
Dengan setia, Elvan memilih menemani mbok Darmi di dalam ambulance selama perjalanan menuju ke rumah sakit. Pun dengan Vada yang setia menemani suaminya.
Elvan terus menggenggam tangan mbok Darmi. Sebenarnya ia merasa jika harapan untuk mbok Darmi sadar dan sembuh sangatlah tipis, tapi inilah usaha terakhir yang bisa ia lakukan sebagai baktinya kepada wanita yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri tersebut. Tak lupa doa selalu ia panjatkan dalam hatinya.
Elvan hanya diam saja seraya terus memandang wajah renta mbok Darmi yang terpejam seolah ia tak akan pernah lagi memiliki kesempatan untuk memandang wajah wanita yang sudah mengurusnya seja bayi tersebut.
"Abang, lihat! Mbok Darmi membuka matanya!" seru Vada saat melihat mbok Darmi mulai membuka kedua matanya.
Elvan tak percaya dengan apa yanh dia lihat, mbok Darmi sadar.
"Akhirnya mbok sadar, ini Elvan, mbok!" rasa lega langsung Elvan rasakan saat mbok Darmi menatapnya. Namun, ia hanya bisa mengedipkan matanya pelan tanpa bisa berbicara.
Meski demikian, Elvan sudah merasa senang dan lega, padahal belum sampai rumah sakit dan belum mendapat perawatan apapun namun mbok Darmi sudah sadar. Elvan optimis nanti setelah mendapat perawatan mbok Darmi akan berangsur membaik dan bisa bicara lagi.
"Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit mbok harus sembuh ya?" ucap Vada tersenyum. Mbok Darmi hanya mengedipkan matanya.
Saat itu juga, mereka sampai di rumah sakit. Mbok Darmi langsung mendapatkan perawatan. Tentu saja Elvan meminta perawatan terbaik di rumah sakit tersebut.
Jika biasanya pasien hanya boleh di tunggui maksimal dua orang saja, namun beda dengan mbok Darmi. Entah apa yang sudah asisten Rio lakukan sehingga anak-anak mbok Darmi di perbolehkan untuk tetap berada di sana asal tidak menimbulkan keributan.
Bagaimanapun juga, awalnya anak-anak mbok Darmi keberatan ibu mereka di bawa ke rumah sakit karena mereka ingin selalu berada di dekat mbok Darmi, takut-takut jika itu adalah saat-saat terakhir mbok Darmi dan mereka tidak ada di sisinya.
Dari sore hingga malam, kondisi mbok Darmi cukup stabil. Elvan dan Vada masih setia menunggui mbok Darmi. Elvan terus berada di samping mbok Darmi, sesekli ia mengusap sudut mata mbok Darmi yang mengeluarkan air mata. Entahlah, wanita berusia senja tersebut seperti ingin mengatakan sesuatu namun tidak bisa. Dan setiap kali Elvan mengusap sudut matanya yang berair menggunakan tisu, mbok Darmi selalu melengos seolah menghindari tatapan Elvan.
"Mbok jangan nangis, mbok harus sembuh ya? Elvan akan melakukan apapun demi kesembuhan mbok. Nanti kalau kondisi mbok sudah lebih baik lagi, kita ke Jakarta kalau perlu ke luar negeri, mencari pengobatan terbaik buat mbok. Yang penting mbok sembuh,"
Vada bisa melihat betapa Elvan menyayangi mbok Darmi. Wanita yang selalu ada untuknya dalam keadaan apapun. Baru kali ini Vada melihat sisi lain dari Elvan yang begitu lembut, penyayang dan penuh kasih.
Vada jadi penasaran, jika hubungan emosional Elvan dengan mbok Darmi sedekat itu, lalu bagaimama demgan kedua orang tuanya? Suaminya tersebut tak pernah seklipun mengungkit soal mereka. Pernah Vada bertanya sekali soal kedua orang tuanya, tapi pria itu justru marah dan memilih pergi. Entahlah, apa yang menyebabkan Elvan begitu jauh dengan mereka. Baik jarak maupun hatinya.
"Mbok mau kan nanti ikut ke Jakarta lagi?" tanya Elvan.
__ADS_1
"Mbok bisa dengar Elvan ngomong kan? Kalau bisa, kedipkan mata simbok!" dan mnok Darmi langsung mengedipkan matanya kembali.
Elvan tersenyum, hatinya benar-benar lega sekarang.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kang Parman mendekati Elvan yng masih setia duduk di samping mbok Darmi.
"Sudah malam, sebaiknya tuan muda mengajak nyonya pulang saja, kasihan nyonya pasti tidak nyaman tidur di sini. Biar simbok saya dan Parmin yang jaga di sini," ucap Parman.
Sementara istri Parman dan Parmin pulang saat mengetahui kondisi mbok Darmi stabil sore tadi karena ada anak-anak yang harus mereka urus.
Elvan menoleh, ia melihat Vada sudah tertidur di sofa. Pasti istrinya itu kelelahan, pikirnya.
Sebenarnya Elvan tak ingin meninggalkan mbok Darmi, tapi melihat istrinya tidur dengan wajah lelah seperti itu membuatnya tak tega juga jika harus mengajaknya tidur di sana.
Elvan kemudian melihat mbok Darmi, wanita itu terlihat tidur dengan tenang.
"Aku akan kembali ke sini besok pagi," ucap Elvan kemudian berdiri. Lagian kondisi simbok juga cukup stabil akta dokter saat di cek terkahir kali tadi sehingga ia sedikit lega meninggalakn rumah sakit.
" Elvan pulang dulu, mbok. Kasihan Vada sudah kelelahan. Besok pagi Elvan kesini lagi. Besok saat Elvan kesini, mbok harus lebih sehat,"
Mbok Darmi mengangguk dan tersenyum tipis . Namun sudut matanya meneteskan air mata. Elvan sempat mengelapnya sebelum menghampiri Vada di sofa.
Karena tak tega membangunkan Vada, Elvan langsung menggendong sang istri yanpa membangunkannya. Mungkin karena terlalu lelah sehingga Vada tak terusik sama sekali tidurnya saat tubuhnya berpindh dari sofa ke tangan gendongan Elvan.
Tentu saja, apa yang di lakukan oleh Elvan menyita perhatian sebagian orang yang ada di rumah sakit tersebut. Namun, Elvan cuek saja.
"Tuan muda, apa nona sakit? Kenapa malah di bawa keluar, kan sudah di rumah sakit, biar sekalian di periksa saja," ucap asisten Rio yang sudah menunggu di mobil.
"Dia hanya tidur, bukan pingsan. Cepat buka pintunya, berat!" titap Elvan. Untung saja ia mengatakannya saat Vada tidur lelap, coba kalau saat wanita itu terjaga, auto ngamuk di bilang berat pasti.
Elvan langsung masuk ke dalam mobil dan memposisikan kepala Vada di pahanya.
__ADS_1
Asisten Rio cukup heran karena Vada tidur sudah mirip orang pingsan, diapa-apain tidak terusik sama sekali. Bahkan wanita itu langsung mencari posisi ternyaman dengan merubah posisi tidurnya menjadi miring dan membenamkan wajahnya di perut Elvan.
"Kita akan kembali ke rumah mbok Darmi atau menginap di hotel, tuan muda?" tanya asisten Rio kemudian.
"Cari hotel terdekat saja!" sahut Elvan. Jika kembali ke rumah mbok Darmi ia merasa kejauhan. Entah kenapa meski tadi mbok darmi terlihat lebih baik namun perasaannya tidak enak.
"Baik tun muda," sahut asisten Rio.
Mobil pun melaju ke sebuah hotel yang tak jauh dari rumah sakit. Meski bukan hotel bintang lima tapi asisten Rio minta kamar yang paling bahus di sana demi kenyamanan tuan mudanya yang siapa tahu akan bulan madu sekaligus.
š»š»š»
Hingga pukul dua belas malam, entah kenapa Elvan merasa gelisah dan tak bisa tidur. Pikirannya tak tenang, tapi tak tahu kenapa. Apa karena kepikiran mbok Darmi? Tapi, saat ia hendak meninggalkan rumah sakit tadi mbok Darmi menunjukkan perkembangan yang sangat baik.
Elvan yang kini sedang duduk di tepi ranjang menoleh kepada istrinya yang tidir dengan gelisah. Elvan segera mengusap-usap punggung Vada yang entah sedang bermimpi apa tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak?" batinnya bertanya.
Hingga pukul satu, Elvan tak juga bisa tidur pun demgan Vada yang sering sekli terlihat gelish dalam tidurnya, "Sayang, ini abang. Tidur yang tenang ya, ada abang di sini!," bisik Elvan sambil memeluk Vada dan wanita itu kembali tenang hingga detik kemudian terdengar suara pintu kamarnya di ketuk.
Dan ternyata asisten Rio yang mengetuk pintu tersebut, "Tuan muda, ini kang Parman menelepon saya, katanya sejak tadi menghubungi ke nomor tuan tidak bisa," ucap asisten Rio.
"Ponselku mati, ada apa?"
Asisten Rio menyerahkan ponselnya kepada Elvan, "Sebaiknya Anda bicara sendiri dengan kang Parman," ucapnya lirih.
Elvan menatap curiga asistennya tersebut yang wajahnya sudah tampak berbeda sejak ia membuka pintu tadi. Ia lalu mengmbil ponsel tersebut dan mengarahkannya ke telinganya.
"Halo kang, ini Saya..." ucap Elvan.
Wajah Elvan seketika berubah, tatapannya langsung kosong menerawang, "Kang Parman jangan bercanda, mana mungkin simbok meninggal, tadi waktu aku tinggal dia baik-baik saja," ucap Elvan menolak percaya dengan apa yang di katakan oleh anak mbok Darmi tersebut.
__ADS_1
Namun, suara kang Parman di seberang telepon yang menangis sedih membuat Elvan mau tidak mau percaya jika mbok Darmi memang sudah tidak ada. Seketika tubuhnya lemas seperti tak bertulang.