Wanita Pengganti Di Malam Pertama

Wanita Pengganti Di Malam Pertama
Kebetulan Yang Aneh


__ADS_3

Selamat membaca!


Dengan langkah riang aku menuruni anak tangga. Raut wajahku sudah jauh lebih berseri dari sebelumnya, walau kedua mataku masih sedikit sembab karena terlalu banyak menangis semalam.


"Aku akan masak nasi goreng yang paling enak untuk Mas Denis." Setibanya di lantai bawah, aku pun langsung mengarahkan langkah kakiku menuju dapur dengan semangat.


Setibanya di sana, aku benar-benar tidak menyangka saat melihat Almira tampak sibuk memasak dengan dibantu oleh Inah.


"Mira, kamu masak apa?" tanyaku begitu tiba di dapur. Dapur yang memang cukup luas karena ruang makan di rumahku juga berada di ruangan yang sama. Mas Denis sengaja memilih desain dapur dan ruang makan tanpa sekat agar saat aku sedang memasak makanan untuknya, dia dapat melihatku dari ruang makan.

__ADS_1


"Aku masak nasi goreng, Kak." Seketika kedua mataku terkejut saat mendengar jawabannya. Bagaimana mungkin, apa yang diinginkan Mas Denis saat ini sama dengan yang dimasak Almira.


"Kenapa ini bisa kebetulan?" tanyaku dengan membatin dalam hati.


"Sudah, Kak. Kakak duduk saja bareng ibu, sebentar lagi juga masakanku matang!"


Aku pun langsung menoleh, melihat ibuku yang sudah duduk di salah satu kursi yang terdapat di ruang makan.


"Aku sengaja membuat 5 porsi untuk kita semua makan, Kak. Jadi, Kakak sebaiknya duduk saja! Ya, anggap saja selama tinggal di rumah ini, aku yang akan menggantikan posisi Kakak untuk masak sarapan pagi."

__ADS_1


Mendengar perkataan itu entah kenapa membuat rasa kesel seketika menelusup masuk ke dalam pikiranku. Aku seperti mendengar Almira mengatakan sesuatu yang lain. "Menggantikan posisi aku masak ... apa sebenarnya kamu ingin mengatakan jika kamu akan menggantikan posisiku di rumah ini sebagai istri Mas Denis?" batinku menahan amarah yang mulai mengusik ketenanganku.


"Lissa, sudah sini saja! Kamu duduk sama ibu biar Mira yang masak!" Tiba-tiba suara ibu memanggilku. Membuatku yang tengah kesal memikirkan perkataan Almira seketika melihat ibu dengan senyum yang kupaksakan.


"Iya, Bu." Tak ingin membuat keributan di depan ibuku, akhir aku memilih duduk tepat di sebelahnya. "Bagaimana tidurnya, Bu? Nyenyak semalam." Aku mulai basa-basi. Coba menepikan sejenak amarah terhadap Almira yang sempat menguasai diriku. Tadinya mungkin jika tidak ada ibu dan Inah, aku pasti langsung menanyakan pada adik kembarku tentang maksud dan tujuannya masak nasi goreng pagi ini, apalagi Almira mengatakan jika dia ternyata juga membuat nasi goreng itu bukan hanya untuk dirinya dan juga ibu saja, tetapi juga untuk aku dan Mas Denis.


"Rumah kamu nyaman, Lissa. Pokoknya Ibu senang bisa tinggal di sini. Ya, walaupun Ibu masih suka sedih kalau ingat dengan rumah kita yang terbakar."


Walaupun posisiku dengan ibu sangat dekat, entah kenapa perkataannya tidak terdengar sama sekali olehku. Aku pun hanya bergeming. Memikirkan semua kebetulan pagi ini yang menurutku sangat janggal hingga membuat kecurigaan mulai mengusikku. "Kenapa aku jadi berpikir sepertinya mereka sedang mempermainkanku? Kenapa kebetulan ini benar-benar pas? Tadi di kamar, Mas Denis meminta nasi goreng dan saat aku akan memasak untuknya, ternyata Mira sudah membuat nasi goreng untuk kami semua," batinku mulai memikirkan semua kebetulan ini dengan pikiranku yang kacau.

__ADS_1


Bersambung ✍️


__ADS_2