
Selamat membaca!
Mas Denis masih terus menatapku. Entah kenapa aku seperti melihat ada kesedihan di balik sorot matanya yang sedikit memerah.
"Sebenarnya aku tidak ingin tahu, Mas. Aku hanya penasaran saja, kenapa kamu bisa memintaku untuk menggantikan Mira, sementara di dalam sana istri kamu sedang berjuang melawan penyakitnya?" Aku mengatakan itu dengan penuh penekanan. Jujur saja, aku benar-benar menganggap bahwa pria yang ada di hadapanku saat ini adalah pria egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri.
Mendengar perkataanku, Mas Denis pun menghela napasnya. Aku dapat melihat jika dia seperti menahan luka yang teramat dalam. Entah seberapa sakit luka yang dia rasakan. Saat ini, aku hanya bisa menebak dari raut wajahnya jika luka di hatinya memang begitu menyakitkan
"Sejak aku membaca surat dari Mira, mulai dari detik itu, aku sudah tak lagi menganggapnya sebagai istriku."
"Kenapa, Mas?"
"Karena dia sudah merampas kebahagiaanku. Dia sudah membohongiku, Lissa. Kamu pasti tahu alasan kenapa aku memenjarakanmu, kan? Saat itu yang aku tahu, anak yang telah kamu gugurkan adalah anakku, Lissa. Makanya, aku begitu marah dan kecewa padamu, tapi semakin hari, aku malah tidak bisa membencimu. Entah kenapa rasa cinta itu tetap ada di hatiku, bahkan sekalipun aku menikahi Mira. Apa kamu tahu jika selama ini aku begitu tersiksa menjalani hidupku, Lissa? Melihat wajah Mira yang sangat mirip denganmu, membuat aku jadi sulit melupakan."
"Kamu harusnya sadar jika semua itu adalah kesalahanmu, padahal saat itu aku ingin menjelaskan semuanya, tapi kamu tetap tidak mau mendengar penjelasanku. Seandainya kamu lebih percaya pada istrimu sendiri, pasti semua tidak akan seperti ini, Mas."
__ADS_1
"Bagaimana bisa aku percaya sama kamu sedangkan aku sudah tahu bahwa kalian telah menipuku dengan bertukar peran di malam pertama kita?"
"Apa kamu tidak marah denganku karena telah membohongimu?" Aku kembali bertanya. Sekaligus untuk menjawab semua rasa ingin tahuku tentang apa yang selama ini Mas Denis pikirkan.
"Karena aku mencintaimu, Lissa. Awalnya, aku memang sempat ingin menceraikanmu, tapi waktu itu Mira melarangku. Dia menasehatiku agar mau memaafkanmu. Tadinya aku pikir dia baik karena begitu peduli padamu, ternyata aku salah. Diam-diam Mira ingin balas dendam padamu dengan pertukaran yang kalian lakukan waktu kamu masuk rumah sakit saat itu. Dan, rencananya gagal karena kedatangan Delano ke rumah sakit. Makanya, Mira langsung mengatakan padaku saat di lift kalau dia bukanlah kamu dan dia juga memberi tahuku kalau kamu sudah menggugurkan anak yang dia kandung. Anak yang aku pikir adalah anakku."
Penjelasan dari Mas Denis membuatku jadi tahu tentang apa yang terjadi saat itu. Saat di mana Mira tiba-tiba membuka rahasia kami dengan mengatakan pada Mas Denis.
"Sekarang aku sudah tahu semua dari surat yang Mira tulis untuk aku, Lissa. Jadi, tidak ada alasan bagiku mempertahankan pernikahanku dengannya."
Mas Denis terdiam beberapa saat. Entah apa yang dipikirkannya. Sulit bagiku membaca dari raut wajahnya saat ini. Dia terlihat marah dengan kening yang mengerut dalam. Kedua matanya pun masih memerah dan kulihat tangannya tampak mengepal dengan erat. Kini aku hanya bisa menebak jika dia sedang berada dalam dilema yang sulit dipilihnya. Mungkin sedang terjadi pergolakan batin dalam dirinya, antara ingin membenci atau mencintai Mira.
"Sekarang aku ingin bertanya sama kamu, Mas," ucapku setelah cukup lama diam memikirkan apa yang harus katakan.
Mas Denis kembali melihatku. Bukan hanya memerah, kedua matanya sudah tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"Apa kamu bahagia saat Keisha lahir?" sambungku melanjutkan apa yang ingin aku tanyakan.
"Tentu saja aku bahagia saat itu." Jawaban itu terdengar begitu jujur bagiku. Bahkan Mas Denis sama sekali tidak terlihat memikirkannya dulu sebelum menjawabnya.
"Kalau kamu bahagia, harusnya kamu bisa belajar mencintai wanita yang sudah memberikan kebahagiaan itu sama kamu! Cintai Mira, Mas! Lupakan aku karena aku sudah bukan lagi milikmu! Kita itu hanya kenangan yang tidak akan pernah bisa kembali sekalipun Mira meminta ribuan kali padaku untuk menggantikannya, itu akan percuma. Keputusanku sudah bulat!"
Tiba-tiba Mas Denis menangkup kedua lenganku. Dia mendorongku menjauh dari pintu ruangan hingga tubuhku menyentuh dinding yang ada di belakangku. "Mas, lepaskan aku!" Kedua alisku saling bertaut dalam saat melihat Mas Denis bersikap kasar untuk pertama kali padaku.
"Lissa, aku tahu jauh di dalam hatimu, pasti masih ada cinta untukku, kan?"
"Mas, lepaskan aku! Jangan sampai aku teriak dan kamu bisa ada dalam masalah!" Aku mengancamnya dengan lantang. Berharap dia mau mendengar perkataanku saat ini.
"Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku tahu jawabannya." Mas Denis mendekatkan wajahnya pada wajahku. Membuatku jadi tercekat dan begitu tak menyangka jika dia sampai berani melakukan hal ini padaku.
"Apa dia ingin menciumku?" batinku masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Mas Denis yang terus menahan kedua bahuku.
__ADS_1
Bersambung ✍️