
"Kya ndak bisya napas, uncle!!" suara dari bibir mungil Kyara membawa Elvan kembali pada kenyataan dan tersadar dari penyesalan terdalamnya.
Elvan langsung mengurai pelukannya, "Maaf," ucapnya, masih di liputi perasaan menyesalnya.
"Uncle nanis?" Kyara mengusap air mata Elvan yang sedikit membasahi pipinya.
"Tidak, uncle hanya kelilipan saja barusan," kilah Elvan. Tak mungkin ia jujur kepada putrinya jika ia memang menangis, bisa anjlok imagenya.
Namun, Kyara justru tersenyum meledek ,"Uncle syama kayak mama, syuka nanis kalau kelilipan," ucapnya polos.
Elvan kembali tercengang dengan perkataan Kyara. Benarkah Vada menangis karena kelilipan, atau karena cobaan yang begitu berat harus wanita itu lalui sendiri, tanpa ada tempat untuk berbagi dan bersandar? Ia benar-benar tak saabr ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Vada dan berharap Bisa memperbaiki semua kesalahannya di masa lampau.
"Uncle mau pelmen? Kya ada banak! Ompapa belikan!" celoteh Kyara, karena setip kali ia menangis, pasti akan diiming-imingi permen yang notabennya makanan yang paling dilarang untuk di konsumsi sering oleh Vada.
Mendengar Kyara menyebut Andra dengan Ompapa, membuat hatinya cemburu, harusnya ia yang di panggil papa, bukan pria lain. Huh, rasanya ia ingin sekali melayangkan protes dan mengatakan jika dialah papanya bukan Andra atau yng lainnya.
Namun, pasti Kyara akan kaget, semua perlu hati-hati. Ia memang harus bersabar sedikit lagi untuk bisa mengklaim kepemilikannya tersebut.
Yang paling penting sekarang adalah meluruskn kesalahpahaman Vada terlebih dahulu, memastikan jika Masih ada cinta dan keinginan dari wanita itu untuk kembali dengannya.
"Tidak, itu buat Kya saja, uncle tidak suka permen," ucap Elvan.
"Baiklah... Kya mau Syusyu, Uncle! Hausss!" keluh anak itu kemudian.
Ingat tujuannya ke dapur, Elvan lekas berdiri untuk mencari letak susu Kyara.
"Bopong!" pinta Kyara seraya merentangkan kedua tangannya. Elvan tersenyum dan langsung menyambut tubuh mungil itu, "Kita cari dulu ya, susunya. Kya tahu dimana letaknya?" tanya Elvan.
"Di syana!" tunjuk Kyara.
Elvan langsung mengambil susu yang biasa Kyara minum. Elvan tersenyum melihat mereknya. Vada memang berusaha keras untuk memberikan yang terbaik untuk putri mereka.
Elvan berpikir sejenak, bagaimana ia akan mulai membuat susu tersebut, Ia masih bingung.
__ADS_1
"Ambil dotnya, Uncle!" pinta Kyara. Dan hanya dituruti oleh Elvan.
Elvan hendak mengambil susu untuk di masukkan ke dalam dot, namun di sergah oleh Kyara.
"Ail anet dulu, uncle!" perintah Kyara dan Elvan hanya manut saja sesuai petunjuk Kyara.
"Syusyunya dua sendok!" ucap Kyara lagi. Elvan melakukannya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sedikitpun. Baru kali ini ia begitu patuh di suruh-suruh, anak kecil pula yang menyuruhnya.
Tapi, Elvan yakin Kyara lebih berpengalaman dalam hal susu-menyusu. Karena anak itu pasti merekam setiap kali ia melihat atau mendengar Vada membuatknnya susu hingga hapal di luar kepala.
"Minum susunya di sini saja, ya? Di kamar mama lagi istirahat," ujar Elvan menunjuk sofa ruang tamu.
Kyara merangkak naik ke sofa, ia meminta Elvan untuk mengambilkan Mothy. Sekembalinya dari mengambil Mothy, Kyara meminta Elvan untuk rebahan di sofa. Bagai sapi dicucuk hidungnya, Elvan hanya manut saja. Rupanya Kyara juga ikut tiduran di samping Elvan dan menggunakan lengan ayah kandungnya tersebut sebagai bantal.
"Ya ampun! maaf Vada, aku jatuh cinta lagi.... Pada anak kita," batin Elvan. Ia terlalu gemas dengan Kyara.
.
.
.
Pelan-pelan Elvan mengambil tangannya dari bawah kepala Kyara. Lalu ia memindahkannya ke dalam kamar, di samping Vada.
Elvan kembali mengecek kondisi Vada, panasnya belum juga turun. Ia mengganti kompres di kening Vada. Malam itu, Elvan terua menjaga Vada. Tak sedikitpun ia membiarkan matanya terpejam. Hingga saat subuh datang, ia justru ketiduran.
Perlahan, Vada membuka matanya. Ia mengambil handuk kecil di keningnya lalu menoleh, dilihatnya Kyara masih pulas memeluk Mothy dan anak itu sudah berganti pakaian menjadi piyama.
Pandangan Vada beralih pada sosok pria yang kini sedang duduk dan menelungkupkan kepalanya di sisinya tersebut.
"Ternyata bukan mimipi," batinnya. Seingatnya ia merasa diurus oleh Elvan, namun ia pikir itu hanyalah halusinasinya saja karena demam tinggi. Ternyata benar, pria itu yang mengurusnya semalaman.
Ragu-ragu, Vada menyentuh kepala pria yang masih berstatus sebagai suaminya tersebut.
__ADS_1
"Eh, udah bangun," Elvan mengangkat keoalany saat merasakan usapan lembut di kepalanya. Cepat-cepat Vada menarik tangannya dari kepala Elvan.
"Bagaimana, udah enakan?" tanya Elvan. Vada mengangguk, "Makasih, bang udah merawat aku dan juga membantu jaga Kyara," ucap Vada.
Elvan tersenyum dan mengangguk samar,"Kamu istirahat, aku akan buatkan bubur. Sekaian untuk Kyara," ucapnya sembari bangkit dari duduknya.
Vada hendak mencegahnya karena tak ingin merepotkan Elvan lebih jauh lagi, namun terlambat. Pria itu sudah menghilang dari pandangannya terlebih dahulu.
.
.
.
Vada menyuap bubur buatan Elvan sendok demi sendok hingga habis. Rasanya masih sama seperti dulu pria itu membuat, tak ada kemajuan tapi tetap ia Makan sampai habis. Berbeda dengan Kyara yang terlalu jujur mengatakn jika buburnya tidak enak. Alhasil, Elvan menyuruh Rio memesankan makanan untuk anak itu.
Saat Vada hendak memandikan Kyara, Elvan mencegahnya, menyuruhnya untuk tetap beristirahat, "Biar aku yang mandiin, Kya," ucapnya. Lagian Kyara hari ini begitu manja dengan Elvan. Apa-apa mau sama uncle handsome terus. Alhasil, kamar mandi kini penuh dengan busa yang di buat mainan oleh pasangan ayah dan anak itu. Jika Vada melihatnya, pasti ia akan kembali pusing melihat kekacauan yang diciptakan keduanya.
Setelah memastikan Kyara sudah bersih, rapi dan wangi, Elvan menyalakan televisi dan dan mencari saluran khusus untuk balita untuk di tonton Kyara.
"Mau syusyu, Uncle!" ucap Kyara dan Elvan langsung pergi ke dapur untuk membuatkannya.
Vada yang merasa tubuhnya sudah jauh lebih sehat, menghampiri Elvan di dapur," Sekarang aku udah sehat, kalau abang mau pulang silakan. Aku Bisa mengurus Kyara sendiri, abang bisa pulang sekarang. Dan.. Terima kasih atas bantuanya," ucapnya yang mana membuat Elvan menghentikan aktivitasnya yang sedang menaruh susu di dalam botol dot lalu menoleh.
" Aku juga ingin mengurus Kyara," ucap Elvan.
" Tapi, bang.... "
" Sampai kapan kamu akan menyembunyikan fakta kalau aku jug berhak mengurusnya, Vada?"
"Maksud abang apa, Kyara anakku, kenapa abang merasa perlu merawatnya? Itu tugasku sebagai ibunya,"
Elvan mendengus, sebenarnya ia tak ingin berdebat karena Vada yang masih belum sehat total, tapi ia juga sudah tak tahan lagi.
__ADS_1
Elvan berjalan mendekati Vada, lalu menyentuh kedua bahu wanita itu," Bukan hanya tugasmu sebagai ibunya, tapi juga tugasku sebagai ayah kandungnya!" ucap Elvan lembut namun tegas.