Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Perhatian Delano


__ADS_3

Selamat membaca!


Waktu terasa begitu lambat bagiku saat berada di rumah sakit. Di sini, aku hanya terbaring tanpa bisa melakukan aktivitas apa-apa. Untungnya tadi dokter baru saja menyampaikan pada kunjungannya bahwa aku sudah diperbolehkan pulang siang ini. Tentu saja aku sangat senang karena itu artinya, aku bisa menghabiskan waktu di rumah bersama Keisya yang saat ini dijaga oleh ibuku.


"Sayang, mulai hari ini aku sudah mempekerjakan Inah di rumah ya. Kamu kan sedang hamil. Jadi, aku enggak mau kamu sampai melakukan pekerjaan rumah. Lagi pula kamu sudah kenal dekat dengan Inah, kan?" Delano mengatakan hal tersebut setelah dokter keluar dari ruang rawat.


"Terus bagaimana dengan rumah Mas Denis? Siapa yang mengurusnya kalau enggak ada Inah?" tanyaku yang tahu bahwa memang Inah masih bekerja di sana.


"Jadi, kemarin itu kerabat Mas Denis datang ke rumah. Kamu ingat enggak Mas Anjar dan Mbak Nadia yang datang ke pernikahan kita? Nah, jadi mereka yang akan menempati rumah Mas Denis dulu. Ya, setidaknya sampai Keisya dewasa dan dia ingin menempati rumah itu sendiri atau mungkin saat dia sudah berkeluarga karena kita juga tidak mungkin membiarkan Keisya tinggal di rumah itu sendirian."


"Enggak boleh, No. Keisya harus tinggal sama kita terus. Soal rumah itu, menurutku enggak apa-apa juga ditempati sama mereka. Lagi pula kita sudah sepakat untuk tidak menjualnya karena rumah itu adalah kenangan satu-satunya yang dimiliki oleh Keisya terhadap kedua orang tuanya."


"Iya aku mengerti, Sayang. Makanya, Inah aku minta bekerja di rumah. Selain itu, ini juga permintaan Inah agar dia bisa bekerja lagi sama kamu. Soalnya kalau dia harus bekerja sama Mas Anjar dan Mbak Nadia katanya dia merasa enggak nyaman karena tidak mengenal baik keduanya. Jadi, dia lebih milih bekerja di rumah kita, Sayang."

__ADS_1


"Terima kasih ya, No. Kamu benar-benar perhatian sama aku. Dengan adanya Inah di rumah, aku bisa lebih fokus ngurus kamu, Keisya, dan anak yang ada dalam kandunganku ini."


"Enggak perlu terima kasih, Sayang. Semua itu sudah tugas aku, apalagi sekarang ada anak yang harus kita jaga berdua dalam kandunganmu." Delano mendekap tubuhku. Mencium keningku dengan begitu lembut hingga membuat aku semakin merasa beruntung karena memiliki seorang suami sepertinya.


Di saat aku masih terbuai dalam perhatian Delano yang selalu membuatku merasa bersyukur, suara pintu terdengar diketuk oleh seseorang dari luar. Bersamaan dengan itu, aku dapat mendengar jelas suara Reni dan Hana dari depan ruanganku.


"No, itu teman-teman aku datang. Jadi, kamu bisa mengurus administrasi untuk kepulangan aku dulu selagi ada mereka."


"Maaf ya, Lissa, kami berdua baru sempat datang jenguk lo. Lo tahu sendiri, kan, kalau ACP lagi banyak orderan? Jadi, kami baru bisa ninggalin kerjaan setelah semua pesanan sudah diantar." Seperti biasa, Hana yang memang terkenal nyablak langsung berbicara lebih dulu dengan logat betawinya.


"Iya, aku ngerti kok. Pokoknya terima kasih ya atas kerja keras kalian berdua selama aku enggak ada."


"Enggak perlu terima kasih segala, Lissa. Lagi pula kami itu kan kerja sama kamu. Jadi, sudah sepantasnya kami melakukan semua yang terbaik agar usaha kamu bisa maju. Betul enggak, Na?" Reni mengangkat kedua alisnya. Melihat Hana yang seketika langsung tersenyum kecut padanya.

__ADS_1


"Apaan sih, Ren? Sok iye banget deh lo. Si Reni mah enggak bisa banget begadang, Lissa. Orang gue minta temenin jadi mandor orang-orang produksi dia malah tidur. Udah gitu tidurnya ngorok lagi. Sebel deh kalau ingat semalam!"


"Memangnya kenapa semalam?" Tentu saja aku langsung menanyakan hal itu. Bagiku mendengar dan melihat secara langsung perdebatan keduanya adalah sebuah hiburan tersendiri yang bisa membuat suasana hatiku jadi lebih baik.


Sebelum Hana menjawab, Reni sudah lebih dulu menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Enggak apa-apa, Lissa. Sudah, sudah, jangan dibahas masalah semalam!" Setelah mengatakan itu padaku, kulihat Reni mulai berbisik di depan telinga Hana. "Lagian kamu lemes banget deh, Na. Diam atuh, aku kan malu sama Lissa." Walau sudah sepelan mungkin Reni bersuara, tetap saja aku dapat mendengar jelas apa yang dia katakan.


"Biarin aja, biar Lissa tahu kamu itu kalau tidur masih suka ngiler." Setelah susah payah melepas tangan Reni dari mulutnya, Hana pun akhirnya mengungkapkan apa yang terjadi semalam dan itu benar-benar membuatku tertawa.


Kami bertiga pun terlihat semakin akrab. Menghabiskan waktu dengan canda dan tawa tanpa bisa kami tahan. Ya, begitulah kami saat berkumpul. Kami memang selalu bersikap apa adanya tanpa ada satu pun yang jaim. Sebuah persahabatan yang benar-benar membuat hidupku terasa semakin sempurna. Selain memiliki keluarga kecil yang lengkap dengan kehamilanku, memiliki dua orang seperti Reni dan Hana adalah sesuatu yang patut aku syukuri. Setidaknya, aku merasa seperti memiliki dua orang saudara saat ini.


Bersambung ✍️


...Halo, Bestie. Jadi, apa arti Sahabat menurut kalian? Yuk, share pengalaman kalian tentang bagaimana rasanya memiliki sahabat rasa saudara. Terima kasih juga karena sudah setia tetap mengikuti kelanjutannya....

__ADS_1


__ADS_2