
Elvan memandang Rio, "Maksudnya...?" tanyanya meminta penjelasan.
"Sorot mata nona mengatakan hal lain, ketika melihat Anda. Matanya tidak bisa berbohong jika ia juga merindukan Anda. Mungkin selama ini dalam diam, ia juga menunggu kedatangan Anda. Bahkan kemarin saat Anda memeluknya, nona menangis," ucap Rio. Ia memang tidak tahu apa yang di bicarakan oleh keduanya kemarin, tapi saat Vada menghapus air matanya, ia melihatnya dengan jelas, berkat bantuan kaca matanya yang pasti.
" Tapi dia sudah menikah lagi, yo. Apa aku harus merebutnya dari Andra?"
"Kenapa tidak? Jika nonanya mau," sahut Rio enteng.
"Mulutmu!" hardik Elvan.
"Apa tuan muda yakin kalau Kyara itu anak tuan Andra? Dia sama sekali tidak mirip dengannya," cicit Rio.
"Maksudmu, Vada selingkuh dengan pria lainnya lagi? Gila! Pikiran macam apa itu, istriku tida seburuk itu! Dia wanita baik-baik!"
"Nah, itu maksud saya..."
"Ngomong yang jelas!" Elvan mulai kesal.
"Kyara memang mirip dengan nona, tapi lebih banyaj mirip Anda malahan. Saya yakin sebenarnya tuan muda juga menyadari itu sejak pertama kali ketemu anak itu. Dari bentuk wajah, lesung pipi, hidung, alis bentuk bibir. Hanya mata dan cerianya yang mirip nona. Selebihnya mirip tuan muda. Hampir delapan puluh persenlah mirip. Apalagi dengan photo tuan muda waktu kecil, tinggal di pakaikan wig, kalian seperti kembar. Bahkan nyebelinnya sama," Rio langsung mengatup setelah menyebut kalimat terkahirnya yang mendapat pelototan dari Elvan.
Elvan terdiam, Ucapan Rio memang benar. Ia memang sudah curiga sejak pertama kali bertemu Kyara. Apalagi perasaannya begitu kentara berbeda saat melihat anak itu. Ia pikir itu hanya perasaannya saja, tapi ternyata Rio juga memiliki kejanggalan seperti dirinya.
" Jika di hitung dari lama perginya nona, usia Kyara saat ini seharunya di produksi saat nona masih menjadi istri Anda jika nona melahirkan dalam kurun waktu yang normal sembilan bulan. Jika dilihat dari sifat nona, beliau bukanlah wanita yang dengan gampang kecantol pria lain. Masa sampai di sini langsung menikah, hamil dan melahirkan prematur," rupanya Rio diam diam. sudah memikirkan sedetail itu.
Yang menarik perhatian Elvan adalah kata-kata Rio yang mengatakan Kyara di produksi saat Vada masih menjadi istrinya. Apa itu artinya...
Elvan langsung mengambil ponselnya di samping kopinya yang sudah dingin di terpa angin senja.
"Halo, Ndra!" sapa Elvan setelah panggilannya terhubung.
"Ya, Van? Apa ada masalah? Aku kira kerja sama kita sudah deal, apa ada yang perlu di perbaiki?" tanya Andra.
"Soal itu tidak ada masalah. Aku cuma mau tanya alamat kamu, boneka anak kamu kemarin ketinggalan dan sekarang ada sama aku. Aku akan kesana untuk mengembalikannya," ucap Elvan.
"Oh jadi Mothy ada sama kamu? Astaga, Kya sampai nangis kejer kalau nyari bonekanya. Emmm tapi, sayangnya aku lagi di luar kota, jadi nggak bisa ambil ke tempat kamu," sahut Andra.
"Kasih saja alamat kamu, biar aku yang ke sana," ucap Elvan.
"Wah, jadi ngerepotin kamu, Van. Sebenarnya Kya nggak tinggal sama aku. Tapi sama mamanya,"
__ADS_1
"Kalian cerai?" entah kenapa Elvan spontan bertanya. Dan dari nadanya, ia senang jika hal itu benar.
"Hahaha, bukan begitu. Aku sama Sabrina, mamanya Kya belum menikah. Kya itu anak Sabrina, wanita yang aku cintai, jadi udah aku anggap anak sendiri. Nanti aku kasih alamat apartemennya kalau kamu nggak keberatan untuk mengantar ke sana. Soalnya jam segini, Sabrina udah mau tutup cafe kalau nggak weekend. Nanti malam juga Kya pasti nangis nyari Mothy," jelas Andra tanpa curiga.
Seulas senyum terbit dari bibir Elvan yang mengatup. Ternyata Vada bukan istri Andra dan Kyara bukan anak kandung Andra. Tapi ia juga cemburu ketika Andra dengan terang-terangan bilang kalau dia cinta Vada.
" Baiklah, langsung kirim saja alamatnya, aku tutup teleponnya," ucap Elvan sebekum menutup panggilannya.
Elvan langsung berdiri dan menyambar Mothy, "Kunci mobil!" pintanya pada Rio.
"Biar saya Antar, tuan mau kemana?" tanya Rio.
"Nggak usah ikut, lagi sakit perut begitu. Yang ada nanti buang gas terus, bau! Buat istirahat aja! Sini kuncinya!"
Riopun terpaksa memberikan kunci mobil kepada Elvan, "Tuan muda jangan nekat, jangan main pukul orang, ini di negara lain, jangan berulah. Apalagi sampai bunuh orang, itu dosa!" ucapnya yang tak mendengar apa yang dikatakan oleh Andra di telepon tadi jadi cemas dan curiga. Apalagi sekarang Elvan terlihat menggebu-gebu.
" Berisik!" Elvan taj menghiraukan celotehan Rio. Ia melenggang begitu saja menuju parkiran mobil.
.
.
.
Sekitar lima belas menit kemudian, Elvan telah memarkirkan mobilnya. Sebelum ia turun, ia mengambil boneka Kyara terlebih dahulu, "Bantu aku," ucapnya pada boneka tersebut.
Elvan langsung menuju ke lift yang akan mengantarkannya ke lantai 7 dimana apartemen Vada berada.
Dan kini Elvan sudah berada di depan apartemen Vada. Ia menghela napasnya dalam sebelum memencet bel. Rasanya begitu gerogi untuk memencet bel, seperti seseorang yang akan berkencan dengan kekasihnya untuk pertama kali.
Vada sedang memakaikan Kyara piyama tidur saat bel apartemen berbunyi.
"Mama, Ada tamu," ucap Kyara.
"Iya, sebentar. Kya pakai dulu celananya, baru mama lihat," sahut Vada sembari memakaikan celana piyama Kyara.
Percobaan pertama memencet bel tak membuahkan hasil, Elvan mencoba sekali lagi.
Tak lama kemudian, Vada mengintip untuk melihat siapa yang datang ke apartemen.
__ADS_1
" Abang?" gumamnya terkejut.
" Kenapa dia bisa tahu alamatku?" batin Vada. Ia ingin mengabaikannya, tapi justru tangannya malah membuka pintu.
Pintu terbuka saat Elvan hendak memencet bel untuk ketiga kalinya dan ia mengurungkan.
"Abang, kenapa ke sini? Tahu darimana alamatku?" tanya Vada.
"Aku mau mengembalikan ini pada Kyara," Elvan menunjukkan boneka di tangannya.
"Jadi, mothy ada sama abang?" ucap Vada. Ia langsung mengambil binek itu dari tangan Elvan.
"Terima kasih abang sudah mengembalikannya. Sekarang abang boleh pergi," ucap Vada. Ia hendak menutup pintu apartemennya kembali namun segera di tahan oleh Elvan.
"Abang...."
"Izinkan aku masuk, Vada," pinta Elvan.
"Untuk apa? Suamiku tidak ada di rumah, bang. Sebaiknya abang pergi," usir Vada.
Elvan justru tersenyum tipis mendengarnya, suami yang mana, pikirnya.
"Lalu, biarkan suamimu yang ini masuk duluan," ucap Elvan kemudian sembari tersenyum. Ia memeberikan sedikit dorongan kepada pintu lalu masuk dengan mudah.
"Abang!" Protes Vada yang tak terima dengn ucapan Elvan.
"Kenapa? Apa aku salah? Aku juga masih suamimu, Nevada," ucap Elvan santai.
"Nggak lucu!" seru Vada.
"Aku nggak lagi ngelawak," Elvan duduk sembari mengamati apartemen, tempat istrinya selama ini tinggal. Tidak besar apalagi mewah seperti penthousnya. Hanya berukuran tak lebih dari tiga puluh meter persegi dengan satu kamar tidur dan satu kamar mandi yang terpisah. Ruang tamu dan juga dapur menyatu tanpa sekat.
"Lalu abang mau apa? Bonekanya udah sama aku, nanti aku kasih sama Kya, apalagi?"
"Aku hanya ingin tahu, siapa ayah Kyara?"
Belum juga di jawab oleh Vada, Kyara sudah berlari ke arah Elvan dari kamar sembari berteriak.
"Uncle hancem!" seru Kyara yang langsung duduk di pangkuan Elvan.
__ADS_1