis tidak akan tau tentang kebohonganku. 


"Kamu benar, Almira. Kalau begitu ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Pokoknya ingat ya, kamu jangan pernah mengatakan tentang kehamilanmu pada siapa pun, termasuk pada ibu dan tetap jadikan semua ini sebagai rahasia kita berdua. Aku pasti akan segera menemuimu setelah Mas Denis mengajakku pulang dari hotel." Tanpa menunggu jawaban dari Almira aku pun segera mengakhiri panggilan tersebut. 


"Jadi apa alasan kamu berubah, Mas? Kenapa kamu tega membebani pikiranku dengan perubahan kamu yang tiba-tiba ini? Apa kamu tidak tahu kalau saat ini aku sangat takut kehilanganmu?" batinku lirih.


Di tengah resah yang kian mengusik ketenanganku, tiba-tiba pintu kamar hotel terbuka dan itu sungguh membuatku terkejut. Aku melihat Mas Denis kembali dengan membawa sebuah kotak berukuran cukup besar di tangannya, aku pun segera bangkit dari posisi dudukku. Dia melangkah masuk sambil mengulas senyuman di kedua sudut bibirnya dan itu benar-benar membuatku bingung. 


"Surprise!" ucapnya membuyarkan semua keraguan yang telah mengacaukan ketenanganku. 

__ADS_1


Mas Denis kini berdiri di hadapanku sambil menyerahkan kotak yang dia bawa. "Sayang, maaf aku sudah membuatmu cemas dan panik. Aku hanya ingin memberimu kejutan." 


Tiba-tiba saja air mataku jatuh mengalir membasahi wajahku. Aku tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Mas Denis setelah dia membuat jantungku hampir berhenti berdetak.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" 


Mas Denis segera meletakkan kotak yang dibawanya di atas ranjang dan dia langsung menangkup kedua sisi wajahku dengan lembut.


"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis. Aku hanya ingin memberimu kejutan, sungguh aku tidak bermaksud untuk membuatmu jadi sedih seperti ini." Dia menjelaskannya dengan perlahan sambil mengusap air mataku. 


"Mas, kamu benar-benar membuat jantungku hampir berhenti. Aku takut Mas, kalau kamu tiba-tiba berubah seperti tadi." Tangisanku pecah di hadapan Mas Denis yang langsung merengkuh tubuhku dan membawaku ke dalam pelukannya yang hangat. Tetapi saat ini, aku benar-benar merasa lega mengetahui suamiku tidak marah, dia hanya berusaha untuk memberiku kejutan dengan caranya yang sulit aku tebak. Cara yang hampir saja membuatku berpikir untuk mengatakan semuanya pada Mas Denis.


Bersambung ✍️


Baca juga novel aku yang lain ya, Sekretarisku Canduku (Sudah Tamat).

__ADS_1



__ADS_2