
Jeder!!!!!
Bagai di sambar petir di siang bolong yang cerah tanpa mendung apalagi hujan. Mirza menatap Vada tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Shock, tentu saja Mirza merasa shock. Ia tak menyangka Vada akan menolak lamarannya.
Vada tak tahu harus bagaimana cara menagtakannya. Sebaik apapun ia merangkai kat, pasti akan tetap menyakitkan bagi pria di depannya.
Tapi inilah yang harus ia lakukan. Ia tak mungkin terus membohongi Mirza. Sebelum terlalu jauh, ia harus bersikap tegas akan hububgannya dengan Mirza.
"Sayang, jangan bercanda. Ini nggak lucu, bukankah ini yang selama ini kamu tunggu?" ucap Mirza. Ia berusaha meraih tangan Vada kembali, namun Vada justru menarik tangannya dari atas meja.
Vada menggeleng, "Aku serius mas. Sebelumnya aku minta maaf. Hal ini sebenarnya sudah lama mau aku katakan sama mas Mirza. Tapi, kita ketemunya baru sekarang. Maaf mas, sebaiknya hubungan kita sampai di sini saja,mas Mirza berhak mendapat yang lebih baik dari aku," ucap Vada sebisa mungkin tidak menangis. Di bawah meja, jari jemarinya saling meremat demi memberi kekuatan untuknya. Ini keputusan yang tepat, semuanya harus berakhir dengan jelas sekarng.
Mirza terlihat sekali shock, ia tersenyum pilu,"Ini benar-benar tidak lucu. Katakan kenapa? Kenapa kamu malah memutuskan hubungan kita? Katakan apa salahku? Apa karena aku terlalu sibuk jadi kamu merasa di abaikan? Kamu tahu kan kalau aku lagi berusaha membangkitkan perusahaan yang sudah hampir collaps? Dan sekarang aku di sini, menepati janjiku buat lamar kamu. Tapi kenapa kamu malah melakukan ini?"
"Maafkan aku, tapi ini lebih baik untuk kita berdua. Mungkin kita memang tidak ada jodohnya. Mas Mirza berhak bahagia dan mendaat wanita yang kebih baik dari aku,"
Mirza berdecak seraya tersenyum getir, "Bukankah kau tahu, kebahagiaanku selama ini itu kamu. Dan itu bukan alasan buat kita mengakhiri semuanya, kamu wanita terbaik yang pernah aku kenal,"
Vada terdiam, ia tak tahu lagi harus bagaimana ia bicara. Ia benar-benar bingung. Melihat ekspresi Vada, membuat Mirza yakin gadis di depannya tidak main-main.
"Apa hubungan kita selama ini tidak ada artinya untukmu? Sama sekali?" tanya Mirza.
Vada semakin kuat meremat jari jemarinya, beberapa tahun terakhir hanya Mirza yang ia punya. Hanya Mirza yang selalu ada untuknya. Banyak hal mereka lalui bersama. Pria itu tak ubahnya Seorang malaikat tak bersayao bagi Vada. Bagaimana mungkin tak ada artinya.
"Kamu tahu, aku sangat mencintai kamu. Selama ini tak pernah ada wanita lain selain kamu. Aku nggak bisa kalau kamu mengakhiri semuanya begitu saja,"
"Maaf tapi ini sudah keputusanku mas, aku harap mas Mirza bisa menerimanya dengan lapang,"
__ADS_1
Mirza mengusap wajahnya kasar. Sejak tadi hatinya sudah merasa sakit. Tapi ia masih berusaha mengajak Vada bicara baik-baik.
"Apa aku ada salah selama ini?" tanya Mirza.
Vada menggeleng, kenapa waktu terasa lama. Apa ini tidak bisa berakhir begitu saja tanpa ada yang merasa tersakiti? Kenapa harus seperti ini. Ia ingin sekali segera pergi dari sana, rasanya sudah tak tahan menahan sesak di dadanya. Apalagi jika melihat wajah Mirza yang tampak begitu terpukul sejak tadi namun pria itu masih bersikap baik, bahkan tak membenatak sedikitpun untuk meluapkan rasa kecewa dan sakit hatinya.
"Terus kenapa? Selama ini hubungan baik-baik saja. Bahkan sekarang orang tuaku sudah merestui hubungan kita,"
"Give me a reason... Yang bisa buat aku mau untuk melepaskan kamu, alasan yang masuk akal," tukas Mirza pada akhirnya.
"Karena aku sudah menikah," jawaban Vada sukse membuat Mirza mengangkat wajahnya, menatap lekat wajah wanita di depannya, "Tidak mungkin..." Mirza menggeleng tak percaya. Ia menatap wajah Vada intens, demi mencari kebohongan dari kalimat yang baru saja keluar dari mulut wanita tersebut.
Namun, sama sekali tak Mirza temukan kebohongan di sana. Jantungnya terasa seperti di tusuk ribuan jarum. Kenyataan macam apa ini. Lagi-lagi hatinya seperti di sambar petir, begitu menyakitkan.
"Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini padaku, Vada? Siapa pria itu? Kapan kalian menikah? Apa dia lebih baik dariku sehingga kamu tega melakukan ini padaku?" hancur sudah harapan Mirza.
Mirza bangkit dari duduknya. Ia mendekati Vada. "Katakan siapa pria itu?!!!" tanya Mirza frustrasi. Mirza mengguncang bahu Vada. Wanita itu sedikit meringis karena Mirza terlalu kuat mencengkeram bahunya.
"Tuan Adhitama Elvan Syahreza, dia suamiku," jawab Vada dengan nada bergetar. Begitu sulit menyebut nama suaminya itu dengan bibirnya di depan Mirza.
Deg!
Lagi-lagi Mirza seperti di hujam ribuan jarum di hatinya. Nama itu jelas tak asing baginya. Pelan, Mirza melepas cengkeramannya dari bahu Vada. Ia duduk membenturkan punggungnya dengan keras di sandaran kursi. Tak tahu lagi harus bicara apa. Hatinya benar-benar terpukul.
"Kamu lebih mencintainya dari aku? Kamu bahagia menikah dengannya?"
Vada tak bisa menjawab, "Hanya itu yang ingin aku katakan sama mas Mirza. Aku nggak mungkin ngomong lewat telepon sama mas Mirza, jadi maaf kalau aku baru bisa mengatakannya sekarang. Aku harap semoga MAS Mirza bisa menerima keputusan ini. Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti mas Mirza, sama sekali tidak. Selamat tinggal," sudah tak tahan lagi, Vada memilih segera pergi dari sana. Ia meraih tasnya lalu berlari keluar cafe meninggalkan Mirza yang masih tak mengerti kenapa semua bisa menjadi seperti ini. Mirza mengusap wajahnya kasar.
"Arrrghhh!" teriaknya frustrasi. Di tatap nya dengan nanar cincin yang tergeletak di depannya.
__ADS_1
"Kenapa semua jadi begini. Kenapa kamu melakukan ini padaku, Vada," lirih Mirza. Semua terasa mimpi, namun begitu nyata rasa sakit yang ia rasakan saat ini.
Roni yang sejak tadi mengintip, ikut merasa sesak, tak bisa di bayangkan jika ia berada di posisi salah satu dari keduanya. Ia menghampiri Mirza lalu menepuk bahu temannya tersebut, Mirza menoleh, "Lo udah tahu?" tanyanya dan Roni mengangguk.
"Breng sek! Kenapa lo nggak nggak ngasih tahu gue?" umpat Mirza.
"Sorry, yang berhak ngasih tahu lo Vada sendiri. Bukan gue," sahut Roni.
"Lo lihat kan, dia udah hianatin gue. Lo tahu kan Ron, gue cinta mati sama dia. Gue nggak bisa tanpa dia! Nggak bisa!"
"Lo harus bisa menerima kenyataannya, Za. Nggak semua yang kita inginkan menjadi kenyataan. Nggak semua yang kita lihat itu seperti yang kita pikirkan, ini juga sulit buat Vada. Tapi lo harus berusaha nerima takdir, sama seperti Vada yang berusaha menerima takdirnya," ujar Roni menasihati. Meski ia yakin jika berada di posisi mereka, belum tentu ia bisa.
Mirza tertegun, diam dengan rasa sakit dan sejuta pertanyaan yang masih memenuhi kepalanya, ia masih belum bisa percaya dengan apa yang terjadi. Hubungannya yang selama ini baik-baik saja harus kandas secara tiba-tiba.
š¤š¤š¤
Di dalam taksi, Vada teru menangis. Tak ada yang tahu bagaimana hancur ya hatinya saat ini. Tak ada yang tahu bagaimana ia merasa menjadi wanita paling jahat di dunia ini. Dia menyakiti perasaan pria sebaik Mirza yang selama ini sudah banyak berjuang untuknya. Hanya kata maaf yang bisa ia katakan berkali-kali.
"Nona, kita mau kemana? Sejak tadi nona hanya mengatakan untuk jalan tapi tidak tahu tujuan kemana, kita sudah muter dua kali," kata sopir taksi. Ia melirik Vada dari kaca spion tengah. Kasihan, cantik-canyik patah hati, pikir sopir taksi tersebut.
"Berhenti saja di sini, Pak," ucap Vada saat ia melihat sebuah taman.
Vada berjalan dengan langkah gontai menuju sebuah kursi yang terletak di bawah pohon yang ada di taman. Dimana di depannya terdapat air mancur. Ia butuh waktu untuk sedikit meredam rasa perih di hatinya sebelum kembali ke mansion. Suasana taman yang cukup sepi, mampu membuatnya leluasa melupakan segala kesedihannya. Menangis di tengah kegelapan malam yang ada sehingga tak ada satupun manusia yang melihat air matanya.
Meski sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk akhir yang seperti ini untuk hubungannya dengan Mirza, namun perpisahan itu tetaplah terasa sangat menyakitkan untuknya. Kini semua cerita mereka tak akan pernah sama lagi. Laki-laki yang ia cintai kini terluka olehnya. Tapi tahukah, jika hati Vada juga sama hancur ya saat ini. Vada terus menangis di temani suara gemericik air mancur di depannya.
Vada memejamkan matanya. Semua memory kebersamaannya bersama Mirza, berputar secara bergantian di kepalanya.
"Tak pernah ada kata menyesal untuk mencintaimu. Namun, yang paling aku sesalkan adalah hubungan kita yang tak bisa dilanjutkan. Maaf, untuk semuanya dan aku tak akan pernah melupakanmu karena kamu pernah menjadi orang yang mengisi hari-hari indahku." batin Vada.
__ADS_1
š¤š¤š¤