Wedding Trap By Mr. Introvert

Wedding Trap By Mr. Introvert
Chapter 110


__ADS_3

Vada tengah mencari tahu di internet tentang ciri-ciri wanita hamil karena Ia benar-benar merasa penasaran dengan perubahan yang terjadi dalam tubuhnya. Tak hanya berubah menjadi sangat sensitif najun juga tubuhnya yang lebih berisi. Padahal, sebelumnya mau makan sedijit atau banyak tidak pernah mempengaruhi berat badannya.


"ciri-cirinya sih hampir sama," gumam Vada seraya terus menggulir layar ponselnya.


Dari pada penasaran, akhirnya Vada memutuskn untuk membeli tespeck di apotik sekalian jalan-jalan karena ia merasa jenuh di apartemen sendirian.


"Mbak, kalau telatnya baru dua atau tiga hari apa udah bisa di cek?" tanya Vada kepada apoteker.


"Bisa kak, bahkan belum lewat tanggal datang Bulanpun kalau sudah terjadi pembuahan setelah tujuh sampai dua belas hari sudah bsia di cek. Semua tergantung keakuratan tespeck dan juga peningkatan kadar hormon hCG seorang wanita pada awal kehamilan," sahut apoteker.


"Oh gitu ya. Kalau begitu, beli lima ya, mbak?" ucap Vada tersenyum.


"Eh sepuluh juga nggak apa-apa mbak, nanti biar saya yakin sama hasilnya," ralat vada cepat.


Apoteker tersebut tersenyum heran. Tapi dia tetap memberikan sesuai jumlah yang di minta oleh Vada.


Setelah membeli tespeck, Vada berjalan menyusuri pertokoan untuk sekedar jalan-jalan. Ia mengambil ponselnya di dalam tas, "Abang lagi apa, ya? Sibuk nggak ya kalau aku telepon sekarang," gumamnya.


Vada mencoba menghubungi Elvan. Karena sejak berangkat kemarin, pria itu hanya membalas pesannya secara singkat yang mengatakan jika dirinya sudah sampai. Pagi ini juga ketika Vada ingin melakukan Video call karena ia tidak bisa menggigit bahu dan juga mendapatkan morning kiss secara langsung seperti biasa, Vada akan mengaihny secara online. Nanun, Elvan tak juga mengangkatnya, pria itu hanya mengiriminya pesan singkat yang lagi-lagi mengatakan jika dirinya sedang sibuk. Sangat sibuk.


Dan kali ini, panggilannya tak di angkat lagi oleh Sang suami, "Apa abang masih sibuk ya?" gumma Vada. Ia sama sekali tak menaruh curiga meski sebenarnya merasa sedih karena sebelumnya merek tak ada maslah ataupun pertengkaran saat Elvan berangkat. Ya, semuanya baik-baik saja, setidaknya itu yang bisa vada pikirkan demi melawan kesensitifannya akhir-akhir ini yang ia sendiri merasa sebak dengn sikapnya tersebut yang menjadi sangat moodi.

__ADS_1


Sekli lagi ia mencoba menelepon Elvan namun tak juga di jawab. Mencoba tetap berpikir positif, Vada kemudian mengirimkan pesan singkat untuk suaminya tersebut sebekum akhirnya ia mendekat ke penjual rujak yang sejak tadi sudah membuat air liurnya hampir menetes.


.


.


.


Perjalanan bisnis kali ini benar-benar tidak bisa Elvan nikmati. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang selain mencoba berpikir dan merenung tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Elvan langsung kembali ke hotel. Ia membuka sebuah map berisi informasi yang pagi tadi ia dapatkan dari asisten Rio.


"Aku benci wanita itu!" ucap Elvan geram seraya meremat kertas di tangannya yang menginformasikan jika benar photo yang ada di liontin milik Vada adalah ayahnya dan juga selingkuhannya.


"Aaarrrrghhhh!" Elvan menjambak rambutnya frustrasi. Ia benar-benar merasa kalut saat ini.


"Breng sek! Kenapa bisa begini?" umpatnya.


Tiba-tiba, ponselnya berdering. Elvan melihat nama sang istri memenuhi layar ponselnya. Ia mengabaikannya.


Bukannya tak mau mengangkat, tapi Elvan benar-benar tak tahu harus bicara apa kepada Vada. Yang pasti saat ini hanya akan membuatnya semakin marah dengan keadaan dan Vad akan jadi pelampiasannya jika ia mengangkat panggilan istrinya tersebut.

__ADS_1


Evan sangat membenci wanita yang tak lain adalah ibunya Vada, haruskah ia juga membenci Vada?


Mungkin saja rasa cinta bisa mengalahkan kebencian Elvan kepada Vada. Namun, tetap terasa sukit bagi Elvan. Kini ia menaruh benci dan cibta secara bersamaan terhadap wanita yang sama.


Rasa benci yang sudah terpatri dalam dirinya sejak kecil kepada ibunya Vada, bagaimana ia harus menyikapinya?


Sekali lagi ponselnya berdering, saat melihat potret sang istri yang memenuhi layar ponselnya, membuat hati Elvan begitu terasa teriris. Ia kini menyadari, Rasa cintanya untuk wanita itu sangat besar.


"Aaarrrgghhh!" dering ponsel itu sangat mengganggunya dan bukannya mengakat panggilan Vada, Elvan justru membanting melempar ponselnya.


Elvan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang lalu ia memijit kedua pelipisnya yang terasa sangat pening.


Detik kemudian, ponselnya bergetar tanda sebuah pesan masuk. Elvan meraba tempat di sampingnya lalu mengambil ponselnya.


"Abang masih sibuk ya? Sesibuk apapun, jngan lupa makan ya, jaga kesehatan," Elvan membaca pesan singkat dari Vada.


"Aku kangeeeeenn," Dan pesan terkahir yang masuk benar-benar membuat Elvan frustrasi. Apa yang harus ia lakukan sekarang. Apa yang harus ia lakukan terhadap pernikahanannya. Ia benar-benar tak bisa berpikir untuk saat ini.


Seberapa besarpun rasa cintanya untuk sang istri. Katakanlah rasa cinta itu bisa mengalahkan rasa bencinya, bukankah hal itu tetap tidak ada gunanya? Karena jika Vada adalah anak tuan Adijaya, berarti mereka adalah saudara seayah. Yang itu artinya pernikahan mereka tidak sah atau harus di batalkan.


"Aaarrhgggh!"

__ADS_1


Pletak!


Elvan melempar ponselnya ke lantai.


__ADS_2